Bincang-Bincang Pagi

Keberpihakan Gereja Katolik kepada Masyarakat Yang Tertindas atau Masyarakat Yang Menindas?           

Bincang PagiJudul di atas merupakan tema dalam acara bincang-bincang pagi yang diadakan di Stasi St. Yakobus, Citra-Raya, Surabaya pada hari Minggu, 10 Juni 2007. Ada 2 pembicara dalam acara ini, yaitu: Romo Franz Magnis Suseno, SJ dan Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr., sedangkan Bapak Vincentius Awey bertindak sebagai moderator.             

Bincang-bincang pagi ini diawali oleh Romo Franz Magnis Suseno, SJ. Beliau menyebutkan 2 hal, yaitu: globalisasi dan kapitalisme, sebagai penyebab utama timbulnya kesenjangan yang lebih besar antara 2 kutub, si kaya dan si miskin. Si kaya, yang dalam hal ini dianggap sebagai yang mempunyai kekuasaan lebih besar, biasa dilihat sebagai mereka yang menindas si miskin, meskipun dalam diskusi lebih lanjut, tidak harus demikian adanya. Bahkan si miskin pun bisa menjadi mereka yang menindas si kaya, meskipun ini lebih jarang dijumpai.            

Romo Franz lebih lanjut menyatakan bahwa kita tidak bisa menutup mata atau menghindar dari globalisasi maupun kapitalisme. Beliau mengajukan contoh sebuah rumah sakit di Jakarta, yang berusaha mempertahankan kesederhanaan dalam perawatannya. Banyak pihak yang menyarankan bahkan mempertanyakan kenapa rumah sakit ini tidak berusaha menjadi lebih modern. Jawabannya adalah karena sekali mereka melakukan modernisasi, maka tidak akan ada tempat bagi mereka yang miskin, yang tentunya tidak sanggup membayar sesuai dengan ke-modern-an perawatan maupun peralatannya. Dilemanya adalah semakin banyaknya rumah sakit-rumah sakit lain yang telah melakukan modernisasi, sehingga mereka yang ‘berpunya’ lebih memilih untuk pergi ke sana.            

Cerita di atas tidak hanya berlaku untuk rumah sakit, atau dalam bidang kesehatan. Begitu pula yang terjadi di bidang pendidikan, di mana sekolah-sekolah katolik, atau dalam hal ini, yayasan-yayasannya, harus bijaksana dalam memilih antara modernisasi versus kesederhanaan. Salah satu cara untuk mengatasi ini adalah dengan melakukan ‘subsidi’ silang. Misalnya untuk uang sekolah, alangkah baiknya apabila mereka yang lebih mampu (kaya) membayar uang sekolah yang lebih besar sehingga sekolah dapat membantu anak-anak yang berasal dari keluarga yang miskin.             Hal penting yang harus diingat adalah bahwa kalau gereja memikirkan ‘duit’ adalah sama dengan orang-orang kebanyakan yang juga memikirkan ‘duit’. Sikap yang diharapkan dari gereja adalah adanya solidaritas dengan mereka yang tertindas, seperti yang dicontohkan oleh Yesus sendiri semasa hidupnya. Sikap solider Yesus ini ditunjukkan dalam banyak perikop Kitab Suci, di antaranya:

          … namun Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya … à solidaritas dalam kekurangan akan adanya tempat tinggal

          … Eli, Eli lama sabakhtani … (Allahku, ya Allahku, kenapa Kautinggalkan Aku?) à bahkan sampai kekurangan Allah sendiri.

Solidaritas Yesus inilah yang menjadi dasar solidaritas gereja terhadap kaum miskin atau tertindas.            

Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana gereja memperlakukan atau melibatkan kaum miskin? Sebuah contoh lagi dari Romo Franz berkaitan dengan tantangan ini. Ketika suatu malam beliau sedang antri beli martabak dan berbincang-bincang dengan seorang bapak yang juga sedang dalam antrian. Si Bapak bertanya apakah Rm. Franz pergi ke gereja dan di gereja mana. Rm. Franz menjawab bahwa beliau dari gereja katolik dan balik bertanya apakah si bapak juga ke gereja. Jawaban dari si Bapak cukup mengejutkan, dan setidaknya bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua. Si Bapak menjawab bahwa dia dulunya rajin pergi ke gereja, tapi kemudian gereja tersebut dibangun menjadi lebih indah, lebih bagus, lebih megah dan si Bapak berhenti ke gereja karena merasa bahwa dia tidak punya baju yang cukup pantas untuk masuk ke gereja tersebut. Lebih jauh lagi Rm. Franz mempertanyakan, akankah Yesus sendiri merasa kerasan berada dalam gedung gereja yang begitu megahnya?            

Tantangan ini tentunya membutuhkan jawaban dari kita semua yang adalah gereja itu sendiri. Sampai sejauh manakah keberpihakan atau solidaritas kita kepada kaum miskin/tertindas? Rm. Franz menyatakan bahwa kita dipanggil untuk menjadi saksi karya cinta kasih dalam masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi beliau menyatakan bahwa masa depan gereja di Indonesia tergantung pada tampaknya semangat Yesus dalam masyarakat.            

Bagian kedua dari acara bincang-bincang pagi ini adalah dari Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr. Beliau ditahbiskan menjadi Uskup untuk Keuskupan Surabaya pada tanggal 29 Juni 2007. Secara umum, beliau memperkuat hal-hal yang telah disampaikan oleh Rm. Franz mengenai keberpihakan/solidaritas kita kepada mereka yang tertindas.             Untuk lebih memperjelas makna gereja, Mgr. Sutikno membagi gereja menjadi 2 bagian, yaitu:

          gereja sebagai hierarki, yang dalam hal ini diwakili oleh para imam dan rohaniwan/wati yang lain à bertanggung jawab terutama dalam hal-hal kerohanian atau pelayanan ilahi (iman dan moral)

          gereja kaum awam à bertanggung jawab dalam pelayanan yang bersifat duniawi, seperti: finansial/ekonomi, kehidupan sehari-hari, termasuk juga soal keadilan sosial yang berkaitan dengan tema di atas.

Mgr. Sutikno menggarisbawahi kenyataan berdasarkan 2 hal tersebut di atas, bahwa adalah tugas kita sebagai kaum awam untuk menangani masalah keadilan sosial ini, bukan hanya sebagai individu pribadi, tetapi juga secara bersama-sama menangani masalah ini, ‘Preferential Options for the Poor’, yang berarti secara sukarela, mulai dari diri sendiri, berusaha untuk berpihak kepada kaum miskin/tertindas.            

Bagaimana dengan kita sebagai vincentian? Sudahkah kita berpihak pada mereka yang miskin/tertindas? Sampai sejauh manakah rasa solidaritas kita terhadap mereka? Lebih jauh lagi, sampai sejauh manakah kita berani menampilkan semangat Yesus dalam masyarakat sekitar kita, sehingga secara langsung maupun tidak, orang lain ikut tergerak untuk berpihak pada kaum miskin/tertindas?

(Di@)           

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: