Mewujudkan Keutamaan Cinta Kasih

enough for everyone?

 

I. Adakah Cinta Kasih?

Masih adakah cinta kasih di negeri ini? Apakah semakin sedikit orang yang takut akan Tuhan di negeri agamis ini? Begitulah kurang lebih pertanyaan yang muncul bila melihat kenyataan sosial di negeri ini. Berita tentang korupsi (pencurian), perampokan, pemerkosaan, penganiayaan, pembunuhan, membanjiri surat kabar, televisi, dan radio kita. Demikian juga berita kekerasan politik, diskriminasi etnis, pelecehan keyakinan politik, kekerasan lewat hukum dan perundang-undangan yang diskriminatif, juga merebak.

Di sisi lain juga banyak dermawan dan relawan di negeri ini. Ketika beberapa daerah di negara kita dilanda bencana alam, banyak sekali dermawan yang membantu para kurban bencana. Mereka mengumpulkan makanan kering, mie, pakaian, uang, dll. Demikian juga banyak relawan yang datang membantu, mengumpulkan mayat, menguburkan mayat, memberikan pendampingan bagi anak-anak yang kehilangan orang tua dan rumah tinggal, serta sekolah-sekolah mereka.

Melihat kenyataan demikian ini, masih adakah cinta kasih? Tidak bisa tidak, kita katakan ada cinta kasih di sana. Cinta kasih yang bagaimana? Apa dasar cinta kasih mereka? Bagaimana seharusnya cinta kasih itu dihayati oleh setiap orang?

Menanggapi situasi kemiskinan masyarakat dan kebutuhan Gereja yang tak kalah kacaunya dengan situasi kita saat ini, Vinsensius menemukan dasar, pola, dan cara penghayatan cinta kasih bagi orang miskin dan Gereja. Ia menghimpun para bangsawan untuk terlibat membantu orang miskin. Ia juga mendirikan Kongregasi Misi dan bersama Louisa de Marillac mendirikan Serikat Putri Kasih untuk melayani umat di desa-desa dan melayani kebutuhan orang miskin serta untuk menjamin kelangsungan pelayanan cinta kasih bagi orang-orang miskin dan Gerejanya itu.

 

II. Keutamaan Cinta Kasih

Keutamaan (virtus) secara harafiah artinya daya, kekuatan, keunggulan namun bersifat tetap. Dalam arti luas, keutamaan adalah kecakapan rohani manusia yang berkembang dengan sempurna.[1]

Keutamaan cinta kasih adalah kemampuan yang dicurahkan oleh Tuhan untuk tujuan hidup ilahi agar manusia dapat mencintai Tuhan, dirinya sendiri dan sesama.[2] Anugerah Tuhan berupa motif cinta terhadap diri sendiri dan sesamanya, itu semata-mata terarah untuk Tuhan saja dan bukan demi dirinya sendiri atau sesamanya.

 

Cinta Kasih Kristus sebagai Dasar Keutamaan Cinta Kasih Vinsensius

Cinta kasih Kristus yang diterima Vinsensius adalah pondasi keutamaan cinta kasihnya. Namun keutamaan Vinsensius itu ditemukan melalui suatu proses “timbal balik” antara anugerah cinta Kristus dan tanggapan atas cinta Kristus. Cinta kasih terhadap sesama adalah salah satu bentuk tanggapan atas cinta Kristus sekaligus anugerah Kristus. Bagaimanakah Vinsensius menemukan kesadaran akan anugerah cinta Kristus? Siapakah Kristus yang ditemukan Vinsensius?

 

III. Kristus dan Orang Miskin Dalam Pengalaman Vinsensius

a) Kristus Dalam Pengalaman Vinsensius

Penemuan Vinsensius akan Kristus adalah suatu proses yang panjang. Providentia Dei (penyelenggaraan ilahi) dalam pengalaman hidupnyalah yang membawa Vinsensius pada penemuan panggilannya. Kristus yang memanggil Vinsensius itu, dialami sebagai pribadi yang dekat dan hadir dalam diri orang miskin. Kristus yang ditemukan Vinsensius sebagai pribadi yang dekat dan hadir dalam orang miskin itulah yang merasuk dan mempengaruhi arah dari hidup Vinsensius dan Kongregasi Misi.

Berikut ini kami ungkap beberapa penyenggaraan ilahi yang menghantar Vinsensius pada penemuan akan Kristus dan kehendakNya

 

Pengalaman Godaan iman

Suatu ketika Vinsensius bertemu dengan seorang teolog yang mengalami pencobaan iman yang begitu hebat. Ia begitu menderita. Ia menceriterakan segala pergolakan imannya kepada Vinsensius. Usahanya yang sudah bermacam-macam dan bertahun tahun tak juga membuahkan hasil. Kemudian Vinsensius meminta kepada Kristus supaya memindahkan godaan iman itu kepada dirinya sehingga teolog itu terbebas dari godaan iman. Doa Vinsensius dikabulkan oleh Tuhan. Maka selama tiga atau empat tahun Vinsensius mengalami krisis iman.

Ia mencoba berbagai cara untuk mengatasi krisis itu. Ia berdoa dan bermatiraga namun itu semua seolah-oleh tidak berdampak apa-apa. Ia lalu mencoba cara lain dengan menuliskan Credo dan menempatkannya pada dadanya sebagai ungkapan tindakan iman. Kemudian ia mengikrarkan niat untuk melayani Tuhan dalam diri orang miskin. Niat itu diwujudkan dengan mengunjungi orang-orang sakit di rumah sakit terdekat.[3] Setelah menyatakan niat untuk membaktikan hidup bagi pelayanan terhadap orang miskin, Vinsensius menemukan kembali imannya.

 

“…. dia berpikir untuk berketetapan hati secara teguh dan tak tergoyahkan untuk menghormati Yesus Kristus dan untuk meneladanNya secara lebih sempurna dari pada sebelumnya dengan membaktikan seluruh hidupnya bagi pelayanan kaum miskin. Segera sesudah ia melakukan hal itu, karena daya rahmat yang mengagumkan, godaan roh jahat itupun lenyap.”[4].

 

Cinta kasih Kristus yang begitu besar telah membebaskan Vinsensius dari krisis godaan iman. Kristus yang membebaskannya menghendakinya untuk membaktikan seluruh hidupnya bagi pelayanan terhadap orang miskin. Orang miskin begitu dicintai oleh Kristus sehingga Kristus memanggil Vinsensius bagi mereka. Di sini Vinsensius menemukan bahwa Kristus menghendakinya membaktikan seluruh hidup bagi pelayanan terhadap kaum miskin. Kristus yang ditemukannya adalah Dia yang mencintai orang miskin. Kristus adalah pelayan orang miskin.

 

Pengalaman di Folleville

Suatu ketika Vinsensius dipanggil untuk menerima pengakuan dosa seorang yang sakit parah. Orang itu dikenal sebagai seorang yang baik di desa itu. Namun ia memiliki dosa berat yang tak pernah diakukannya sebelumnya ketika pengakuan dosa karena dia malu. Setelah beberapa waktu, orang itu menceritakan kepada Nyonya de Gondi kenalan Vinsensius[5]: “Ibu, apabila saya tadi tidak melakukan pengakuan dosa seluruh hidupku maka saya akan binasa untuk selamanya karena sebelumnya saya tidak berani menyatakan dosa-dosa itu dalam pengakuan dosa”. Tak lama kemudian orang itu meninggal. Nyonya Gondi menceritakan apa yang dikatakan orang itu kepada Vinsensius. Dan ia mengusulkan kepada Vinsensius supaya memberikan kotbah mengenai tema yang sama yakni tema sikap takut akan Kristus. Melihat usulan dan kenyataan iman umat yang demikian itu, Vinsensius mewujudkan usulan itu.

 

“…. Pada hari berikutnya saya memberi khotbah dan ternyata sedemikian diberkati Tuhan sehingga semua penduduk daerah itu datang untuk melakukan pengakuan dosa seluruh hidup”. [6]

Penyelenggaraan Ilahi kembali menunjukkan kepada Vinsensius bahwa ada kemiskinan iman yang luar biasa diantara umat pedesaan. Ia mengimani bahwa Kristus menghendakinya untuk memperhatikan iman orang-orang desa yang demikian tidak mengerti imannya. Pembaktian diri kepada orang miskin yang menjadi ketetapan hatinya saat pembebasan Kristus dari godaan iman kini lingkupnya diperluas. Orang miskin itu bukan hanya orang miskin jasmani saja melainkan orang yang miskin jasmani dan rohani.

Kristus kembali memanggil Vinsensius untuk mengikuti Kristus sang pewarta kabar gembira kepada orang miskin (Luk 4:18-19).

 

Pengalaman di Chatillon le Dombes.

Pada suatu hari Minggu, Vinsensius diberitahu oleh salah seorang umat bahwa di suatu rumah terpencil yang terletak sekitar satu kilometer dari Gereja Paroki, ada satu keluarga miskin yang semua anggotanya sakit. Tidak ada seorangpun dapat merawat mereka. Vinsensius benar-benar terharu. Dalam kotbah misa hari Minggu itu, Vinsensius mendesak umat agar rela menolong mereka. Kristus menyentuh hati umat, sehingga semua yang hadir misa dipenuhi rasa belaskasihan terhadap keluarga yang malang itu. Setelah Vesper, Vinsensius bersama seorang Bapak pergi untuk mengunjungi keluarga yang malang itu. Ternyata telah banyak orang yang datang memberikan bantuan kepada keluarga yang miskin dan malang itu.[7] Sehingga banyak sekali bantuan yang terkumpul.

Kristus menunjukkan kasihNya kepada keluarga yang miskin dan malang itu. Banyak umat membantu mereka. Vinsensius semakin diteguhkan bahwa orang miskin yang adalah Kristus sendiri memerlukan bantuan jasmani selain bantuan rohani.

Penyelenggaraan Ilahi dalam peristiwa-peristiwa konkret itu, menyadarkan Vinsensius bahwa Kristus demikian mencintai orang miskin. Kristus adalah Pewarta Kabar Gembira bagi orang miskin. Yesus mengidentikkan diriNya dan bersemayam dalam orang miskin. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Orang miskin adalah representasi Yesus Kristus sendiri. Dia yang tinggal dalam orang miskin menganugerahkan panggilan pada Vinsensius untuk melayani Dia dalam orang miskin. Kesadaran akan panggilan dan pengenalannya akan Kristus yang dianugerahkan oleh Tuhan itu, dihidupi oleh Vinsensius dan diejawantahkan dalam komitmen pelayanan bagi orang miskin bersama dengan Kongregasi Misi dan Puteri Kasih yang didirikannya.

 

b) Orang Miskin adalah Majikan

Penemuan Vinsensius bahwa Kristus hadir dalam diri orang miskin membawa konsekuensi pada cara pandang terhadap orang miskin. Karena identifikasi Kristus dalam diri orang miskin, maka orang miskin adalah “guru dan majikan” yang harus kita layani. “ … tugas terpenting dan apa yang diminta Kristus dari Anda, ialah melayani orang miskin, yang adalah tuan-tuan kita…”.[8]

Bergaul dengan orang miskin yang dilayani dengan demikian bukan lagi dalam relasi penolong dan yang ditolong, apalagi bos dengan anak buah. Relasi yang terjalin dengan demikian adalah relasi persaudaraan dalam sikap hormat dan penghargaan yang tinggi terhadap pribadi mereka. Maka seorang pelayan bagi orang miskin perlu memiliki keutamaan kerendahan hati dan kelembutan hati. Dengan demikian semakin dimungkinkan mengalami kehadiran Kristus secara konkret dalam diri orang miskin.

 

“… bersikaplah halus dan lembut dalam pergaulanmu dengan kaum miskin. Kalian tahu bahwa merekalah majikan kita. Kita harus mencintai mereka dengan manis dan halus serta menghormati mereka. Tidak cukup bila sikap itu kamu yakini secara batin saja; cinta kasih dan kehalusan harus nampak secara konkret”.[9]

 

Pelayanan terhadap orang miskin dengan demikian bukan hanya terhadap orang miskin namun diimani sebagai perwujudan cinta kepada Kristus Sang Pewarta Kabar Gembira kepada orang miskin.

 

IV. Keutamaan Cinta Kasih sebagai Dasar Pelayanan

a) Mengenakan Roh Kristus

Pelayanan kepada orang miskin adalah aksi untuk melanjutkan apa yang dikerjakan Kristus sendiri. Dasar untuk melanjutkan misi Kristus itu adalah mengidentifikasi diri dengan Kristus. Oleh karena itu, dalam pelayanan terhadap kaum miskin, pelayan orang miskin perlu mengenakan Roh Kristus sendiri. Mengenakan Roh Kristus berarti ada dalam relasi intim atau persatuan dengan Kristus sendiri.

Bagi Vinsensius, bisa dikatakan bahwa mengenakan Roh Kristus adalah syarat mendasar seorang pelayan bagi orang miskin. Dengan mengenakan Roh Kristus dalam dirinya maka pelayanannya bagi orang miskin bukan hanya sekedar aktivisme melainkan suatu wujud pelayanan kepada Kristus sendiri. Dengan kata lain, Kristus dalam orang miskinlah yang dilayani dan bukan hanya sesama saja.

Roh Kristus itu dianugerahkan oleh Allah sendiri. Roh Kristus mendorong dan memberikan disposisi Kristus sendiri sehingga sebagaimana dikatakan Paulus, akhirnya “Aku hidup tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). Oleh karenanya Vinsensius menganjurkan kepada imam-imamnya demikian:

 

“Karena Kongregasi ini, berkat bantuan Rahmat ilahi, mau mencapai cita-cita yang dikenakan pada dirinya sendiri, maka perlulah Kongregasi berusaha keras untuk mengenakan Roh Kristus yang menyatakan diriNya secara khusus di dalam ajaran Injil”[10].

 

Pengenaan Roh Kristus memungkinkan pencapaian keserupaan dengan Kristus, sehingga Kristus Sang Pelayan Orang Miskin dapat dihadirkan kembali dalam pelayanan bagi orang miskin. Lebih dari itu, Kristus bisa menjadi acuan dan sasaran seluruh tindakan kita.

b) Menjadi Rasul dalam Karya dan Kartusian dalam Doa

“Hidup yang hening ini menumbuhkan karinduan untuk berkarya di pedesaan, sementara pekerjaan menumbuhkan kerinduan akan keheningan”.[11]

 

Doa merupakan acara yang sangat penting dalam pelayanan. Hidup doa yang baik adalah persiapan yang menjamin kesuburan kerasulan. Sebaliknya kerasulan tanpa diimbangi dengan doa maka kerasulan itu akan menjadi aktivisme dan kehilangan nilai terdalamnya. Yakni nilai iman bahwa kerasulan itu sebagai wujud cinta kepada Kristus yang tinggal dalam sesama.

Kristus dan para murid melaksanakan latihan rohani. Kristus dan para murid selalu ke bait Allah, menyendiri dalam keheningan dan menyediakan waktu untuk berdoa. Oleh karenanya sebagai pengikut Kristus Sang Pewarta Kabar Gembira kepada orang miskin, Kongregasi Misi harus meneladan Dia dalam doa selain dalam karya. Karena Kristuslah peraturan Kongregasi. Latihan rohani demikian itu membuat anggota lebih efektif mewujudkan karya sebagaimana menjadi kharisma Kongregasi.

Doa adalah ungkapan cinta kepada Kristus. Dalam doa, segala yang dirasakan, dialami, diungkapkan kepada Kristus. Dengan pengungkapan itu, dalam keheningan orang lalu diarahkan Roh Kristus untuk menemukan kehendak Kristus atas hidupnya. Cinta kepada Kristus dan cinta kepada sesama akan semakin terpupuk

 

V. Mewujudkan Keutamaan Cinta Kasih

a) Cinta Kasih yang Efektif

“Marilah mengasihi Kristus, Saudara-saudara, tetapi dengan pekerjaan tangan kita, dengan keringat kita. Karena seringkali banyak ungkapan kasih kepada Kristus penuh kemesraan yang muncul dalam hati yang lemah lembut, amat baik dan sangat pantas dirindukan; tetapi semua itu patut di ragukan bila tidak sampai pada kasih efektif”

 

Kasih kepada Tuhan itu prioritas utama. Tuhan adalah pribadi seharusnya dicintai lebih dari segala sesuatu. Maka perbuatan membenci Tuhan berarti melanggar hukum cinta kasih dan kemalasan atau tidak bekerja keras adalah pelanggaran terhadap cinta akan Kristus.

Namun kasih kepada sesama juga tak terpisah dari kasih kepada Kristus. Kasih kepada sesama perlulah dilandasi oleh cinta kepada Kristus. Kasih kepada orang miskin dilakukan karena Tuhan dan bagaikan untuk Tuhan.

Bagi Vinsensius kasih kepada Kristus itu bukan sesuatu yang abstrak melainkan konkret. Konkret dalam pekerjaan atau pelayanan yang kita laksanakan bagi orang miskin. Karena Kristus ada dalam orang miskin. Namun pelayanan konkret itu bukanlah suatu pelayanan yang ogah-ogahan namun pelayanan yang dilaksanakan dengan keringat atau kerja keras. Suatu pelayanan yang efektif; kasih yang efektif.

Demi efektifnya pelayanan maka seorang pelayan orang miskin membutuhkan keutamaan kerendahan hati, mengerjakan pelayanannya sebagaimana untuk Tuhan dan bukan manusia, melayani sebagaimana seorang hamba kepada tuannya. Selain itu juga keutamaan simplisitas, dengan hadir dalam kesederhanaan dan tulus seperti merpati, juga keutamaan kelembutan hati, menyapa mereka dengan lembut penuh persaudaraan serta keutamaan matiraga dimana dalam pelayanan itu pelayan perlu mengalahkan egonya sendiri dan mengarahkan hati dan pikiran bagi mereka yang dilayani.

Jadi sentuhan pelayanan itu bukan hanya jasmani melainkan rohani. menyentuh dimensi kejiwaan, keimanan dan kemanusiaan orang yang dilayani.

 

b) Cinta Kasih yang Afektif

Cinta kasih yang afektif adalah cinta kasih yang dirasakan. Cinta kasih yang dirasakan artinya cinta kasih yang dilaksanakan dengan kegembiraan. Kegembiraan itu muncul karena merasakan dicintai oleh Kristus setiap hari. Dorongan syukur atas cinta kasih Kristus itulah yang menggerakkan hati untuk selalu setia kepada Kristus.

Cinta kasih kepada sesama seharusnya juga merupakan cinta kasih yang dirasakan. Cinta kasih yang dilakukan karena tergerak oleh belas kasih Kristus yang diterima setiap hari. Jadi bukan melulu kasihan melainkan karena didasari oleh syukur atas apa yang diberikan Kristus. Cinta kasih demikian itu tidak mungkin tidak muncul dari empati yang mendalam terhadap orang yang dilayani dan bukan simpati saja.

Cinta yang afektif ini diteladankan oleh Yesus sendiri dalam perjalanan karyaNya. Ketika seorang kusta datang kepadaNya, dan memohon: “’Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku’. Maka tergeraklah hatiNya oleh belaskasihan, lalu ia mengulurkan tanganNya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir’”. (Mrk 1:40-41).

VI. Penutup

Keutamaan cinta kasih sebagaimana dialami oleh Vinsensius kiranya memberikan sumbangan dalam menghadapi situasi konkret kekerasan, penganiayaan, penindasan di tengah selalu didengungkannya nama Tuhan yang banyak terjadi di negeri ini.

Cinta kasih itu bukan suatu hal yang abstrak, hanya tinggal dalam ajaran, cukup tinggal dalam paham di pikiran, melainkan suatu keutamaan yang perlu dihayati dalam kenyataan konkret. Sebagai suatu keutamaan, maka cinta kasih itu dianugerahkan oleh Allah namun tetap dalam dialog dengan keterbukaan dan kerendahan hati manusia. Sebagai suatu keutamaan, cinta kasih itu bukan untuk kemegahan diri. Melainkan suatu penghayatan iman yang diwujudkan bagi dan karena Kristus serta demi pengangkatan martabat orang miskin. Dan sebagai keutamaan, segi keluarnya berarti suatu yang dilakukan terus menerus.

Pengingkaran akan kewajiban moral untuk mencintai Kristus lebih dari segala sesuatu; suatu hati yang tak terbagi selain untuk Kristus dan cinta kepada sesama itu berarti suatu pelanggaran keutamaan cinta kasih. Demikian juga bermalas-malasan dalam hidup.

Jalan untuk menghayati keutamaan cinta kasih adalah: Pertama, orang pertama-tama perlu beriman dan bukan hanya beragama. Beriman berarti mempercayakan diri kepada kehendak Allah Yang Mahabaik. Menyadari bahwa hidup ini adalah pemberian Allah. Bagaikan seorang bayi dalam gendongan ibundanya yang tak kuatir akan dicelakakan atau akan disakiti dan yakin bahwa ibundanya akan memberikan yang terbaik baginya. Kedua, orang harus mencintai Tuhan lebih dari yang lain dan mencintai sesama sebagai saudara semartabat.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alkitab, LAI, Jakarta, 1985/1986

Banawiratma, J.B., SJ., (Editor), Hidup Menggereja Kontekstual, Yogyakarta: Kanisius, 2000.

de Paul, Vinsensius, Regulae Communes Congregationis Misionaris, Terjemahan CM Provinsi Indonesia. 1958,

Go, Piet, O.Carm, Teologi Moral Konkrit I, Keutamaan Teologal dan Keutamaan Religi, tanpa penerbit dan tahun.

Lierop, P. J. Van, Fr., CMM, Berbelaskasihlah!! Bersama Vinsensius dalam Gerakan Belaskasih, Malang: Serikat Kecil No. 27 – Th. XI Januari – Juni 1998.

Ponticelli, S., CM., (penterjemah), Dalam Bimbingan Santo Vinsensius, Malang: Diterbitkan oleh redaksi majalah Serikat Kecil sebagai edisi No. 17 dan 18, Seminari Tinggi CM, 1996.

Roman, J.M., CM, Santo Vinsensius de Paul, Hidup Panggilan dan Spiritualitasnya, Malang: Diterbitkan oleh redaksi majalah Serikat Kecil sebagai edisi No. 16 – Th. VI September – Desember 1991, Seminari Tinggi CM.

Sunaring, Tri, Visi Kristologis Vinsensius dan Implikasinya bagi Kita, Peristiwa yang Menghantar Vinsensius pada Penemuan Gambaran Kristus, Dalam Serikat Kecil, Vol. XVI No. 1 Maret – Agustus 2002.


[1] Rm. Piet Go O.Carm, Diktat Teologi Moral Konkret: Keutamaan Teologal dan keutamaan Religi, tanpa halaman dan tahun, hal 2.

 

[2] Ibid. hal 19.

[3] Tri Sunaring, Visi Kristologis Vinsensius dan Implikasinya bagi Kita, Peristiwa yang Menghantar Vinsensius pada Penemuan Gambaran Kristus, Dalam Serikat Kecil, Vol. XVI No. 1 Maret – Agustus 2002, hal 32-33.

[4] Ibidem.

[5] Nyonya de Gondi adalah seorang bangsawan kenalan Vinsensius. Ia menjadikan Vinsensius sebagai pembimbing rohaninya. Nyonya ini jugalah yang menyokong dana awal untuk melaksanakan karya misi dan berdirinya Kongregasi Misi.

[6] J.M. Roman, CM, Santo Vinsensius de Paul, Hidup Panggilan dan Spiritualitasnya, Malang: Diterbitkan oleh redaksi majalah Serikat Kecil sebagai edisi No. 16 – Th. VI September – Desember 1991, Seminari Tinggi CM, hal 21-22

[7] J.M. Roman, Op.Cit. hal 39-40

[8] Fr. P. J. Van Lierop, CMM, Berbelaskasihlah!! Bersama Vinsensius dalam Gerakan Belaskasih, Malang: Serikat Kecil No. 27 – Th. XI Januari – Juni 1998, hal 69

[9] Fr. P. J. Van Lierop, CMM, Op.Cit.

[10] Vinsensius de Paul, Regulae Communes Congregationis Misionaris, 1958, Terj. Terjemahan CM Provinsi Indonesis, 1 ayat 3.

[11] SV I : 122

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: