EUTANASIA MENURUT MORAL GEREJA KATOLIK

1. Pengantar

Diane Pretty seorang perempuan Inggris yang terganggu syaraf motoriknya, meminta ijin pengadilan HAM Eropa untuk mengakhiri hidupnya dengan bantuan suaminya (eutanasia). Gangguan syaraf motorik itu oleh dokter dinyatakan tidak bisa disembuhkan dan diperkirakan akan cumulonimbus gagal pernafasan sehingga Diane akan meninggal beberapa bulan lagi. Karena keadaannya yang menderita itu, ia menuntut hak untuk mati dengan bantuan suaminya dengan syarat suaminya memperoleh kekebalan hukum karena perbuatannya membantu bunuh dirinya. Namun permintaannya itu ditolak oleh pengadilan HAM Eropa. Pengacara pasangan itu berdalih bahwa penolakan pengadilan Inggris itu, melanggar hak asasi pasangan itu.

Kasus itu memicu perdebatan panjang diantara kelompok pro-eutanasia dan kontra-eutanasia. Para pendukung eutanasia menyerukan bahwa undang-undang pelarangan eutanasia, menyebabkan terjadinya “tragedi kemanusiaan luar biasa”; manusia mengalami kematian yang menyedihkan. Sementara kelompok kontra-eutanasia atau pendukung kehidupan, menyerukan bahwa persetujuan eutanasia akan membuat banyak orang cacat dan kaum tua atau sakit yang diklaim dokter tak bisa disembuhkan, menghadapi berbagai macam resiko atau ancaman atas hidupnya.[1]

Perdebatan itu memunculkan pertanyaan-pertanyaan besar yang amat bersentuhan dengan moral diantaranya: kalau orang sudah tidak dapat disembuhkan dan tak berdaya apa-apa dan hanya tergantung pada mesin yang mempertahankan hidupnya apakah bila dicabut mesinnya secara moral salah? Dalam keadaan tergantung pada mesin, apakah ia masih memiliki eksistensi manusia, karena eksistensi manusia tampak pada adanya kesadaran dan tanggapan manusia? Apa dasar pandangan gereja katolik atas masalah moral ini? Apakah prinsip-prinsip moral yang dipegang gereja dalam menanggapi persoalan eutanasia ini? Bagaimana sikap Gereja Katolik terhadap masalah eutanasia ini?

Dalam paper ini penulis berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mendalam dan sulit seputar masalah eutanasia itu.

2. Masalah Istilah Eutanasia

Diantara para ahli belum ada kesepakatan tentang arti istilah eutanasia. Secara etimologis kata eutanasia dari bahasa Yunani eu (baik) dan thanatos (kematian) sehingga berarti mati dengan baik atau kematian tenang. Namun pemikir lain mengartikan istilah eutanasia sebagai tindakan dokter untuk mengakhiri kehidupan pasien terminal dengan memberikan suntikan yang mematikan atas permintaan pasien itu sendiri.[2] Sementara pemikir lain membedakan eutanasia dalam Compulsory eutanasia yaitu orang yang memutuskan kapan hidup seseorang akan berakhir karena keadaannya amat parah dan Voluntary eutanasia yaitu orang yang minta untuk mati. Selain itu ada yang mengartikan eutanasia sebagai memberikan bantuan untuk mati.[3] Manakah definisi yang tepat? Dan bagaimana definisi gereja katolik atas eutanasia?

3. Definisi Eutanasia Dalam Gereja Katolik

Pada tanggal 5 Mei 1980, Paus Yohanes Paulus II (Kongregasi ajaran iman) mendeklarasikan Deklarasi Eutanasia dalam rangka menjawabi pertanyaan-pertanyaan para uskup yang berhadapan dengan masalah pastoral khususnya hidup mati seseorang dalam hubungannya dengan kemajuan medis yang ada di dunia ini; eutanasia. Deklarasi itu terdiri atas 4 bab pendek. Bab pertama: nilai hidup manusia, bab kedua: pendefinisian dan pembahasan tentang eutanasia, bab ketiga: makna penderitaan, dan bab keempat yaitu penggunaan sarana terapi yang proporsional.[4]

Dalam Deklarasi eutanasia itu, gereja mengutarakan empat definisi eutanasia yang digunakan gereja. Pertama arti etimologis yaitu kematian tenang, kedua intervensi medis untuk meringankan penderitaan seseorang dengan konsekuensi bahaya memperpendek hidup, ketiga mematikan seseorang karena belas kasihan dengan tujuan untuk mengurangi penderitaan orang sakit tak tersembuhkan, atau orang yang cacat, tak normal ataupun orang sakit jiwa yang oleh orang yang sakit maupun para pendukung eutanasia dikatakan membuat hidup tak bahagia dan hanya menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat, keempat tindakan atau pantang tindakan yang menurut struktur perbuatan ataupun menurut maksud perbuatan membawa kematian untuk mengakhiri penderitaan seseorang.[5]

Yohanes Paulus II dalam ensiklik Evangelium Vitae (EV) juga membicarakan masalah eutanasia. Uraian penjelasan tentang eutanasia dalam EV didahului dengan uraian pandangan gereja tentang hidup manusia kemudian disusul dengan sikap gereja atas persoalan ini. Uraian itu tertuang dalam EV artikel 29 – 51, 57; 64 – 66.

Ensiklik Evangelium Vitae mendefinisikan eutanasia sebagai berikut menjadikan diri penguasa atas kematian dengan mendatangkan kematian sebelum saatnya dan dengan demikian menuyediakan akhir hidup secara lembut bagi orang lain atau diri sendiri (EV 64).

Dari definisi-definisi eutanasia dalam gereja itu merangkum merinci lebih jauh dan menambah pengertian-pengertian eutanasia yang sudah ada. Dalam menentukan hal ini, gereja berpegang pada prinsip hormat terhadap hidup sebagimana diajarkan Kristus. Pada akhirnya, hormat terhadap hidup menjadi dasar pandangan gereja dalam menanggapi masalah eutanasia. Bagaimana pandangan gereja katolik tentang hidup manusia?

4. Dasar Pandangan Gereja Katolik Tentang Eutanasia

Dalam menanggapi persoalan eutanasia, gereja mendasarkan pandangan dan sikapnya pada pandangannya sendiri tentang hidup manusia; suatu pandangan yang berlandaskan iman kristiani. Manusia adalah citra Allah, hidup manusia adalah anugerah Allah, kehidupan manusia adalah kudus, manusia adalah milik Allah dan Allah menghendaki hidup manusia dihormati bagaimanapun keadaannya. Jadi dasarnya adalah berhubungan dengan Yang Transenden bukan manusiawi belaka.

4.1. Manusia adalah Citra Allah

Manusia adalah citra Allah (Kej 1:27). Sebagai citra Allah manusia mampu mengenal dan mencintai PenciptaNya. Karena Allah Maha Tahu dan Maha Cinta. Dan manusia dipanggil supaya dengan kemampuan mengenal dan mencintai itu, mengambil bagian dalam kehidupan Allah. Karena itulah maka manusia memiliki martabat yang tinggi dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Manusia memiliki martabat seorang pribadi sebagaimana Allah juga pribadi. Karena itulah martabat dan hidup manusia harus dihormati dan manusia sebagai subyek dari hak-hak yang tak dapat diganggu gugat karena diterima dari Allah sendiri, saling menghormati hak-hak orang lain. [6]

4.2. Hidup Manusia adalah Anugerah Allah

Hidup manusia berasal dari Allah, diberikan oleh Allah, dan sesungguhnya Allah menjadi prinsip hidup manusia. Karena manusia tidak bisa mengadakan dirinya. Ia diadakan oleh Allah karena itulah Allah itu bagi manusia merupakan pemberi, asal, dan prinsip kehidupannya. Tetapi anugerah itu bukan berarti pasif artinya manusia hanya penikmat saja tanpa melakukan apa-apa. Manusia dengan kebebasannya tetap harus aktif untuk memanfaatkan dan menumbuhkembangkan anugerah itu sebaik mungkin. Jadi anugerah itu bagi manusia membawa konsekuensi suatu tugas dan tanggungjawab atas hidup.

Anugerah hidup yang amat tinggi dari Tuhan itu bukan berarti tak terbatas, anugerah itu terbatas bagi manusia dan harus dihayati dalam keterbatasan itu juga. Keterbatasan itu tampak pada misalnya: gangguan fisik dan psikis, kelemahan fisik dan psikis dll. Itu semua bagi manusia kerapkali menjadi beban yang amat berat. Namun keterbatasan itu, mengandung pengharapan janji hidup kekal.

4.3. Manusia Adalah Milik Kristus (Allah)[7]

Allah adalah penguasa hidup manusia karena itu, manusia tidak berkuasa atas hidup hidup matinya dan manusia harus menghormati dan mengasihi hidupnya dan orang lain. Allahlah yang berhak untuk mengambil atau meminta hidup manusia. Jadi Allahlah Allah atas hidup dan mati. Dia memiliki hak untuk menghidupkan dan mematikan manusia. Itu berarti manusia sama sekali tidak boleh mengakhiri hidup manusia dalam keadaan bagaimanapun.

4.4. Kehidupan Manusia Adalah Kudus[8]

Kekudusan hidup manusia itu disebabkan oleh relasi ketergantungannya dengan Allah yang kudus yang juga tujuan akhir hidup manusia. Konsekuensinya serupa dengan di atas yaitu manusia tidak berhak untuk mengakhiri hidup manusia secara langsung karena itu berarti menghentikan relasi manusia dengan Yang Kudus yang nota bene tak bisa dilepaskan oleh manusia. Menentang relasi kasih Allah terhadap manusia itu juga berarti menentang kasih Allah sendiri terhadap manusia.

5. Hidup Manusia Bernilai Tinggi

Evangelium Vitae 31 menjelaskan bahwa dalam keadaan apapun hidup manusia tetap bernilai.[9] Keadaan jasmani dan rohani bukan ukuran bernilai tidaknya hidup manusia. Kerusakan jasmani seseorang bukanlah dasar bagi seseorang untuk menilai bahwa hidupnya tak bermakna. Demikian juga kecantikan dan ketampanan fisik seseorang bukan dasar untuk menilai bahwa hidupnya bermakna. Demikian pula suka duka hidup bukan ukuran dasar dari makna hidup manusia. Nilai tinggi hidup manusia terletak pertama-tama pada relasinya dengan Allah sendiri; Citra Allah, Anugerah Allah, Milik Allah, Kudus seperti Allah. Selain itu, hidup fana manusia juga memiliki nilai yang tinggi karena hidup fana manusia mengandung benih keseluruhan dan kepenuhan yang akan terpenuhi dalam hidup ilahi abadi (EV 31).[10]

Penderitaan kerapkali dinilai sebagai bencana atau bahkan mungkin buah dari dosa. Sehingga penderitaan itu sama sekali tak bermakna penderitaan hanya mensengsarakan manusia dan membuat manusia putus asa. Apakah benar demikian? Menurut ajaran kristiani, penderitaan secara khusus pada waktu menjelang kematian, memiliki tempat yang khusus dalam rencana keselamatan Allah. Penderitaan itu adalah tanda seseorang ikut ambil bagian dalam sengsara Kristus dan bersatu dengan kurban penebusan Kristus yang mempersembahkan ketaatannya pada kehendak Bapa.[11]

6. Pandangan dan Sikap Gereja Katolik tentang Eutanasia

Sikap Gereja sangat tegas menghadapi persoalan ini dan gereja sangat hati-hati dalam mengambil sikap. Moral gereja memberikan distingsi-distingsi yang tajam mana eutanasia yang boleh dilakukan dan mana yang tak boleh dilakukan dan moral gereja memberikan prinsip-prinsip yang tegas namun tetap mengandaikan kejujuran manusia yang melaksanakan prinsip-prinsip moral itu. Moral gereja Katolik membedakan eutanasia dalam dua hal eutanasia direk dan indirek. Dan moral gereja tetap memegang prinsip-prinsip ajaran Yesus sendiri soal hidup manusia.

6.1. Eutanasia Direk [12]

Eutanasia Direk adalah suatu tindakan manusia yang memaksudkan adanya kematian terhadap seseorang atau pengakhiran hidup seseorang. Dalam hal ini moral gereja Katolik dengan tegas menolak kematian seseorang sebagai tujuan tindakan karena memaksudkan hal yang jahat atas hidup seseorang merupakan perampasan terhadap hak dan anugerah yang menjadi wewenang Allah. Moral gereja Katolik menyentuh soal motif. Kekeliruan pada ranah motif atau maksud merupakan kekeliruan yang amat besar. Sungguh suatu refleksi moral yang mengagumkan.

Eutanasia direk, terbagi atas dua jenis eutanasia direk aktif dan eutanasia direk pasif. Motif keduanya sama yaitu memaksudkan hal buruk atas hidup seseorang namun dengan tindakan yang berbeda.

6.1.1. Eutanasia Direk Aktif

Eutanasia direk aktif merupakan pematian seseorang yang dimaksudkan sebelumnya entah karena motif kasihan atau ingin meringankan penderitaan seseorang dengan mengakhiri hidup seseorang dengan cara memberikan suntikan, atau obat dengan kadar yang mematikan (overdosis) atau tindakan-tindakan medis lain yang memang bertujuan untuk mematikan seseorang. Baik orang yang sudah sakit dan menjelang kematian maupun orang jompo dan orang cacat yang mungkin dipandang tak berguna lagi.

6.1.2. Eutanasia Direk Pasif

Eutanasia direk pasif merupakan pematian seseorang yang dimaksudkan sebelumnya dengan jalan membiarkan pasien mati tanpa menerima atau diberi perawatan yang mungkin bisa menyelamatkan jiwa pasien itu. Ini biasanya terjadi pada orang sakit yang menurut dokter tak tersembuhkan dan diambang kematian dan orang jompo menjelang kematian.

6.2. Eutanasia Indirek [13]

Dalam moral Katolik dikenal prinsip satu perbuatan dengan akibat ganda. Eutanasia indirek berkaitan erat dengan prinsip itu. Eutanasia indirek merupakan suatu tindakan atas seseorang dengan tujuan atau maksud baik terhadap pasien namun memiliki akibat sampingan kematian pasien. Eutanasia inilah yang diterima dalam gereja. Eutanasia yang diterima gereja ini mensyaratkan empat hal yaitu 1) perbuatan itu harus in se baik, 2) akibat positif keluar bersamaan dengan akibat negatif, 3) maksud pelaku harus baik, dan 4) ada alasan yang seimbang artinya tak ada jalan lain untuk mencapai akibat yang positif kecuali akibat positif yang dituju memiliki akibat yang negatif juga.

Eutanasia ini terbagi atas dua macam yaitu eutanasia indirek aktif dan pasif. Keduanya memiliki sama-sama mensyaratkan empat hal sebagaimana dituliskan diatas namun memiliki perbedaan bentuk tindakan.

6.2.1. Indirek Aktif

Eutanasia indirek aktif adalah tindakan terhadap seseorang dengan tujuan atau maksud yang baik yaitu dengan memberikan perawatan kepada pasien yang tujuannya misalnya: untuk mengurangi penderitaan namun perbuatan dan maksud perbuatan yang baik itu mengandung konsekuensi hal buruk pada pasien yakni kematian. Namun ini juga mensyaratkan alasan yang seimbang yaitu apakah tindakan itu memiliki hasil yang lebih tinggi nilainya bagi pasien dari pada akibat buruk yang harus ditanggung pasien. Kalau sudah memenuhi empat syarat-syarat itu, tindakan itu secara moral katolik boleh dilakukan.

6.2.2. Indirek Pasif

Eutanasia indirek pasif adalah tindakan terhadap seseorang dengan tujuan atau maksud yang in se baik, dan alasan yang seimbang. Namun tindakan yang diambil adalah menghentikan perawatan terhadap pasien karena misalnya: karena hasil yang diharapkan tak pernah tercapai, kematian mendekat dan itu tak dapat dicegah dengan sarana bagaimanapun maka pemakaian sarana bisa dihentikan. Namun keputusan demikian itu harus diambil dengan jujur dan hati nurani yang jernih.

6.3. Keputusan Moral Mengandaikan Hati Nurani Yang Jujur

Dalam usaha menentukan alasan yang seimbang atas tindakan eutanasia indirek sangat mengandaikan nurani yang jernih dari pihak medis (Dokter), orang-orang yang memiliki “kuasa” atas pasien atau wali pasien dan pasien sendiri. Artinya nurani yang jujur mempertimbangkan nilai hidup manusia, tindakan yang in se baik, dan maksud yang murni baik bagi pasien serta alasan yang seimbang dimana martabat hidup manusia dijunjung tinggi.

Orang-orang yang berperan dalam mempertimbangkan hal ini adalah wali pasien, dokter, bila mungkin pasien sendiri, dan bila ada petugas pastoral.

7. Refleksi

Mencermati jalan pikiran gereja katolik dalam mendasarkan pandangannya tentang eutanasia terbersit kekaguman dalam diri kami. Dasar pandangan gereja amat kuat, dan cermat. Gereja juga memiliki prinsip dan sikap yang jelas dan tegas atas masalah eutanasia. Dan itu diutarakan secara cukup jelas, rinci, dan teliti.

Di mata teologi katolik manusia ditempatkan pada posisi yang tinggi; ditempatkan dalam relasinya dengan Allah sendiri. Karena itulah maka menggagas masalah “pemusnahan” hidup manusia (misalnya: eutanasia) tak dilepaskan dari relasi manusia dengan Allah. Menggagas “pemusnahan” hidup berarti berhadapan dengan Allah sendiri. Ini sungguh suatu jalan pikiran yang khas gereja Katolik.

Mencermati masalah eutanasia menurut kami sikap yang paling mendasar adalah menghormati kehidupan. Menghormati kehidupan berarti menjunjung tinggi kehidupan, tak pernah memaksudkan hal yang buruk atas hidup sendiri dan orang lain. Mungkin orang akan bertanya mengapa sikap dasarnya menghormati kehidupan? “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” (Mrk 8:37). Kekayaan seluruh dunia samasekali tidak sebanding dengan hidup. Dan “orang akan memberikan segala yang dipunyainyaganti nyawanya” (Ayb 12:15). Kehidupan amat berharga. Kehidupan merupakan dasar bagi manusia untuk berkembang melaksanakan panggilannya dan bisa menikmati rahmat-rahmat Allah yang lain. Bagaimana bila hidup seseorang sakit keras dan menderita serta keadaannya terminal dan bahkan diperkirakan dalam waktu dekat hidupnya akan berakhir karena kondisinya? Penderitaan dalam iman kristiani memiliki makna yang besar yakni ikut ambil bagian dalam sengsara dan wafat Kristus. Jadi penderitaan memiliki makna.

DAFTAR PUSTAKA

Embuiru, P. Herman, SVD, Penterjemah, Katekismus Gereja Katolik, Ende: Arnoldus, 1995.

Go, Piet, Dr., O.carm, Kabar Baik Kehidupan, Pengantar Memahami dan Mengamalkan Enseklik Evangelium Vitae, Malang: Dioma, 1996.

______, Hidup Dan Kesehatan, Malang: STFT Widya Sasana, 1984.

Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Yogyakarta: Kanisius dan Jakarta: Obor, 1996.

Lammers, E., Stephen dan Ellen Verlty, On Moral Medicine, Theological Perspectives In Medical ethics, WM.B Eerdmans: Grand Rapids Michigan, 1989.

Walker, D.F., Dr., Konkordansi Alkitab, Yogyakarta: Kanisius dan Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1978.

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1202/14/0802.

http://www.mail-archive.com/berita@rnw.nlmsg00790.html.

Blog ini dibuat sebagai ajang berbagi semangat pelayanan kepada orang kecil. Ozanam sang pendiri SSV adalah seorang tokoh awam yang besar. Ia mengumpulkan banyak orang muda untuk terlibat dalam pelayanan terhadap orang miskin. Tujuannya adalah untuk mewujudkan imannya dalam hidup bersama. Di Indonesia, SSV berjumlah ratusan. Dan sudah berkarya selama puluhan tahun di Indonesia. Untuk itu maka sudah sepantasnya, kalau ada literatur berbahasa Indonesia yang bisa membantu untuk mendalami semangat yang diwariskan oleh Ozanam, Sang Pendiri. Kami berharap blog ini bisa membantu mengenal semangat Ozanam. Kami berterimakasih kepada beberapa orang yang ikut terlibat dalam penggarapan blog ini. * Fr. Kurniawan, CM * Diana * Fr. Wawam, CM God Bless Us



[2] K. Bertens, Perspektif Etika, Esai-esai Tentang Masalah Aktual, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

[4] Stephen E. Lammers dan Ellen Verlty, Op.Cit.

[5] Dr. P. Go O.Carm, Hidup Dan Kesehatan, Malang: STFT Widya Sasana, 1984.

[6] P. Herman Embuiru, SVD, Penterjemah, Katekismus Gereja Katolik, Ende: Percetakan Arnoldus, 1995. Hal 122-123.

[7] Bdk. Roma 14:8; l Kor 3:23; l Kor 6:19.

[8] Bdk. P. Herman Embuiru, Penterjemah, Op.Cit. Hal 574.

[9] Bdk. Dr. Piet. Go O.Carm, Kabar Baik Kehidupan, Pengantar Memahami Dan Mengamalkan Enseklik Evangelium Vitae, Dioma, Malang, 1996. Hal 33.

[10] Ibid. Hal 34

[11] Stephen E. Lammers dan Ellen Verlty, On Moral Medicine, Theological Perspectives In Medical ethics, WM.B Eerdmans, Grand Rapids Michigan, 1989. Hal 443.

[12] Dr. P. Go O.Carm, Op.Cit. hal 366

[13] Ibid. Hal 38

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: