Surat Kepada Pierre Ballofet

Lyon, 23 Januari 1837

Sahabatku tercinta,

Aku tidak ingin membiarkan bulan Januari berlalu tanpa menyampaikan selamat Tahun Baru kepadamu dan membalas suratmu. Keterlambatanku mungkin dapat kaumaafkan kalau kau, kuberi tahu mengenai tugas-tugas yang masih membelengguku hingga saat ini. Tetapi terutama aku begitu berhasrat untuk mengatakan kepadamu betapa gembira aku menerima berita darimu; beritamu itu menjadi bukti baru persahabatanmu yang lalu. Beritamu itu kembali menyatukan aku dengan sahabat-sahabat yang kucintai, yang masih tinggal di Paris. Terus terang setelah tahun pertamaku yang menjengkelkan, Ibu kota (Paris) memberi banyak penghiburan padaku. Dan waktu yang kulewatkan di sana terhitung di antara hari-hari yang menggembirakan dalam hidupku. Sungguh mengesankan, pengalaman yang bagus itu tidak akan hilang selamanya. Kebanyakan dari kawan-kawanku satu per satu kembali untuk memulai lagi karya-karya (SSV) mereka di sini dan bila kami bisa menarik dua atau tiga orang yang bukan kelahiran Lyon maka menjadi lengkaplah kami.

Sakit yang membuatmu menderita selama minggu-minggu pertamamu di Paris tidak akan lama menyiksamu. Aku berharap musim dingin nanti akan cukup sejuk; jagalah baik-baik kesehatanmu. Dan jika kamu mau tetap tinggal di rumah dengan cukup bijaksana, Vachon (=seorang anggota konferensi St. Etienne) dan kawan-kawan lainnya akan dengan gembira hati mengisi jam-jam kosong yang tidak diserap oleh Yustinianus (=Kaisar Romawi Timur [527-565], dia juga pembuat undang-undang yang tersohor). Jangan kau terpaku dengan ujianmu. Ujian itu bukan persoalan belajar yang sangat sulit; teks Latin dan komentar dari Ducauray (=seorang profesor hukum di Sorbonne) sudah cukup, dan bacaan dari Gaius (=pengacara romawi yang terkenal) dapat kau pelajari sebagai tambahan, tetapi merupakan bahan yang mengasyikkan. Keseluruhan waktu yang kau butuhkan untuk mempersiapkan diri sekitar dua bulan, dengan lima jam belajar setiap hari. Untuk semua itu, pengalaman membuatku menaruh simpati kepada mereka yang sedang menghadapi ujian. Aku telah mengalami kengerian meja hijau, dan tambang hitam pernah menjadi seperti tambang Nessus (=makhluk separuh manusia separuh kuda dalam mitologi Yunani. Tambang Nessus dimaksudkan untuk menggambarkan situasi gawat dan menakutkan yang tak mungkin dielakkan lagi). Di antara harapan-harapan tahun baru, aku memilih satu: semoga kegembiraan berlimpah kau alami, dan semoga keberhasilan tidak terlalu mahal kau beli dengan kekhawatiran dalam persiapanmu.

Berita yang kau berikan padaku mengenai konferensi-konferensi lain akan membuatku sedih andaikata aku tak berharap bahwa saat-saat cobaan itu akan berlalu. Wajarlah bahwa mundurnya beberapa anggota dari suatu serikat secara bersamaan akan mengakibatkan terjadinya sedikit kesulitan, suatu kekurangan dari apa yang semestinya. Tetapi suatu kelompok yang terbuka akan segera terisi oleh pendatang-pendatang baru, yang menggantikan pendahulu-pendahulu mereka demi kemajuan lebih lanjut; dan semangat yang segar, ide-ide baru dan pandangan segar yang mereka miliki akan menghindarkan terjadinya kerutinan dan menghidupkan kembali kegairahan awal. Di samping itu setiap tahun aku mengamati konferensi-konferensi lain yang lebih baik; di sana terjadi perubahan seperti pertumbuhan pada diri manusia. Setidak-tidaknya aku berharap bahwa serikat Santo Vinsensius, yang berdiri dengan cara yang tak terduga sebelumnya dan berkembang sesuai dengan penyelenggaraan ilahi akan terus tumbuh demi kemuliaan Allah. Di situlah kita telah menemukan banyak teladan baik dan begitu banyak kegembiraan serta telah diijinkan melakukan sedikit kebaikan.

Kesadaran itu, yaitu bahwa serikat-serikat di Paris telah menjadi banyak dalam usia empat tahun, menopang dan medorong Konferensi Cinta Kasih yang kau lihat telah terbentuk di sini (tempat kami). Aku tidak tahu apakah kamu hadir dalam pertemuan umum pada tanggal 11 Desember yang lalu. Dalam pertemuan itu dibacakan laporan yang telah kukirim, yaitu mengenai keadaan dan karya-karya kami. Sejak itu kami telah berkembang, anggota kami sekarang tidak telalu dibutuhkan, tetapi kami begitu saling mengasihi; dan bukankah hal itu sungguh suatu kegembiraan: mengasihi, dikasihi, dan sadar akan hal itu.

Engkau bertanya apakah aku telah mengambil langkah pertama dalam arena pengadilan yang membosankan. M. Brun telah memintaku. Berkat kebaikannya aku telah menghadapi masalah yang bagus. Aku segera menjadi pembela – inilah langkah pertamaku – dan harus mengajukan pembelaan lagi pada hari Rabu berikutnya. Masalah itu mengenai ketidaksetujuan dari orang tua terhadap sebuah perkawinan karena calon suami kurang waras. Aku mengajukan pembelaan untuk suami tersebut. Dapat kubayangkan dia memang mempunyai penampilan yang “bloon”. Tetapi bila kau berbicara dengan dia, sama sekali dia tidak tampak kurang waras. Aku juga telah membela perkara seorang miskin yang telah diancam hukuman kerja paksa seumur hidup, tetapi untunglah di dibebaskan. Akhirnya aku mendapat kesempatan satu hari bertugas dalam pengadilan militer; si tertuduh, yang telah dijatuhi hukuman sebelumnya, membutuhkan seorang pembela atas proses peradilan semacam itu. Inilah langkah-langkah pertamaku dalam yurispridensi (=perkara hukum). Seorang klien tidaklah terlalu mendesakku, sehingga aku masih punya banyak waktu untuk kegiatan-kegiatan lain. Yang terpenting dari kegiatan-kegiatanku adalah berusaha merampungkan tugasku membuat undang-undang periklanan, seperti yang telah kukatakan padamu dulu. Syukur kepada Allah … semua berjalan lancar. Bisa jadi lima belas hari lagi aku telah berada di Paris; telah kukatakan bahwa aku hampir menerima gelar Doktor dalam Kesusasteraan, dan demikianlah hal itu akan segera terwujud. Sampai jumpa nanti di tengah-tengah keluargamu dan kawan-kawan untuk omong-omong selama beberapa jam mengenai hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari yang tidak dapat kurinci di sini; dan kemudian kamu akan dapat omong-omong berdua dengan aku … sunggung suatu pertemuan yang mengasyikkan dan damai; dan karena itu rencana pertemuan ini jangan diubah-ubah. Tak ada yang lebih membahagiakan kecuali seorang sahabat semasa kanak-kanak, seorang sahabat yang baik seperti kamu.

Yakinlah kawan-kawan yang mau mengingat aku, bahwa dari pihakku aku tidak akan melupakan mereka. Untukmu sendiri terimalah bukti kesetiaan sahabat lamamu yang di sini.

Orang tuaku menyampaikan salam hangat untukmu, dan aku memberi tempat untukmu dalam sudut hatiku yang terdalam.

Sampai jumpa,

sahabat lamamu yang setia

A.F. Ozanam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: