MENUJU PELAYANAN PASTORAL YANG PROFESIONAL:Refleksi Atas Jati Diri Imam dalam Konteks Pelayanan Gereja Indonesia

1. Pengantar
Konsili Vatikan (KV) II membawa berbagai macam perubahan. Salah satunya adalah perubahan pemahaman tentang jati diri dan peran imam dalam Gereja. Peran imam dalam Gereja disesuaikan dengan gambaran Gereja yang ada. Gambaran Gereja Konsili Vatikan II yang memiliki pengaruh pada pandangan terhadap imam adalah: pertama, gambaran Gereja sebagai persekutuan umat Allah yang ditandai dengan kesamaan martabat anggota Gereja dalam tugas imam, raja, dan nabi. Kedua, adalah tentang peran Gereja di dunia. Gereja yang ada di dunia dan “bagian dari dunia”, menjadi sarana keselamatan bagi dunia.
Dalam Gaudium et Spes art.1 Konsili Vatikan II menegaskan: “Kegembiraan, harapan, duka, dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan, harapan, duka, dan kecemasan para murid Kristus juga”. Itulah perwujudan dari pemahaman bahwa Gereja adalah bagian dari dunia. Konsekuensi dari penegasan ini ialah perlu adanya perubahan, baik itu cara hidup, cara berpastoral dan cara berelasi imam dengan umat dan imam dengan manusia sekitarnya. Bagaimanakah pelayanan pastoral (imam) yang tepat untuk konteks pastoral Gereja Indonesia? Bagaimana menjadi pelayan pastoral yang profesional dalam konteks Gereja Indonesia? Bagaimanakah konteks Gereja Indonesia itu? Apakah yang perlu dihayati imam agar dapat melaksanakan pelayanan pastoral yang profesional?

2. Garis Besar Konteks Gereja Katolik Indonesia
2.1. Ada di antara Mayoritas Islam
Gereja Katolik Indonesia adalah minoritas yang hidup berdampingan dengan mayoritas umat Islam dan umat beragama lain yang juga minoritas. Umat Islam di Indonesia menurut data LP3ES tahun perbandingan 1971 dan 2000, berjumlah 88,22% dari penduduk Indonesia sedangkan umat Kristiani berjumlah 8,92% dari jumlah penduduk Indonesia. Akibatnya budaya yang menonjol dalam masyarakat Indonesia yakni budaya bernuansa Islami. Karena itu, umat Katolik dalam hidup bermasyarakat tidak lepas dari budaya dan relasi dengan umat Islam.
Situasi inilah yang menjadi medan dan tantangan bagi Gereja dan khususnya imam untuk menentukan strategi, model pelayanan yang tepat dan melaksanakan karya pelayanannya. Secara psikis, situasi itu bisa membangkitkan semangat imam dalam pelayanan dan pewartaan bagi Gereja. Namun situasi itu juga membawa akibat yang kurang baik bagi imam dan Gereja. Kekurangdewasaan dari sebagian orang dari kelompok mayoritas Islam dapat menimbulkan perlakuan yang tidak adil bagi umat Kristen misalnya: ijin pendirian tempat ibadat selalu dipersulit, dilarang melakukan peribadatan di rumah umat, ataupun berbagai macam ancaman dan intimidasi.

2.2. Ada di antara Masyarakat Miskin Asia dan Indonesia
Masyarakat Asia mayoritas berada dalam kemiskinan. Gereja Asia hadir di antara masyarakat miskin Asia itu. Amanat Konferensi uskup se-Asia atau FABC melukiskan situasi miskin Asia itu dengan menyebut keadaan Asia sebagai “wajah Asia.” “Wajah Asia” yang berpenduduk kurang lebih dua milyar manusia itu sebagian besar ditandai dengan kemiskinan, kekurangan gizi dan tingkat kesehatan yang buruk, terlukai oleh perang dan penderitaan. Berhadapan dengan situasi demikian itu, FABC menetapkan visi dan misinya yakni sungguh-sungguh menjadi Gereja kaum miskin yang dekat dan tidak menakutkan orang miskin dan aktif menyuarakan hak-hak mereka.
Masyarakat Indonesia adalah bagian dari masyarakat Asia yang miskin itu. Kita hidup di tengah masyarakat miskin dan yang telah lama menderita karena penjajahan dan sistem pemerintahan yang menindas mereka. Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur mengungkapkan bahwa kurang lebih 60% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan dari jumlah itu 10-20 persennya hidup dalam kemiskinan absolut.
Realitas kemiskinan itu adalah bagian dari diri Gereja Indonesia. Maka Gereja juga bertanggung-jawab untuk mengarahkan perutusannya kepada kaum miskin ini. Imam sebagai Kepala dan Gembala Gereja tentu tidak bisa tinggal diam. Gereja harus menanggapi persoalan itu sebagai bagian dari dirinya. Untuk itu, imam patut mengarahkan pelayanannya untuk memperhatikan orang-orang miskin.
2.3. Individualisme dan Mobilitas
Individualisme adalah suatu paham di mana pribadi ditempatkan pada tempat utama dan urusan tertinggi. Kepentingan pribadi menjadi dasar, arah dan norma hidup yang paling tinggi. Secara praktis, penerapan paham yang berpusat pada pribadi dapat dengan mudah jatuh ke arah sikap “semau gue.” Padahal dari kodratnya, manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan orang lain dan hanya dapat mencapai kepenuhannya dalam relasi dengan sesama.
Secara positif paham individualistis, bisa dikatakan akan membawa pribadi-pribadi pada kesadaran-kesadaran akan kebebasan dan hak pribadinya, akan kekuatan dan kelemahannya, dan secara spiritual akan anugerah Allah yang diterimanya. Namun secara negatif, pengagungan individualitas mengakibatkan pribadi menjadi egois (mengukur segala sesuatu hanya bertumpu pada diri pada aku). Akibat lebih lanjut dari perspektif demikian itu adalah sulit ada dialog, kerjasama, dan sikap saling memahami satu sama lain.
Kecenderungan individualistis juga dialami oleh umat dan imam sendiri. Dalam lingkup umat salah satu fenomennya adalah semakin sedikit umat yang mau menghayati iman dalam kebersamaan dengan umat yang lain. Persaudaraan dan pertemuan tingkat lingkungan sulit terjalin. Umat banyak disibukkan oleh pekerjaannya dan merasakan yang penting dalam menggereja adalah ke Gereja untuk misa. Cukuplah kalau ke Gereja setiap hari Minggu, keterlibatan di lingkungan dan masyarakat dipandang kurang perlu.
Selain itu adalah mobilitas umat dan imam yang tinggi. Semua itu terjadi seiring dengan mobilitas masyarakat yang demikian cepat dan dengan semakin mudahnya sarana transportasi dan komunikasi. Akibatnya lingkup relasi dan “wilayah kerja” umat dan imam juga semakin meluas. Konsekuensinya ikatan persaudaraan secara teritorial semakin sulit dijalin. Wilayah kerja imam bukan lagi wilayah parokinya saja, melainkan meluas seturut jaringan relasi dan kebutuhan pastoral yang ada. Salah satu contohnya adalah imam sering meninggalkan tempat tugas utamanya untuk memberikan seminar, retret, rekoleksi di luar kota, dll.

3. Jati Diri Imam
3.1. Hakekat Imam
“Jati diri imam seperti jati diri Kristen, bersumber pada Tritunggal Kudus” (PDV. 12). Artinya berkat rahmat dan materai tak terhapuskan dari Roh Kudus dalam tahbisan, imam berada dalam relasi dengan Trinitas yang adalah sumber keberadaan dan karya imam. Imam adalah orang yang dipilih, ditahbiskan, dan diutus oleh Bapa, Putra dan Roh Kudus secara khas, untuk melaksanakan karyaNya sebagai Kepala dan Gembala umat. Oleh karena itu, karya imam pada dasarnya adalah karya Allah sendiri dan tidak bisa dilepaskan dari relasi dengan tiga Pribadi Ilahi. Namun kehendak bebas imam tetap memegang peranan yang penting dalam pemilihan dan perutusan Allah itu. Manusia tidak bisa pasif melainkan harus aktif untuk menjawab panggilan dan pilihan Allah itu secara pribadi. Namun itu bukan berarti melepaskan imam dari relasinya dengan jemaat, karena “panggilan imam berada dalam Gereja dan demi Gereja” (PDV. 35). Inilah yang disebut sebagai dimensi Triniter dari jati diri imam.
Tahbisan imam membuat imam disaturagakan dengan Imamat Kristus, diserupakan dengan Kristus Sang Imam dan menyandang perutusan Kristus sebagai Kepada dan Gembala Gereja. Kesatuan imam dengan Kristus ini juga menghadirkan Kristus sebagai Kepala dan Gembala untuk memberikan kesaksian bahwa Kristus tetap menghidupkan imamatNya dalam Gereja (DPHPI. 1) dan melaksanakan pelayanan penyelamatan, serta membimbing Umat Allah kepada kekudusan. Dalam hal ini, Bapa Konsili melukiskan peran imam dalam relasinya dengan imamat Kristus itu dalam berbagai gambaran diantaranya: imam “ikut menyandang kewibawaan Kristus” (PO. 2), “Sarana bagi Kristus Sang Imam Abadi” (PO. 12), “membawakan pribadi Kristus” (AG. 39). Keserupaan imam dengan Kristus berkat tahbisan bermakna keserupaan perutusan imam dengan perutusan Kristus. Dalam awal karyaNya Yesus mengungkapkan perutusanNya. PerutusanNya itu pulalah yang menjadi perutusan imam. Perutusan itu tertulis dalam Lukas 4:18, sebagaimana tertulis di bawah ini:
Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (PDV. 11).
Perutusan Kristus adalah mewartakan kabar gembira keselamatan kepada semua orang khususnya orang-orang miskin dan tertindas. Perutusan Kristus berasal dari Bapa. Perutusan imam berasal dari Bapa, Putra dan roh Kudus (Trinitas). Imam mewujudkan perutusan itu sebagai imam, raja, dan nabi. Sebagai imam ia menguduskan, sebagai raja ia memimpin umat, dan sebagai nabi ia mewartakan Injil.
Jati diri imam juga berdimensi Gerejawi. Dasarnya adalah Kristus sendiri yang adalah asal dari Misteri Gereja, pendiri dan kepala Gereja. Imam berkat tahbisan ambil bagian dalam Misteri Kristus Sang Kepala, dan Gembala namun selain itu, imam juga ambil bagian dalam tubuh Kristus (Gereja). Oleh karena itu, sakramen imamat juga memasukan imam dalam persekutuan hierarki Gereja. Persekutuan dengan Gereja itu membuat imam menjadi milik Gereja untuk melaksanakan misi Kristus di dalam Gereja. Pelayanan imam dalam Gereja menghadirkan Kristus sendiri namun selain itu imam juga menghadirkan uskup bagi Gereja setempat (DPHPI. 12 dan 13).

3.2. Panggilan Imam pada Kekudusan
Dasar panggilan imam kepada kekudusan adalah Roh Kudus sendiri. … Roh Kudus mewahyukan dan menyalurkan kepada kita panggilan dasar, yang sejak kekal ditujukan oleh Bapa kepada setiap orang, yakni panggilan untuk menjadi kudus dan tak bercela dihadirat Nya … dalam cinta kasih, karena kita telah ditetapkan sejak semula untuk menjadi putera-puteri angkatNya melalui Yesus Kristus (Bdk. Ef 1: 4-5), (PDV. 19).
Panggilan pada kekudusan pada dasarnya adalah panggilan semua orang beriman. Panggilan itu melekat sejak pembaptisan. Dengan baptisan orang beriman bersatu dengan Kristus dan GerejaNya dan dipanggil dalam persekutuan dengan Bapa Yang Kudus. Yesus sendiri dalam khotbah di bukit mengundang semua orang untuk menjadi sempurna: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48).
Bagi para imam, mencapai kesempurnaan atau kesucian itu adalah suatu kewajiban yang harus dicapai. Karena dengan tahbisan mereka bukan hanya mengemban imamat umum melainkan juga imamat khusus yang mengalir dari Imamat Kristus dan menjadikan mereka secitra dengan Kristus sendiri (PO.12) serta menjadi sarana yang hidup untuk melaksanakan karya Kristus bagi umat manusia dalam pelayanannya (PDV.20). Fungsi imam sebagai sarana untuk melaksanakan karya Kristus itu menuntut kesucian dalam diri imam.
Fungsi imam sebagai pewarta Sabda Allah, pelayan sakramen, dan pemimpin umat menuntut kesucian. Karena kesucian imam itu akan mengefektifkan rahmat Allah yang mengalir dalam pelayanan imam walaupun pada dasarnya ketidaksucian imam tidak menghalangi aliran rahmat Allah karena Allah tidak bisa dihalangi oleh kekurangan manusia. Namun karena yang dilayani imam adalah manusia yang dekat dengan kedagingan sehingga sulit untuk menangkap kehendak dan cinta kasih Allah dengan “media” (imam) yang terlalu cacat atau ternoda oleh kekurangan, maka dalam hidup dan karyanya imam wajib mencapai kesucian dan mengejarnya seumur hidup.
Imam dapat mengejar dan mencapai kesempurnaan atau kesucian dengan mematikan diri mereka dari perbuatan daging, membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kristus, dan berusaha membaktikan hidupnya bagi Allah dan sesama (PO.12). Jadi panggilan kepada kesucian itu menuntut adanya jawaban ya dari manusia untuk mau mengejar kesucian secara terus menerus.

3.3. Fungsi Imam
3.3.1. Imam adalah Pelayan Sabda Allah: Fungsi Kenabian
Fungsi imam sebagai pelayan Sabda Allah menempati tempat terpenting dalam Gereja. PO. 4 dengan tegas mengungkapkan bahwa fungsi imam sebagai pelayan Sabda Allah berada pada tempat pertama begitu juga PDV. 26 menempatkan fungsi itu pada tempat pertama. Sedangkan LG. 25 menegaskan bahwa tugas pewartaan Injil adalah tugas utama uskup dan juga imam. Jadi bisa dikatakan pelayanan Sabda Allah merupakan tugas sangat penting bagi imam.
Dasar teologis tugas itu adalah pewartaan para rasul yang melahirkan umat Allah ( I Ptr 1:23). Pewartaan para rasul tentang kabar gembira keselamatan itu, diterima dan diimani oleh umat. Kemudian orang-orang yang telah percaya itu pada akhirnya berhimpun dan membentuk paguyuban. Jadi pewartaan para rasul itu bisa dikatakan menjadi inspirator tumbuhnya iman umat akan Kristus. Sebagaimana para rasul, imam adalah seorang pewarta Sabda Allah dalam konteksnya.
Fungsi itu bagi imam “mensyaratkan” relasi yang intim dengan Sabda Allah sendiri. Artinya imam memahami Sabda Allah, rencana dan kehendak Allah dan selalu merenungkannya. Oleh karena itu, imam harus selalu “mendekati” Sabda Allah dengan hati yang terbuka dan dalam sikap doa sehingga sabda itu meresapi pikiran dan perasaannya serta menciptakan wawasan baru baginya. Karena imam sebagaimana nabi, berbicara atas nama Tuhan (in nomine domini) dan bukan atas nama dirinya sendiri.
Selain mensyaratkan relasi yang intim dengan Sabda Allah sendiri, imam perlu kreatif. Artinya berani mencari dan menggunakan cara-cara dan sarana-sarana yang ada disekitarnya untuk mewartakan Sabda Allah. Karena itu imam perlu memahami situasi konkret yang ada di sekitarnya dan berusaha menerapkan Sabda Allah dalam situasi konkret yang dihadapi masyarakat sehingga pewartaan itu mengena pada hati manusia dan menggerakkan mereka untuk menghayati Sabda Allah dalam hidupnya (Bdk PO. 4). Namun pewartaan yang demikian itu, hanya bisa terwujud bila berakar pada iman yang otentik atau hidup rohani yang mendalam.
Imam mewartakan Sabda Allah dan memberikan kesaksian bahwa Allah yang hadir di tengah hidup konkret manusia. Kesaksian itu bukan pertama-tama verbal dan bersifat ajaran melainkan riil dalam pengalaman memperjuangkan hidup sehari-hari sebagaimana diajarkan Allah. Arahnya membawa umat menangkap karya dan kehadiran Allah dalam hidup mereka masing-masing.
Sebagai pewarta sekaligus pemimpin Gereja, imam dapat mewartakan Allah dengan khotbah dalam peribadatan Gereja dan memberikan peneguhan iman kepada umat. Peneguhan itu dapat berupa sapaan halus untuk memanggil orang yang menderita, terasing, dan untuk membangunkan orang dari belenggu pikiran dan kepentingan diri sendiri. Dalam melaksanakan tugas kenabian ini, imam harus melibatkan awam. Karena berkat pembaptisan, mereka juga menyandang tugas Kristus itu dan dipanggil serta disiapkan untuk menjadi saksi-saksi iman dan cinta akan Kristus dalam hidup sehari-hari, dalam keluarga dan masyarakat ( Bdk. LG. 35).

3.3.2. Imam adalah Pelayan Sakramen: Fungsi Keimaman
Sakramen adalah tanda dan sarana kehadiran Allah dan tindakan Allah sendiri. Kristus sendirilah pelaku sejati dari setiap sakramen. Imam dan uskup hanyalah rekan dan pembantu-Nya (Bdk. PO. 5). Imam dan uskup membantu melayani karya pengudusan yang dilakukan oleh Allah sendiri. Mereka berperan sebagai pelayan saja. Namun bukan pelayan utama sakramen karena Kristuslah pelayan utama sakramen.
Imam melaksanakan pelayanan sakramentalnya dengan menghadirkan dan bertindak atas nama Kristus dan Gereja. Adapun Pelayanan sakramental yang dilaksanakan para imam ialah: 1). melayani sakramen Baptis untuk menginkorporasikan orang dengan Kristus dan GerejaNya serta membawa orang masuk dalam kehidupan yang baru dan meninggalkan manusia lama, 2). melayani sakramen tobat untuk memperbaharui relasi mereka dengan Allah dan Gerejanya karena dosa yang mereka lakukan di dalam hidup, 3). melayani sakramen pengurapan orang sakit untuk meringankan penderitaan orang yang sedang sakit, 4). melayani sakramen ekaristi kudus, dimana imam menghadirkan misteri paskah bagi umat Allah, imam sekaligus bertugas membawa mereka pada relasi yang erat dengan Kristus secara khusus dengan menyantap tubuh dan darahNya (LG. 11 / PO. 5), 5). untuk sakramen perkawinan, pelaksananya adalah kedua mempelai. Cinta kasih dan konsensus bersama merekalah yang membangun persekutuan. Imam hanya saksi atau yang menerimakan saja, 6). Sedangkan untuk sakramen krisma pelayannya adalah uskup atau imam yang memperoleh otoritas dari uskup, 7). sementara untuk sakramen imamat pelayannya bukan imam melainkan uskup.
Dalam pelayanan-pelayanan sakramen, imam bertindak sebagai minister ordinaris (pelayan biasa), namun dalam pelayanan sakramen tertentu imam bertindak sebagai minister extra-ordinaris (luar biasa). Dalam pelayanan sakramen baptis, ekaristi, peminyakan, tobat, perkawinan, imam berperan sebagai ministeri ordinaris. Sementara dalam sakramen penguatan, imam berperan sebagai minister extra-ordinaris. Namun minister principalis-nya (pelayan utama) adalah Yesus Kristus sendiri.

3.3.3. Imam adalah Pemimpin Umat Allah: Fungsi sebagai Raja
Imam adalah pemimpin umat Allah atau Gereja. Sebagai pemimpin, imam memiliki otoritas. Namun otoritas imam bukan dari suatu instansi manusiawi seperti seorang pemimpin pemerintahan ataupun perusahaan melainkan dari kuasa Ilahi. “Otoritas” imam dalam memimpin pertama-tama dari Sang Kepala dan Gembala Gereja yakni Kristus sendiri. Oleh karena itu dasar kepemimpinan imam adalah Kristus sendiri dan pada dasarnya arah kepemimpinan imam sama dengan arah yang dituju oleh Sang Kepala yaitu membawa manusia ke dalam persekutuan bersama Allah. Tugas pelayanan sebagai pemimpin umat itu dilaksanakan imam atas nama uskup karena imam membantu pelayanan uskup. Untuk melaksanakan pelayanan itu, imam dikaruniai kuasa rohani. Bagaimana imam melaksanakan tugas sebagai pemimpin umat?
Peran imam sebagai pemimpin bukan meletakkan imam dalam posisi tukang perintah dan penonjolan kekuasaan. Sebagai pemimpin, imam adalah saudara dalam iman dengan umat yang dipimpin atau digembalakannya. Imam dan awam adalah sama-sama murid Tuhan yang berkat rahmat panggilan Allah ikut serta dalam perutusanNya. Namun imam ditengah awam berfungsi untuk menghantar mereka kepada kesatuan cinta kasih.
Paus Yohanes Paulus II merumuskan tugas imam sebagai berikut: tugas imam adalah “mendorong dan membimbing jemaat gerejawi, yakni: dengan menghimpun keluarga Allah sebagai rukun persaudaraan yang sehati sejiwa dan melalui Kristus mengantarnya dalam Roh menghadap Allah Bapa”(PDV. 26). Imam memiliki panggilan untuk membawa keselamatan bagi semua orang. Oleh karena itu, problem dunia sekarang misalnya kaum miskin, moralitas kaum muda, kesetiaan suami isteri juga perlu mendapat perhatian dan ditangani imam (Bdk. GS. 47).
3.4. Menuju Pelayanan Pastoral Yang Profesional
Kata profesional (adj) berarti berhubungan dengan profesi, membutuhkan keahlian tertentu dalam melakukan keahliannya. Maka orang yang profesional itu menunjuk pada orang yang memiliki kemampuan, keahlian atau keterampilan dalam bidang tertentu dan sangat bertanggungjawab dalam menjalankan profesinya. Kemampuan dan keahlian itu ditekuninya sedemikian rupa dalam kurun waktu yang relatif lama dan hasilnya hasil kerjanya bermanfaat dan bernilai tinggi dan diakui serta diterima banyak orang. Jadi bisa dikatakan bahwa profesionalisme pada intinya adalah soal kompetensi untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik dan benar.
Pelayanan pastoral yang profesional dengan demikian adalah suatu pelayanan pastoral yang dipondasikan pada jati diri imam (identitas dan perutusan imam) dan konteks umat yang dilayani oleh imam. Maka imam yang profesional adalah imam menghayati jati dirinya dan memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam perutusannya. Ia menghayati jati dirinya sebagai pribadi yang disaturagakan dengan Kristus dan melaksanakan perutusan Kristus sendiri. Pelayanan pastoral imam itu harus tepat guna dan itu dilaksanakan imam secara benar, baik dan terus menerus sehingga dirasakan manfaatnya oleh umat Allah. Apakah yang perlu dihayati imam agar dapat melaksanakan pelayanan pastoral yang profesional?
3.4.1. Imam adalah Pribadi dan Pelayan Pengudusan
“Jadilah teladan bagi orang-orang yang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Tim 4:12). Imam adalah saksi Kristus. Ia memberi bertugas memberikan kesaksian hidup kepada umat manusia. Kesaksian hidup bahwa kehadiran dan pelayanan imam di tengah umat manusia adalah wujud kehadiran belas kasih dan kemurahan hati Allah.
Namun imam juga manusia, ia adalah pribadi tidak lepas dari berbagai kekurangan. Ia bagaikan bejana dari tanah liat yang rapuh, namun dipakai oleh Allah untuk karya ilahiNya yaitu membawa umat manusia pada suatu relasi yang intim denganNya. Berkat tahbisan, imam diutus oleh Bapa, Putra dan Roh Kudus secara khas, untuk melaksanakan karyaNya sebagai Kepala dan Gembala umat. Ia memiliki tanggung jawab untuk menggembalakan umat. Namun dalam perutusan dan berbagai macam fungsi itu, ada kecenderungan bahwa imam hanya berorientasi pada pastoral saja. Artinya disibukkan oleh masalah administrasi dan struktur organisiasi. Orientasi yang demikian itu, kiranya tidak cukup bagi imam. Imam perlu mempondasikan pelayanannya pada jati dirinya.
Pelayanan pastoral dalam arti “organisasi” Gereja memang perlu dibangun dengan baik, namun imam dewasa ini terlebih dalam konteks Indonesia, perlu banyak memperhatikan jiwa-jiwa umat Allah. Konteks Gereja Indonesia yang ada di antara masyarakat miskin dan tertindas sangat perlu ditanggapi imam dengan suatu kehadiran seperti Gembala atau Bapak atau orang tua yang memperhatikan anak-anaknya. Imam perlu hadir untuk memberikan pengharapan dan kekuatan kepada umat Allah. Imam membawa pengudusan bagi umat manusia.

3.4.2. Kritis dan Terbuka
Dalam situasi mobilitas umat Gereja Indonesia yang begitu cepat, masyarakat yang miskin, keberadaan di tengah keragaman budaya dan agama, serta di mana realitas umat yang mobil, imam perlu memiliki sikap kritis dan terbuka. Kritis untuk menilai dan mengambil sikap dan keputusan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip ajaran yang pokok, namun luwes menilai dan menentukan sikap dan keputusan seturut semangat manusia zaman ini.
Selain itu, imam perlu terbuka untuk mendengarkan semangat manusia zaman ini tanpa tertindih oleh arus semangat manusia zaman ini, dan berani mengambil sikap dan keputusan dengan mempertimbangkan situasi yang ada. Dengan kata lain, hukum atau cara bertindak, menyesuaikan diri dengan hukum atau cara keberadaan atau keadaan (lex agendi lex essendi). Terlebih berhadapan dengan persoalan pastoral dewasa ini, bisa dikatakan bahwa sikap ini semakin dituntut.
Dalam konteks Indonesia keterbukaan dan sikap kritis itu perlu diwujudkan dengan membangun suatu dialog iman, dialog karya dengan umat beragama dan kepercayaan yang lain, selain itu juga mengarahkan pewartaan dan pelayanannya pada aksi solidaritas terhadap sekian banyak umat dan masyarakat miskin serta korban bencana yang ada di Indonesia.

4.3.1. Rendah Hati dan Cinta Kebenaran
Imam juga perlu memiliki sikap rendah hati yaitu sikap memposisikan diri; rendah namun bukan karena minder, merasa tidak mampu, ataupun malu, melainkan karena ingin dengan jujur dan tulus mendengarkan dan menerima apa yang dilontarkan orang lain kepadanya, dan terlebih merasa tak layak di hadapan Tuhan dan dengan demikian selalu bergantung pada Allah. Namun sikap rendah hati itu, perlu diimbangi dengan sikap kritis sehingga tetap tajam dalam menilai apa yang benar dan apa yang salah dan bersikap tegas bila memang salah karena cinta akan kebenaran.

4.3.2. Kearifan
Kearifan yang dimaksud adalah kearifan dugo-prayogo yaitu kearifan untuk mau berbuat meskipun tidak diwajibkan dan tidak berbuat meskipun tidak dilarang. Kearifan itu berarti sangatlah didasari oleh adanya pemahaman dan kesadaran akan panggilan, tujuan dan kebenaran dari apa yang dilakukan. Dengan pemahaman dan kesadaran itu, orang sudah tidak perlu lagi diwajibkan karena ia sudah sadar dan paham akan nilai dari apa yang diperbuat. Sikap ini akan menjadi suatu benteng yang kuat dari imam atau gembala ketika menghadapi masalah ditolak, dicemooh, digosipkan oleh umat dan lain sebagainya, sehingga tidak patah semangat dan meninggalkan karyanya.
Dinamisitas umat dalam Gereja Indonesia ini menuntut adanya kecerdikan, kekreatifan, dan sikap terus berani mencoba walaupun mengalami trial and eror dari gembalanya. Maka imam perlu terus berinovasi dan berimprovisasi. Namun tindakan itu tidak boleh melenceng dari tatanan yuridis resmi yang tetap harus dipegang, sehingga kreasi, inovasi dan improvisasi itu tidak menimbulkan kekacauan melainkan seni yang indah dan teratur serta kreatif.
Pelayanan pastoral yang professional selalu menuntut dari imam untuk terus memfokuskan tenaga dan pikirannya demi pengudusan dan penggembalaan umat. Dan bukan sibuk oleh diri sendiri dengan segala kebutuhan dan kerinduan pribadi yang dimiliki.

Daftar Pustaka

Hardowiryono, R., (Alih Bahasa), “Sidang 29 November 1970: Amanat dan Keputusan-keputusan No 5” dalam Dokumen Sidang-Sidang Federasi Konferensi-Konferensi Para Uskup asia 1970-1991, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1995.

_______, (Alih Bahasa), Direktorium tentang Pelayanan dan Hidup Para Imam (DPHPI), Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1996.

_______,(Alih Bahasa), Pastores Dabo Vobis (Gembala-gembala akan Kuangkat bagimu), Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1992.

_______, (Alih Bahasa), Dokumen Konsili Vatikan, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1993.

Leteng, Hubertus, Spiritualitas Imamat Motor Kehidupan Imam, Maumere: Ledalero, 2003.

Mangunwijaya,Y.B., “Pengantar” dalam Eduard R. Dopo, (Ed.), Keprihatinan Sosial Gereja, Yogyakarta: Kanisius, 1992.

_______, Gereja Diaspora, Yogyakarta: Kanisius, 1999.

Mangunhardjana, A., Isme-Isme dari A sampai Z. Yogyakarta: Kanisius, 1997.

Martasudjita, E., Sakramen-Sakramen Gereja, Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Pareira, B.A., Tambahan Diktat Kenabian, Malang: STFT Widya Sasana, 2003.

Purwatma, M., “Imamat Dalam dan Bagi Gereja” dalam M. Purwatma, (Eds),Romo Mangun Imam bagi Kaum Kecil, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Para Wali Gereja Regio Jawa, Kamu Adalah SaksiKu: Sebuah Pedoman Imam No 103, 1985.

Salim, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta: Modern English Press, 1991.

Internet

http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=21526&start=20postdays=0&postorder=asc&hightlight=&sid=7ed82bfc3826960c1a0451f7dac5bbe Diakses 5 April 2008

http://www.preventconflict.org/portal/main/bahasa_selected_poverty.php. Diakses Juni 2007

About these ads

One Response

  1. Terimakasih. Membaca artikel ini saya teringat akan dialog Tuhan dengan Petrus: Simon, apakah engkau mencintai Aku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: