GENGSI ATAU KEHORMATAN ?

1. Permasalahan

Akhir-akhir ini sebagian besar masyarakat Indonesia diterpa demam Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Orang tua, kaum muda, remaja dan anak-anak mengarahkan perhatiannya pada tontonan televisi yang bernama AFI itu. Tontonan itu, menjadi bahan pembicaraan sehari-hari sebagian besar masyarakat kita. Di sisi lain tontonan itu memberikan inspirasi dan menggerakkan para kaum muda untuk ikutserta menjadi peserta AFI dan menjadi bintang terkenal. Ini tampak jelas pada antusiasme kaum muda untuk mendaftarkan diri sebagai calon akademia; para peserta audisi AFI di Bandung berjumlah 1122 orang, di Surabaya 770 orang, Medan 350 orang, Jakarta 4300 orang.[1] Animo penonton dan minat kaum muda untuk ikut kompetisi yang amat besar itu, menggelitik para sosiolog ataupun pengamat sosial budaya untuk merefleksikan fenomena itu. Sebagian mengambil kesimpulan bahwa animo penonton dan minat peserta yang besar terhadap AFI menunjukkan bahwa masyarakat kita banyak dikendalikan oleh media televisi. Namun juga ada yang melihat bahwa AFI adalah ajang bisnis yang amat besar. Selain itu sebagian lagi melihat bahwa AFI adalah wadah yang baik bagi kaum muda untuk mengembangkan bakatnya. AFI dipandang sebagai ajang untuk meraih prestasi bergengsi dan akhirnya membuat para memenangnya populer dan dipuja oleh masyarakat. Bila direfleksikan dari sudut pandang moral, fenomena bintang AFI itu, gengsi atau kehormatan? Apa sebenarnya gengsi? Apa kehormatan?

 

2. Apakah AFI?

Akademi Fantasi Indosiar (AFI) adalah ajang kompetisi para kaum muda dalam bidang tarik suara. Kompetisi itu berlangsung selama 70 hari. Dalam selang waktu itu, 12 akademia yang telah lolos dari audisi, diberi teori dan langsung praktek menyanyi, selain itu mereka didampingi beberapa psikolog yang membimbing kepribadian mereka dan juga para penata gerak yang melatih akademia mengekspresikan lagu yang dinyanyikan dengan gerakan yang menarik, dan lain-lain. Kemudian setiap hari Sabtu malam, 12 akademia itu, konser bersama. Konser itu ditayangkan TV yang bersangkutan. Pada waktu konser itu, mereka diharapkan menunjukkan kemampuan terbaiknya kepada para penonton dan komentator. Dan pada waktu itu, penampilan akademia dikomentari; dikritik ataupun dipuji oleh para komentator yang kompeten dalam hal menyanyi. Tujuan komentar itu adalah untuk menunjukkan apa yang kurang dan apa yang sudah baik namun perlu dikembangkan oleh para akademia sehingga para akademia semakin maju dalam bidang tarik suara. Selama konser itu para penonton dipersilahkan untuk mendukung akademia favoritnya dengan SMS. Akademia yang mendapat dukungan paling sedikit, tereliminasi sehingga tidak ikut lagi dalam kompetisi. Sementara yang tidak tereliminasi tetap melanjutkan pendidikan di AFI begitu seterusnya hingga terpilih akademia yang terbaik menurut penonton. Para akademia terbaik itu mendapatkan hadiah yang besar dan menjadi bintang yang terkenal. Namun 11 akademia yang lain juga tetap dipuja. Singkatnya 12 akademia yang terpilih, kalah ataupun menang tetap menjadi bintang / seleb / artis / orang terkenal dan mereka tetap diberi kesempatan untuk konser dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh TV yang bersangkutan. Tawaran gratis dari TV yang akan menjadikan seseorang yang lolos audisi menjadi bintang terkenal itulah yang merangsang para kaum muda untuk ikut serta dalam kompetisi AFI dan yang membuat orang tua mendorong anak-anaknya untuk mengembangkan bakat menyanyinya.

Fenomena antusiasme kaum muda untuk mengikuti AFI dan menjadi bintang, dari segi moral mengejar kehormatan atau gengsi?

 

3. Gengsi dan Kehormatan

3.1. Gengsi [2]

Gengsi berasal dari kata prestige, kata ini berasal dari kata dalam bahasa latin praestigae artinya mengusap, menjamah, menyilaukan. Makna kata itu dalam bahasa Indonesia tidak begitu ditonjolkan. Dalam ilmu sosial, prestige adalah sebutan untuk pengaruh yang tidak mudah dijelaskan. Dikatakan demikian karena pengaruh itu sulit dijelaskan dari mana dasar dan asalnya. Pengaruh itu terlontar dalam diri seseorang begitu saja. Pengaruh itu berasal dari seseorang secara pribadi atau dari kelompok orang. Selain itu prestige juga merupakan sebutan untuk bentuk-bentuk demonstratif penghargaan sosial misalnya mengejar pengakuan sosial, pangkat, dan lain sebagainya. Itu semua menonjolkan kenegatifan makna gengsi.

Dewasa ini kata gengsi tidak terlalu bernada negatif. Secara sosiologis, gengsi menunjuk pada suatu keadaan tingkat pangkat, ataupun lapisan masyarakat yang didasarkan oleh kesepakatan dari masyarakat. Bagaimana gengsi itu diperoleh? Gengsi bisa diperoleh seseorang karena keutamaan yang ia hayati, prestasi yang ia peroleh, ataupun sifat-sifat seseorang. Misalnya: siswa yang berprestasi di sekolah, seorang yang berekonomi baik dan dermawan, dsb. Selain itu, gengsi juga bisa diperoleh seseorang karena ia menjadi anggota suatu kelompok atau masyarakat tertentu, misalnya: kelompok orang yang berpenghasilan besar, kelompok para pejabat pemerintahan, tinggal di suatu kawasan tertentu, pengurus partai politik tertentu dan lain sebagainya. Misalnya: anak seorang bangsawan, tinggal di Baverly Hills, tinggal di kraton kesultanan Yogyakarta, dsb.

 

3.2. Kehormatan[3]

Dewasa ini kata kehormatan dipadankan dengan kata harga diri, kemurnian atau keperawanan. Oleh karena itu, bila seorang wanita dinodai ia dikatakan kehilangan kehormatannya. Pada dasarnya kehormatan memiliki makna yang mendalam melebihi makna seperti itu. Kehormatan pada dasarnya adalah penghargaan yang dinyatakan kepada seseorang berdasarkan nilainya. Nilai itu adalah keutamaan yang ada pada subyek, nilai diri subyek. Nilai pada hakekatnya mengalir dari martabatnya sebagai manusia. Namun nilai itu semakin menonjol dan secara emosional, menimbulkan perasaan hormat, ketika seseorang menghayati keutamaan hidup.

Penghormatan itu berasal dari orang lain disekitarnya. Namun pengakuan orang disekitarnya itu bukan syarat adanya penghormatan. Kehormatan seseorang tidak tergantung pada pengakuan sosial. Selain itu, nilai pada subyek itu, idealnya diakui oleh masyarakat. Namun sekali lagi itu bukan syarat mutlak. Kehormatan seseorang pada hakekatnya didasarkan atas kodrat manusia. Oleh karenanya pada dasarnya setiap orang berhak dan wajib untuk dihormati dan menghormati.

Kitab Suci mengungkapkan kekayaan makna kehormatan. Tuhan dan sesama-lah “subyek” yang menurut Kitab Suci perlu mendapatkan kehormatan. Kitab Suci juga mengungkapkan bahwa kehormatan itu merupakan buah dari keutamaan. Amsal 22:4, “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Allah adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan”. Dalam kaitannya dengan tata hidup bersama, Kitab Suci menegaskan pentingnya membangun sikap hormat kepada sesama. Menghormati sesama berarti mengakui kedudukannya dalam masyarakat. Misalnya: Hormat kepada raja (1 Sam 15:30), hormat kepada orang tua (Kel 20:12), dll. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma 12:10 menuntut sikap hormat, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat”. Lalu apa dasar manusia menghormati orang lain? Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Tesalonika 4:1-8 mengungkapkan bahwa penghormatan seseorang terhadap orang lain dasarnya adalah martabatnya sebagai ciptaan Tuhan. Bagaimana itu diwujudkan? Dengan hormat pada martabat manusiawi seseorang.

3.3. Relasi Gengsi dengan Kehormatan

Dewasa ini relasi antara gengsi dan kehormatan dekat sekali. Bila orang mengungkapkan gengsi seseorang itu seolah sama dengan kehormatan seseorang. Namun bila diteliti lebih jauh dengan melihat dasar dari kehormatan, kita dapat menyimpulkan bahwa gengsi dan kehormatan pada dasarnya berbeda. Kehormatan tak bisa dilepaskan dari nilai keutamaan yang dihayati oleh subyek. Sementara gengsi diperoleh seseorang bisa terlepas dari soal keutamaan itu. Gengsi dapat diperoleh seseorang ketika ia berprestasi, maju dalam karir, kaya dsb.

Namun gengsi bisa terarah kepada kehormatan ketika orang menghayati prestasinya dengan diimbangi oleh perjuangan untuk menghayati keutamaan. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa gengsi adalah “kekurangan” dari kehormatan.

4. Kesimpulan: Penilaian Fenomena Bintang AFI secara Moral

Fenomena bintang AFI adalah fenomena menjadi bintang dalam waktu yang singkat. Namun waktu yang singkat itu bukan berarti tanpa kerja keras para akademia. Justru dalam waktu yang singkat itu, para akademia diuji kemampuan dan prestasinya. Prestasi merekalah yang membuat mereka menjadi orang yang terkenal. Oleh karena tawaran yang sangat menarik inilah maka banyak kaum muda-mudi tertarik untuk mengikuti AFI.

Bintang AFI termasuk gengsi dan bukan kehormatan. Kehormatan sulit dipahami bila diperoleh seseorang dalam waktu 70 hari. Kehormatan adalah soal penghayatan keutamaan-keutamaan hidup. Keutamaan itu perlu proses untuk menghayati dan mewujudkan dan untuk internalisasi itu, manusia memerlukan perjuangan yang tidak mudah dan waktu yang tidak singkat. Jadi secara moral, fenomena bintang AFI termasuk gengsi. Namun penomena AFI bisa menjadi salah satu tahap menuju kehormatan bila sang bintang dalam jati dirinya sebagai bintang mampu berjuang dan menghayati keutamaan hidup. Fenomena AFI adalah kekurangan dari kehormatan. Terlalu dangkal bila bintang AFI digolongkan sebagai kehormatan. Namun bintang AFI harus dihormati itu adalah suatu keharusan karena ia adalah ciptaan Allah yang bermartabat tinggi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Go, Piet, Dr., O.Carm., Diktat Moral Kehormatan, kebenaran, dan Kesetiaan, Malang: STFT Widya Sasana, tak bertahun.

Hardawiryana, R., SJ., (Penterjemah), Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1993.

KWI, Iman Katolik, Yogyakarta: Kanisius dan Obor, Jakarta, 1996.

LAI, Alkitab, Jakarta: LAI, 1995.

http://www.bernas.info/modules.php?name=News&file=article&sid=9223.

http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=4034.

http://www.islamuda.com/?imud=rubrik&menu=komentar&kategori=1&id=304.

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1003/20/0311/htm.

Kompas, Minggu 2 Mei 2004.

Surya, Minggu 2 Mei 2004.



[2] Dr. Piet Go, O.Carm, Diktat Moral Kehormatan, Kebenaran dan Kesetiaan, Malang: STFT Widya Sasana, hal. 27-29.

[3] Ibid., hal. 30.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: