SSV – Sebuah Bentuk Devosi

SSV - Sebuah Bentuk Devosi</p>
<p>Rekan-rekan Vinsensian…<br />
Ada yang menarik ketika mengikuti Pertemuan Nasional Komisi Liturgi (18-22 Juli) lalu. Dari hasil survey, salah satu bentuk devosi kepada orang kudus  adalah SSV – devosi kepada St, Vinsensius.<br />
Selama ini banyak orang berpandangan bahwa kegiatan devosional hanya berupa doa dan bukan aksi nyata. Lewat rangkuman Pernas ini, saya mau membagikan sedikit. Semoga karya kita sungguh merupakan pembaktian diri kepada Allah melalui orang-orang kecil.</p>
<p>Menemukan Kembali Spiritualitas Devosi</p>
<p>Rapat Pleno Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia yang diselenggarakan pada 18-22 Juli 2011 di Graha Wacana, SVD Family Centre, Jalan Raya Ledug 5 A, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Pertemuan yang dihadiri oleh para Utusan Keuskupan se-Indonesia, para Dosen Liturgi, dan anggota Dewan Pleno Komisi Liturgi KWI ini memilih tema: ”Menemukan Kembali Spiritualitas Devosi.”</p>
<p>Latar Belakang<br />
Pengalaman devosi merupakan suasana yang dominan dalam kehidupan umat. Devosi membantu umat untuk mengungkapkan hubungan dengan Allah dan untuk menumbuhkembangkan iman. Namun, seringkali devosi dilakukan semata-mata untuk menuruti perasaan pribadi tanpa memperhatikan kebenaran iman yang seharusnya terungkap di dalamnya dan tanpa memperhatikan dampaknya bagi sesama umat beriman. Selain itu, devosi yang dilakukan oleh umat pada umumnya didasari oleh kebutuhan pribadi umat dengan harapan bahwa Allah akan memenuhi kebutuhannya. Karena merasa puas dengan menjalankan devosi, banyak orang yang kemudian kurang menghayati dan kurang menghargai liturgi. Apalagi, liturgi dirasa sangat kering dan membosankan karena tidak sesuai keinginan dan perasaan pribadinya. Melihat kenyataan itu, seluruh anggota Gereja perlu memahami spiritualitas devosi, kaitan antara devosi dan liturgi, serta bagaimana menjalankan devosi secara benar dan sehat.</p>
<p>Devosi dan Liturgi<br />
Devosi. Dalam devosi orang mengungkapkan bakti kepada pribadi yang dihormati dan dikasihi. Dalam pemahaman religius, devosi diarahkan kepada Allah baik secara langsung maupun melalui orang kudus dengan berbagai cara dan sarana. Devosi yang bersifat personal itu dilakukan dalam kesadaran sebagai anggota Tubuh Kristus. Devosi diungkapkan dalam doa, madah, kebiasaan yang dikaitkan dengan waktu atau tempat tertentu, panji-panji, medali, busana, dan sebagainya. Devosi tidak terikat pada aturan resmi Gereja seperti liturgi. Gereja pun tidak mewajibkan orang beriman untuk melaksanakannya, walaupun kegiatan ini sungguh bernilai dan disukai. Penyelenggaraan devosi, baik urutan maupun unsur-unsurnya, dapat berubah-ubah sesuai dengan keinginan orang yang melaksanakannya. Karena lebih mengikuti keinginan pribadi, devosi tidak terikat pada kebersamaan, walaupun orang-orang yang memiliki keinginan yang sama dapat melakukannya secara bersama-sama.<br />
Liturgi. Berbeda dari devosi, liturgi merupakan kegiatan resmi Gereja yang dilakukan bersama oleh umat demi kepentingan umum dan dengan mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh Gereja. Dari dirinya sendiri tindakan liturgis mengandung nilai keselamatan. Seluruh perayaan, yang dilaksanakan dengan pola resmi yang telah disepakati, membuat umat beriman mengalami kehadiran Allah dan karya-Nya yang menyelamatkan. Liturgi dipandang sebagai kegiatan yang harus dilaksanakan oleh umat beriman agar hidupnya dalam persekutuan Gereja bertumbuh dan berkembang dengan baik.<br />
Keunggulan Liturgi. Gereja menghargai kedua kegiatan ini karena masing-masing mempunyai peran khusus dalam menumbuhkembangkan iman. Walaupun demikian, liturgi lebih unggul dibandingkan semua bentuk doa Kristiani. Keunggulan itu terletak pada hakikat liturgi sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus untuk memuliakan Allah dan menguduskan manusia. Karena itu, devosi tidak boleh menjadi saingan dari liturgi. Devosi harus selaras dengan liturgi kudus: bersumber pada liturgi dan menghantar umat kepada perayaan liturgi (Sacrosanctum Concilium 13). Semua kegiatan devosional harus memuncak pada perjumpaan dengan Allah dalam perayaan liturgis.</p>
<p>Penyerasian<br />
Devosi dan Masa Liturgi. Devosi merupakan sarana yang efektif bagi umat untuk menghayati iman dan meraih kesucian. Karena itu, Gereja mengajak umat mempergunakan Masa Liturgi sebagai kesempatan untuk mengarahkan diri pada misteri iman yang dirayakan. Misalnya, dalam masa Prapaskah, Jalan Salib dapat menjadi sarana yang ampuh untuk mengajak umat merenungkan misteri salib Kristus dan memandang salib sebagai jalan untuk bersatu dengan Kristus. Agar umat semakin dapat menghayati nilai spiritual di masa liturgi tertentu, perlu ditawarkan bentuk-bentuk devosi tertentu. Misalnya, pada masa prapaskah, selain jalan salib, bisa juga diadakan devosi kepada Wajah Kristus dan Ibadah Tujuh Sabda; pada masa adven, ketika perayaan liturgi menampilkan peran Yohanes dan Maria, dapat juga dianjurkan devosi kepada kedua orang kudus itu.<br />
Devosi dan Perayaan Liturgi. Dalam sejarah liturgi Gereja beberapa unsur devosional telah diangkat menjadi bagian dari perayaan liturgis setelah melewati proses pembentukan yang dilakukan di bawah kewenangan Gereja. Misalnya, perarakan daun palma menggantikan Ritus Pembuka dalam misa mengenangkan sengsara Tuhan dan perarakan Sakramen Mahakudus menggantikan Ritus Penutup dalam misa pengenangan perjamuan Tuhan. Proses integrasi unsur devosi ke dalam liturgi ini telah ditentukan dengan kriteria dan norma liturgis yang berlaku, sehingga tidak sembarang orang diperkenankan melakukannya.<br />
Devosi dan budaya. Umat yang hidup dalam suasana dan jiwa budaya tertentu dimungkinkan untuk mempergunakan unsur-unsur budaya dalam kegiatan devosional. Contoh, pohon natal biasanya berupa pohon cemara dapat diganti dengan pohon lain yang mempunyai nilai khusus dalam budaya setempat dan makna simbolis yang serupa. Dalam hal ini hendaknya diperhatikan ajuran berikut: “tidak boleh memasukkan ritus-ritus yang dirasuki oleh takhyul ke dalam Gereja, penyembahan berhala, animisme, dan balas dendam atau hal-hal yang tekait dengan seks” (Varietates Legitimae, 48).</p>
<p>Devosi yang Benar dan Sehat<br />
Devosi dan Pertobatan. Devosi yang benar dan sesuai dengan kehendak Allah dalam kesatuan Gereja Katolik mewujudkan gerakan hidup rohani yang akan menghadirkan wajah Gereja yang kudus. Devosi harus didasarkan pada perjumpaan orang beriman dengan Allah, melalui Kitab Suci, sakramen-sakramen, dan karya kasih, serta dalam hati nurani umat beriman. Perlu diingatkan kembali bahwa devosi yang sejati tidak didasari harapan agar Tuhan memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi dengan semangat untuk bertobat supaya dapat hidup dalam kesalehan sebagai anggota tubuh Kristus.<br />
Devosi dan Pelayanan. Melalui devosi yang sehat diharapkan umat bertumbuh dalam iman dan kasih persaudaraan sebagai Gereja. Penghayatan devosi yang sehat membuahkan karya kasih di tengah masyarakat.</p>
<p>Kepedulian dan Kesepakatan<br />
Komisi liturgi keuskupan perlu memberi bimbingan yang bijaksana dan berkelanjutan kepada umat agar: 1) memiliki pemahaman yang benar dan baik tentang spiritualitas, tata cara, dan makna dari unsur-unsur devosional (gambar, doa, waktu, lambang), 2) menjalankan devosi sehingga dapat lebih menghayati perayaan liturgi, terutama Ekaristi.<br />
Untuk menjalankan proses katekese ini Komisi Liturgi Keuskupan perlu mengupayakan: 1) materi yang disusun secara sistematis supaya dapat dipahami oleh umat pada umumnya, 2) sarana yang memadai dan efektif, 3) pembinaan tenaga-tenaga pengajar agar memiliki kompetensi dalam bidang ini, 4) dukungan dari pihak-pihak yang bertanggung jawab langsung atas pembinaan iman umat.<br />
Seluruh rangkaian pertemuan ini telah melalui beberapa tahap yang meliputi: survei untuk mencari data faktual, refleksi bersama dengan bantuan para narasumber, serta merumuskan kepedulian dan kesepakatan. Selanjutnya diharapkan para peserta menindaklanjuti kesepakatan yang telah dicapai dalam pertemuan ini sesuai dengan keadaan di tempat karya masing-masing.</p>
<p>Graha Wacana – Prigen, 21 Juli 2011<br />
Atas nama para peserta</p>
<p>Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF</p>
<p>Oleh : Deddy Dismas” /></a></td>
<td align=
Erik Subiyanto 7:59am Aug 3
SSV – Sebuah Bentuk DevosiRekan-rekan Vinsensian…
Ada yang menarik ketika mengikuti Pertemuan Nasional Komisi Liturgi (18-22 Juli) lalu. Dari hasil survey, salah satu bentuk devosi kepada orang kudus adalah SSV – devosi kepada St, Vinsensius.
Selama ini banyak orang berpandangan bahwa kegiatan devosional hanya berupa doa dan bukan aksi nyata. Lewat rangkuman Pernas ini, saya mau membagikan sedikit. Semoga karya kita sungguh merupakan pembaktian diri kepada Allah melalui orang-orang kecil.

Menemukan Kembali Spiritualitas Devosi

Rapat Pleno Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia yang diselenggarakan pada 18-22 Juli 2011 di Graha Wacana, SVD Family Centre, Jalan Raya Ledug 5 A, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Pertemuan yang dihadiri oleh para Utusan Keuskupan se-Indonesia, para Dosen Liturgi, dan anggota Dewan Pleno Komisi Liturgi KWI ini memilih tema: ”Menemukan Kembali Spiritualitas Devosi.”

Latar Belakang
Pengalaman devosi merupakan suasana yang dominan dalam kehidupan umat. Devosi membantu umat untuk mengungkapkan hubungan dengan Allah dan untuk menumbuhkembangkan iman. Namun, seringkali devosi dilakukan semata-mata untuk menuruti perasaan pribadi tanpa memperhatikan kebenaran iman yang seharusnya terungkap di dalamnya dan tanpa memperhatikan dampaknya bagi sesama umat beriman. Selain itu, devosi yang dilakukan oleh umat pada umumnya didasari oleh kebutuhan pribadi umat dengan harapan bahwa Allah akan memenuhi kebutuhannya. Karena merasa puas dengan menjalankan devosi, banyak orang yang kemudian kurang menghayati dan kurang menghargai liturgi. Apalagi, liturgi dirasa sangat kering dan membosankan karena tidak sesuai keinginan dan perasaan pribadinya. Melihat kenyataan itu, seluruh anggota Gereja perlu memahami spiritualitas devosi, kaitan antara devosi dan liturgi, serta bagaimana menjalankan devosi secara benar dan sehat.

Devosi dan Liturgi
Devosi. Dalam devosi orang mengungkapkan bakti kepada pribadi yang dihormati dan dikasihi. Dalam pemahaman religius, devosi diarahkan kepada Allah baik secara langsung maupun melalui orang kudus dengan berbagai cara dan sarana. Devosi yang bersifat personal itu dilakukan dalam kesadaran sebagai anggota Tubuh Kristus. Devosi diungkapkan dalam doa, madah, kebiasaan yang dikaitkan dengan waktu atau tempat tertentu, panji-panji, medali, busana, dan sebagainya. Devosi tidak terikat pada aturan resmi Gereja seperti liturgi. Gereja pun tidak mewajibkan orang beriman untuk melaksanakannya, walaupun kegiatan ini sungguh bernilai dan disukai. Penyelenggaraan devosi, baik urutan maupun unsur-unsurnya, dapat berubah-ubah sesuai dengan keinginan orang yang melaksanakannya. Karena lebih mengikuti keinginan pribadi, devosi tidak terikat pada kebersamaan, walaupun orang-orang yang memiliki keinginan yang sama dapat melakukannya secara bersama-sama.
Liturgi. Berbeda dari devosi, liturgi merupakan kegiatan resmi Gereja yang dilakukan bersama oleh umat demi kepentingan umum dan dengan mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh Gereja. Dari dirinya sendiri tindakan liturgis mengandung nilai keselamatan. Seluruh perayaan, yang dilaksanakan dengan pola resmi yang telah disepakati, membuat umat beriman mengalami kehadiran Allah dan karya-Nya yang menyelamatkan. Liturgi dipandang sebagai kegiatan yang harus dilaksanakan oleh umat beriman agar hidupnya dalam persekutuan Gereja bertumbuh dan berkembang dengan baik.
Keunggulan Liturgi. Gereja menghargai kedua kegiatan ini karena masing-masing mempunyai peran khusus dalam menumbuhkembangkan iman. Walaupun demikian, liturgi lebih unggul dibandingkan semua bentuk doa Kristiani. Keunggulan itu terletak pada hakikat liturgi sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus untuk memuliakan Allah dan menguduskan manusia. Karena itu, devosi tidak boleh menjadi saingan dari liturgi. Devosi harus selaras dengan liturgi kudus: bersumber pada liturgi dan menghantar umat kepada perayaan liturgi (Sacrosanctum Concilium 13). Semua kegiatan devosional harus memuncak pada perjumpaan dengan Allah dalam perayaan liturgis.

Penyerasian
Devosi dan Masa Liturgi. Devosi merupakan sarana yang efektif bagi umat untuk menghayati iman dan meraih kesucian. Karena itu, Gereja mengajak umat mempergunakan Masa Liturgi sebagai kesempatan untuk mengarahkan diri pada misteri iman yang dirayakan. Misalnya, dalam masa Prapaskah, Jalan Salib dapat menjadi sarana yang ampuh untuk mengajak umat merenungkan misteri salib Kristus dan memandang salib sebagai jalan untuk bersatu dengan Kristus. Agar umat semakin dapat menghayati nilai spiritual di masa liturgi tertentu, perlu ditawarkan bentuk-bentuk devosi tertentu. Misalnya, pada masa prapaskah, selain jalan salib, bisa juga diadakan devosi kepada Wajah Kristus dan Ibadah Tujuh Sabda; pada masa adven, ketika perayaan liturgi menampilkan peran Yohanes dan Maria, dapat juga dianjurkan devosi kepada kedua orang kudus itu.
Devosi dan Perayaan Liturgi. Dalam sejarah liturgi Gereja beberapa unsur devosional telah diangkat menjadi bagian dari perayaan liturgis setelah melewati proses pembentukan yang dilakukan di bawah kewenangan Gereja. Misalnya, perarakan daun palma menggantikan Ritus Pembuka dalam misa mengenangkan sengsara Tuhan dan perarakan Sakramen Mahakudus menggantikan Ritus Penutup dalam misa pengenangan perjamuan Tuhan. Proses integrasi unsur devosi ke dalam liturgi ini telah ditentukan dengan kriteria dan norma liturgis yang berlaku, sehingga tidak sembarang orang diperkenankan melakukannya.
Devosi dan budaya. Umat yang hidup dalam suasana dan jiwa budaya tertentu dimungkinkan untuk mempergunakan unsur-unsur budaya dalam kegiatan devosional. Contoh, pohon natal biasanya berupa pohon cemara dapat diganti dengan pohon lain yang mempunyai nilai khusus dalam budaya setempat dan makna simbolis yang serupa. Dalam hal ini hendaknya diperhatikan ajuran berikut: “tidak boleh memasukkan ritus-ritus yang dirasuki oleh takhyul ke dalam Gereja, penyembahan berhala, animisme, dan balas dendam atau hal-hal yang tekait dengan seks” (Varietates Legitimae, 48).

Devosi yang Benar dan Sehat
Devosi dan Pertobatan. Devosi yang benar dan sesuai dengan kehendak Allah dalam kesatuan Gereja Katolik mewujudkan gerakan hidup rohani yang akan menghadirkan wajah Gereja yang kudus. Devosi harus didasarkan pada perjumpaan orang beriman dengan Allah, melalui Kitab Suci, sakramen-sakramen, dan karya kasih, serta dalam hati nurani umat beriman. Perlu diingatkan kembali bahwa devosi yang sejati tidak didasari harapan agar Tuhan memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi dengan semangat untuk bertobat supaya dapat hidup dalam kesalehan sebagai anggota tubuh Kristus.
Devosi dan Pelayanan. Melalui devosi yang sehat diharapkan umat bertumbuh dalam iman dan kasih persaudaraan sebagai Gereja. Penghayatan devosi yang sehat membuahkan karya kasih di tengah masyarakat.

Kepedulian dan Kesepakatan
Komisi liturgi keuskupan perlu memberi bimbingan yang bijaksana dan berkelanjutan kepada umat agar: 1) memiliki pemahaman yang benar dan baik tentang spiritualitas, tata cara, dan makna dari unsur-unsur devosional (gambar, doa, waktu, lambang), 2) menjalankan devosi sehingga dapat lebih menghayati perayaan liturgi, terutama Ekaristi.
Untuk menjalankan proses katekese ini Komisi Liturgi Keuskupan perlu mengupayakan: 1) materi yang disusun secara sistematis supaya dapat dipahami oleh umat pada umumnya, 2) sarana yang memadai dan efektif, 3) pembinaan tenaga-tenaga pengajar agar memiliki kompetensi dalam bidang ini, 4) dukungan dari pihak-pihak yang bertanggung jawab langsung atas pembinaan iman umat.
Seluruh rangkaian pertemuan ini telah melalui beberapa tahap yang meliputi: survei untuk mencari data faktual, refleksi bersama dengan bantuan para narasumber, serta merumuskan kepedulian dan kesepakatan. Selanjutnya diharapkan para peserta menindaklanjuti kesepakatan yang telah dicapai dalam pertemuan ini sesuai dengan keadaan di tempat karya masing-masing.

Graha Wacana – Prigen, 21 Juli 2011
Atas nama para peserta

Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF

Oleh : Deddy Dismas

Let’s go to the Poor

”We must do what is most agreeable to God. Therefore, we must do what our Lord Jesus Christ did when preaching the Gospel. Let us go to the poor.” (Baunard, Correspondence, p.65)

Seharusnyalah kita melakukan apa yang paling disukai oleh Tuhan. Karenanya, kita harus melakukan apa yang dinyatakan oleh Tuhan kita, Yesus Kristus, dalam mewartakan Injil. Marilah kita datang kepada mereka yang miskin.

Sungguh ada tanya dalam hati tentang pernyataan Frederic Ozanam ini.

Siapakah orang miskin bagiku? Beranikah aku melihat adanya kemiskinan di sekitarku? Beranikah aku berbuat sesuatu terhadap kemiskinan tersebut?

Tanda dari Tuhan

Hidup manusia syarat dengan tanda. Jabat tangan tanda keramahan, tertawa tanda kegembiraan, tangis tanda kesedihan dan keharuan, rambut putih tanda kebijaksanaan dan ketuaan, cemberut tanda kecewa atau marah dst. Namun, Karya Allah dalam hidup manusia juga terungkap dalam tanda-tanda manusiawi. Tanda-tanda itu kadang sifatnya menegur dan menampar sehingga terasa menyakitkan. Namun kadang tanda dari Tuhan itu begitu lembut merasuk dalam batin dan kesadaran kita. Namun semua tanda dari Tuhan itu terarah pada tujuan yang sama yakni manusia hidup dalam pertobatan, kebenaran dan kebaikan. Read more »

Papua Oh Papua

Papua oh Papua
Gelap kulitmu, kaya dan subur bumimu, kaya dan indah lautmu,
Ungkap keagungan Sang Pencipta

Papua oh Papua
Berat, mahal, dan jauhnya jalan menuju Gereja-gerejamu,
Undang tuk miliki cinta seperti keagungan cinta Sang Pemilik Hidup

Papua oh Papua
Cucuran keringat, kekar dan berotot badanmu,
Singkap mutiara-mutiara hidup di tengah sunyinya belantara dan kerasnya perjuangan hidup,
di tengah miskinnya fasilitas dan terbatasnya hubungan

Papua oh Papua
Bening matamu dan gelak tawamu
Ungkap ketulusan dan sukacita dalam pengharapan

Semuanya semata-mata demi kemuliaan Allah

“Papua adalah tanah terberkati”, itulah slogan yang digulirkan Zending
dan hingga kini diamini masyarakat Papua. Itu pula ungkapan para pewarta Injil pertama di Papua. Injil masuk Papua (lebih tepatnya Gereja Protestan pertama masuk di Papua) pada 5 Februari 1855 bersamaan dengan kedatangan dua orang pendeta: Carl W. Ottow (1826-1862) dan J. G. Geissler (1830-1870) di pulau masinam dekat Manokwari. Dalam usaha mewartakan Injil di Papua,
problem yang mereka hadapi adalah:
- Masalah komunikasi; sulit untuk mengungkapkan maksud kedatangannya. Sementara masyarakat tak ada yang berani mendekat. Cara untuk menarik hati mereka adalah dengan barter. Menukarkan barang-barang yang mereka bawa (piring, gelas, cangkir, dll.) yang menurut penduduk Papua saat itu adalah barang asing. Cara ini cukup efektif untuk memulai kontak dan menjalin komunikasi dengan masyarakat.
- Masalah kuatnya adat istiadat yang bagi dua pendeta itu bertentangan dengan nilai-nilai Injil.
- Masalah berbagai penyakit yang timbul yakni cacar dan malaria yang mengancam hidup penduduk dan mereka berdua. Mereka memberikan obat pada masyarakat.

Awal Misi Gereja Katolik
Pendaratan Pater Cornelis Le Cocq d’Aramandville SJ di kampung Sekeru (penghasil pala) dekat Fak-fak pada tgl 22 Mei 1894, dianggap sebagai awal misi Gereja Katolik di Papua. Umat pertama di Papua berada di stasi Kapaur Fak Fak. Di tempat itulah untuk pertama kalinya umat katolik berkembang di Papua.
Problem yang dihadapi Pater Cornelis Le Cocq, SJ, ketika memulai misi Gereja Katolik di Papua adalah:
- Masalah komunikasi dengan masyarakat. Tidak bisa saling bicara dan mengenal karena bahasa yang berbeda. Solusinya adalah mengunjungi orang-orang setempat dari rumah ke rumah, kebun ke kebun. Dia berusaha mengenal orang-orang. Sapaan dengan bahasa yang terbatas, senyuman dan sentuhan penuh kasih menjadi sarana komunikasi. Sambil terus belajar bahasa setempat dengan dialog dengan masyarakat. Lalu masyarakat mulai mengenalnya sebagai orang yang baik. Maka merekapun mulai berani belajar agama katolik.
- Masalah medan yang jauh dan alat transportasi yang terbatas.
- Masalah ancaman dibunuh dari masyarakat yang tidak suka.
- Setelah iman katolik di terima di Fakfak, yang pertama dibangun dalam misi itu adalah sekolah. Pada bulan Januari 1925, seorang guru diutus ke fak fak (Benediktus Renyaan). Kemudian pada tahun 1928 P Caspers mulai mengajar agama. Dan pada tanggal 28 April 1929, pastor itu bersama seorang guru Paulus Letsoin, memulai mendirikan sekolah di Sakertemin.

Semangat dan Cinta akan Misi Mewartakan Kabar Gembira Keselamatan kepada Semua Orang yang dimiliki oleh para misionaris awal, menguatkan para misionaris awal dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Ad Maiorem Dei Gloriam. Semuanya semata-mata demi kemuliaan Allah. (guns)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.