Jika aku lemah, maka aku kuat

2 Kor 12:10

Tidak berdaya adalah suatu situasi yang menakutkan, menyesakkan, dan menyedihkan bagi setiap orang. Umumnya orang ingin menghindarinya dan berharap tidak pernah mengalaminya selama hidup. Namun kenyataan hidup membuat orang tidak bisa mengelak dari ketidakberdayaan. Sebagai contoh: pengalaman Bapak Luluk, salah seorang warga desa Pategan, Kabupaten Pasuruan, yang menjadi korban banjir. Beliau tidak dapat berkata apa-apa saat melihat rumah dan warungnya di bantaran kali Gembong hanyut terbawa air. “Kami tidak tahu akan tinggal di mana!, kedua anak saya masih sekolah. Jadi saya tidak hanya bingung memikirkan tempat tinggal, tetapi juga bagaimana caranya membiayai sekolah anak!” (Kompas, 1 Februari 2008/Jawa Timur A). Beliau kehilangan tempatnya berteduh dan menikmati kebersamaan dalam keluarga, beliau dan keluarga juga kehilangan tempat kerja. Itu berarti tumpuan untuk memenuhi kebutuhan hidup hilang. Beliau hanya bisa menerima kenyataan itu dengan kepasrahan dan berharap bantuan dari berbagai pihak. Setiap orang pernah mengalami ketidakberdayaan besar atau kecil.
Tidak berdaya dan kelemahan bukanlah akhir dari segala-galanya. Paulus mensharingkan pengalamannya selama mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa. Banyak orang sudah bertobat dan mengimani Kristus. Namun justru dalam kesuksesan itu, ia mengalami bahwa ada godaan yang kuat untuk meninggikan diri. Oleh karena itu ia memohon dengan sangat kepada Tuhan supaya dijauhkan dari godaan iblis itu. Ia merasa bahwa ia begitu lemah dan cenderung pada dosa. Maka ia serahkan dirinya dengan segala kelemahannya kepada Tuhan.
Tuhan menjawab doa dan kepasrahan diri Paulus: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9). Sabda Tuhan itu memberikan peneguhan dan kekuatan kepada Paulus serta membuatnya optimis walaupun memiliki kelemahan. Oleh karena itu ia berkata: “Aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Krisus. Karena jika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Kor 12:10). Pengalaman berserah diri kepada Tuhan dalam kelemahan, siksaan, kesukaran, penganiayaan, dan kesesakan yang dialami itu membuat Paulus dapat merasakan bahwa dirinya kuat, bukan karena kekuatannya sendiri melainkan karena kekuatan Kristus Tuhan makin sempurna bekerja dalam hidupnya.
Dalam dunia olah raga, yang menjadi pemenang pertandingan adalah mereka yang kuat dan berhasil mengungguli atau mengalahkan lawan-lawannya. Manakala bisa mengalahkan lawannya, ia akan disanjung puji dan menerima banyak hadiah. Kekuatan adalah jalan untuk menjadi pemenang dalam pertandingan. Sedangkan pihak yang kalah adalah pihak yang lemah, pihak yang belum mampu mengungguli lawan-lawannya. Pihak yang lemah adalah pihak yang kecewa. Namun bagi yang berjiwa besar dan optimis, kekalahan bukanlah akhir dari segala-galanya. Di suatu kekalahan tentu ada juga kemenangan. Kekalahan adalah saat untuk kembali belajar lebih giat dan lebih giat lagi.
Kristus mengundang kita untuk tinggal dalam persekutuan dalam Dia. Sebagai orang percaya kita berusaha menjawap panggilan Kristus itu. Namun kita kerapkali berhadapan dengan kelemahan-kelemahan kita. Setiap hari kita harus memilih jalan Kristus yang memberikan pembebasan dan membangun hidup kita atau jalan dunia yang menjauhkan diri kita dari Allah dan sesama. Manakala dalam kelemahan dan kita hanya mengandalkan diri kita sendiri, maka kita pasti tidak akan bisa menjawab panggilan itu dengan baik. Bahkan memilih apa yang baik dalam hidup kitapun, kita mengalami kesulitan. Apakah yang bisa kita kerjakan?
Jalan untuk dapat mengikuti Kristus dalam kelemahan kita adalah dengan selalu mempercayakan dan berpasrah diri kepada Kristus. Paulus memberikan teladan yang mendalam bagi kita. Jika kita lemah dan mempercayakan diri kepada Kristus, maka kita akan kuat. Karena saat kita lemah itu, kuasa Kristus menjadi kuat dalam hidup kita. Yesus sendiri bersabda “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Mat 5:3-4).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: