Dialog Antar Agama Sebagai Dialog Profetis

1. Pengantar

Dewasa ini semakin disadari pentingnya menafsirkan teks Kitab Suci sesuai dengan konteks. Hidup dan karya Yesus sebagaimana dikisahkan keempat Injil perlu ditafsirkan dan diwartakan dalam konteks saat ini. Misi pewartaan Injil itu melekat pada hakekat Gereja (Bdk AG 2). Misi berarti “nama, ajaran, hidup, dan janji-janji, Kerajaan Allah dan misteri Yesus dari Nazaret” (EN 22) diwartakan. Namun pewartaan itu perlu diwujudkan dalam sikap hormat kepada kebudayaan dan konteks setempat. Maka sangat diperlukan suatu model pewartaan tertentu bagi konteks tertentu. Bagaimanakah model misi yang tepat untuk konteks Indonesia?
2. Garis Besar Konteks Gereja Katolik Indonesia
2.1. Ada diantara Mayoritas Islam1
Secara umum, Gereja Katolik Indonesia adalah minoritas yang hidup berdampingan dengan mayoritas umat Islam dan umat beragama lain yang juga minoritas. Namun, bila dilihat per daerah, ada daerah tertentu yang mayoritas Katolik, Hindu, dan Protestan, misalnya: masyarakat daerah Flores yang mayoritas beragama Katolik, dan masyarakat daerah Bali yang mayoritas beragama Hindu.
Umat Islam di Indonesia menurut data Biro Pusat Statistik tahun 1990 berjumlah 87,3 % dari 200 juta penduduk Indonesia. Kurang dari tiga belas persennya adalah umat Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu dan aliran kepercayaan yang lain.2 Akibatnya budaya yang menonjol dalam masyarakat Indonesia yakni budaya bernuansa Islami. Karena itu, umat Katolik dalam hidup bermasyarakat tidak lepas dari budaya dan relasi dengan umat Islam.
Situasi inilah yang menjadi medan dan tantangan bagi Gereja untuk menentukan model misi yang tepat dan melaksanakan misinya. Secara psikis, situasi itu bisa membangkitkan semangat pewartaan bagi Gereja. Namun situasi itu juga membawa akibat yang kurang baik bagi Gereja. Kekurangdewasaan dari sebagian orang dari kelompok mayoritas Islam menimbulkan perlakuan yang tidak adil bagi umat Kristen misalnya: ijin pendirian tempat ibadat selalu dipersulit, dilarang melakukan peribadatan, dll.

2.2. Ada di antara Masyarakat Miskin Asia dan Indonesia3
Masyarakat Asia mayoritas berada dalam kemiskinan. Sebagian besar negara yang ada di Asia adalah negara yang sedang berkembang. Negara-negara itu sedang berjuang membangun masyarakatnya di antara gemerlap modernisasi yang sudah merambah Asia.
Gereja Asia hadir di antara masyarakat miskin Asia. Amanat Konferensi uskup se-Asia atau FABC melukiskan situasi miskin Asia itu dengan menyebut keadaan Asia sebagai wajah Asia. Wajah Asia yang berpenduduk kurang lebih dua milyar manusia itu sebagian besar ditandai dengan kemiskinan, kekurangan gizi dan tingkat kesehatan yang buruk, terlukai oleh perang dan penderitaan.4 Berhadapan dengan situasi demikian itu, FABC menetapkan visi dan misinya yakni sungguh-sungguh menjadi Gereja kaum miskin yang dekat dan tidak menakutkan orang miskin dan aktif menyuarakan hak-hak mereka.
Masyarakat Indonesia adalah bagian dari masyarakat Asia yang miskin itu. Kita hidup di tengah masyarakat miskin dan yang telah lama menderita karena penjajahan dan sistem pemerintahan yang menindas mereka. Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur mengungkapkan bahwa kurang lebih 60% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan dari jumlah itu 10-20 persennya hidup dalam kemiskinan absolut.5
Di tengah situasi kemiskinan itu, Gereja Indonesia seturut perutusan dan teladan pendirinya harus terjun dalam situasi itu. Realitas kemiskinan itu adalah bagian dari diri Gereja Indonesia. Maka Gereja juga bertanggung-jawab untuk mengarahkan perutusannya kepada kaum miskin ini.

2.3. Warisan Kolonial
Agama Katolik dibawa ke Indonesia oleh penjajah.6 Para misionaris awal datang ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan penjajah. Oleh karena itu kehadiran Gereja Katolik juga protestan di Indonesia ini dicurigai. Pihak non-kristen menuduh kehadiran Gereja Katolik menggunakan cara yang jelek yakni tiga M: Merchants, Military, Missionaries. Artinya Gereja Indonesia hadir dengan politik berdagang penjajah dimana para pedagang datang untuk berdagang. Ketika perdagangan sudah dikuasai, mereka membawa militer supaya kekuasaannya langgeng setelah langgeng mereka membawa misionaris-misionaris untuk mengajarkan ajaran kristiani.
Image buruk itu tetap ada walaupun semakin kecil. Untuk menghilangkan image itu memerlukan waktu. Gereja Indonesia berada dalam bayang-bayang image itu. Namun bila dikaji lebih jauh dalam sejarah, para misionaris yang datang ke Indonesia sebenarnya memiliki misi yang terpisah dengan misi penjajah. Mereka memiliki misi mewartakan Injil kepada masyarakat Indonesia dan bukan melancarkan misi penjajah untuk menguasai perekonomian Indonesia. Dalam hal ini bisa diambil contoh Pastor Van Lith di Muntilan yang mendidik para calon guru dan ikut mencerdaskan rakyat dengan konsekuensi membahayakan penjajah. Ia ditentang Belanda karena karya itu dan tidak mendukung misinya melainkan setia pada misi Gereja.7 Juga ada Uskup dan beberapa imam dari Jepang yakni Mgr. Yamaguci dan beberapa yang diperbantukan di Nusa Tenggara khususnya Flores pada masa penjajahan Jepang dan para misionaris awali lain yang pada akhirnya konflik dengan penjajah mereka dengan gigih mewartakan Injil (misi Kristus-misi Gereja) kepada masyarakat Indonesia.8
Melihat kenyataan di atas, bisa dikatakan tujuan misi penjajah adalah pertobatan orang-orang kafir dan penanaman Gereja.9 Oleh karena itu, sasaran misi itu membawa masuk semua orang ke dalam Gereja karena tidak ada keselamatan di luar Gereja. Jadi paham tentang misi berkisar sekitar perwalian keselamatan lewat Gereja.

3. Dialog dengan Islam: Belajar dari Misi Abad Pengemis
Fransiskus Asisi adalah salah seorang tokoh penting yang menawarkan suatu model misi tanpa kekerasan. Ia memberikan teladan misi damai. Di tengah semangat perang salib yang membawa banyak kurban jiwa, Fransiskus dengan semangat persahabatan menghadap Sultan Al Malik al kamil. Rupanya sikap bersahabat dari Fransiskus itu mendapat sambutan yang ramah dari Sang Sultan. Sultan tahu bahwa Fransiskus bukan serdadu perang salib. Maka dalam pertemuan itu, Fransiskus memperkenalkan iman kristen kepada Sultan dan Sultan mendengarkan. Di sisi lain Fransiskus juga mendengarkan iman Islam dan melihat bagaimana orang Islam berdoa. Mereka mempraktekkan saat doa 5 waktu dalam sehari. Setelah selesai pertemuan itu, Sultan mengantar Fransiskus ke kamp perang salib.
Dari pengalaman perjumpaan dengan Sultan itu, Fransiskus demikian terkesan dengan praktek doa Islam yang dilaksanakn secara berkala. Maka kemudian ia menganjurkan orang Kristen untuk menirukan praktek doa serupa. Lebih dari itu, Fransiskus menemukan orientasi baru dalam bermisi yakni bahwa dalam misi, tidak perlu memaksakan kekuasaannya terhadap orang lain. Misi perlu kita lakukan dengan damai dan tanpa ada pemaksaan. Maka kemudian Fransiskus meminta para misionarisnya untuk bersikap cinta damai. Dalam misi di tengah orang Arab atau Muslim dan orang tak beriman lainnya, peraturan hidup Ordonya mengedepankan dua metodologi misioner untuk hidup spiritual.
a. Kehadiran dan kesaksian Kristen tidak boleh mulai dengan argumentasi atau perbantahan tetapi sebaliknya berlandaskan pada sikap tunduk terhadap setiap manusia karena Allah (1Ptr 2:13)
b. Pewartaan firman Allah secara terbuka dan eksplisit yang bisa saja mengantar orang lain kepada pembaptisan dan menjadi Kristen.10
Metode misi Fransiskus itu, menurut Cajetan Esser, menunjuk pada ideal kemartiran Fransiskus yang melampaui kemartiran fisik belaka namun mencakup semua bentuk penderitaan; “Menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan Bapa demi keselamatan dunia”. Maka cara hidup secara spiritual di antara orang bukan Kristen dan Kristen sendiri berkaitan satu sama lain. Maka mewartakan Friman seperti dimengerti Fransiskus tidak banyak berguna tanpa kotbah kehidupan.; “Wartakan selalu dan, bila perlu, gunakan kata-kata”11

4. Misi dalam Sejarah Gereja Indonesia
Misi sebagaimana diteladankan Fransiskus itu, juga diwujudkan oleh para Gembala Gereja Indonesia. Lebih – lebih dalam sosok Van Lith dan Mgr. Soegiyopranoto12 serta I.J. Kasimo. Namun harus diakui bahwa misi Gereja Indonesia awali (zaman misionaris awal), banyak juga ditunggangi oleh kekerasan juga.

4.1. Zaman Misionaris Awal
Gereja Katolik sampai di Indonesia bersamaan dengan penjajah. Penjajah Belanda datang awalnya ingin berdagang. Ketika perdagangannya maju, mereka membawa tentara dan selanjutnya mereka menggandeng misionaris. Para misionaris awali bertitik tolak pada ekklesiologi “extra ecclesia nulla salus” di luar Gereja tidak ada keselamatan. Mereka berjuang untuk membaptis sebanyak mungkin orang supaya masuk ke dalam Gereja dan memperoleh keselamatan. Karena budaya dan religi di luar Gereja itu tidak menghantar orang pada keselamatan.
Sistem pewartaan yang digunakan oleh para misionaris waktu itu dapat dikatakan memakai “sistem politik ular”; dengan memegang kepalanya maka leher sampai ekornya ikut tunduk. Para misionaris berusaha agar bisa membaptis pemimpin suatu daerah atau wilayah tertentu supaya dengan demikian rakyat di daerah itu mau dibaptis semua.13 “Kalau Pak Bupati dapat kutangkap, maka seluruh kabupaten otomatis akan menjadi baik”, “kalau kau dapat mengkristenkan anggota DPR atau seorang doktor ekonomi, maka otomatis kau akan mengkristenkan seluruh rakyat yang ia wakili dan Fakulatas ekonomi yang dipimpin sang doktor pintar itu demi masyarakat yang adil dan makmur”.14 Sistem model misi demikian itulah yang secara tajam oleh dikritik Romo Mangun dan menurutnya membuat Islam membenci Kristen di kemudian hari. 15

4.2. Zaman “Kesadaran Baru”
Semangat Konsili Vatikan II dan juga pengalaman kekerasan dalam sejarah, akhirnya membuat Gereja Katolik Indonesia mengubah arah misinya. Misi yang cocok dan akhirnya diusahakan adalah dialog. Para pastor dan uskup-uskup menjalin relasi dengan para tokoh Islam demikian pula sebaliknya. Selain itu, mereka juga membangun dialog yaitu “dialog karya” dan bukan dialog ajaran. Contohnya adalah lembaga Pendidikan dan Pembinaan Management (PPM) di Jakarta. Contoh lainnya adalah konferensi antar agama yang diadakan pada tahun 1961 di Bogor, 1965 di Yogyakarta dst.16 Selain itu, konferensi para uskup Indonesia pada bulan Oktober 1966, menganjurkan umat Katolik untuk mengadakan “dialog kerja” dengan umat beragama lain.
Sementara dalam bidang politik, Gereja Indonesia dengan lantang terlibat dalam perjuangan politik untuk kemerdekaan Indonesia. Tokoh Katolik yang menonjol adalah Mgr. Soegiyopranoto dan I.J. Kasimo, serta para pemuka agama yang lain, baik biarawan-biarawati maupun awam. Menurut Mgr. Soegiyopranoto :”Tugas orang katolik itu bukan membaptis orang. Itu urusan Roh Kudus, tugas orang Katolik adalah bagaimana membuat baik negara dan bangsa Indonesia”.17 Menurut Mangun yang dimaksudkan oleh Mgr Soegiyopranoto adalah “yang nomor satu bukan Gereja Indonesia tetapi lebih luas, yakni bangsa manusia, lebih sempitnya bangsa Indonesia”.18
Tanggapan Gereja atas keberagaman agama dan budaya yang ada di Indonesia dan masalah konflik antar umat beragama yang terjadi, termaktub dalam berbagai tanggapan dari KWI; di antaranya: 1) Sidang Agung KWI 1995 yang menyerukan dibangunnya sikap dialog. Sikap dialog Gereja dengan agama lain untuk membangun persaudaraan. 2) Surat Gembala Prapaskah 1997; Menghadapi kemiskinan dan ketidakadilan serta persoalan sosial politik yang pelik di RI, Gereja menyatakan diri sebagai pengikut Kristus yang mengutamakan kaum miskin yang tertindas dan terhisap, tergusur, dengan segala konsekuensinya bersama dan dalam kerukunan dengan umat beragama lain.19
Selain itu juga keterlibatan umat Katolik dalam Tim Relawan Kemanusiaan yang adalah gabungan dari berbagai elemen masyarakat yang salah satu koordinatornya adalah Romo Sandyawan, SJ., untuk menangani kurban kerusuhan mengerikan pada tanggal 13-15 Mei 1998. Mereka bekerjasama menangani para korban kerusuhan berdasarkan keprihatinan atas tragedi kemanusiaan memilukan yang diderita saudara-saudarinya. Nilai-nilai kemanusiaan menjadi perekat alami untuk membangun kerjasama dan kerukunan antar umat beragama.

4. Dialog Antar Agama sebagai Model Misi Dialog Profetis
Saat ini sangat disadari pentingnya misiologi dan strategi pewartaan yang didasarkan pada analisis sosial-politik dan kultural. Dalam konteks Indonesia, yang mayoritas Islam dan diantara agama lain, yang ada diantara masyarakat miskin, dan yang merupakan warisan kolonial, model misi yang tepat adalah dialog yang bersifat profetis. Apakah dan Bagaimanakah dialog antar agama bersifat profetis itu?
Dialog Antar Agama memaksudkan adanya relasi timbal balik yang saling menghormati, dan menghargai antara pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama yang lain; mulai dari tingkat hierarki sampai dalam masyarakat biasa. Maka dialog ini bukan semata-mata strategi tersembunyi untuk mewartakan Injil Yesus Kristus, melainkan dialog yang dilakukan dengan tulus, jujur, penuh empati, dan rasa hormat serta pengakuan akan kebenaran yang terkandung dalam setiap agama. Bersifat profetis artinya bagaikan seorang nabi yang mewartakan namun juga diwartai. Jadi sama-sama mewartakan dan diwartai kebenaran-kebenaran hidup. Keprofetisan itu nampak dalam keutamaan hidup dari orang-orang yang melakukan dialog. Misalnya kejujuran, ketulusan, tanggungjawab, rasa hormat, dan empati. Dengan demikian setiap orang yang berdialog memberikan kesaksian terhadap imannya masing-masing.

4.1. Mewujudkan Dialog Antar Agama sebagai Model Misi Dialog Profetis
4.1.1. Diawali Perubahan Perspektif Keselamatan: dari Eksklusif ke Inklusif
Dasar misi di tengah dunia Islam dan juga agama yang lain, adalah pelayanan Yesus sendiri sebagai terdapat dalam Injil. Yesus sendiri bukan orang agama; Ia juga tidak membela agama apapun, Ia seorang Yahudi, namun tidak setuju terhadap eksklusivisme Yahudi. Demikian pula saat para murid dengan penuh semangat hendak menurunkan api dari langit untuk membinasakan orang-orang Samaria, Ia malahan berbalik menghardik mereka (Luk 9:55). Tidak ada satu kalipun Yesus mencela agama-agama lain.
Kehadiran Allah di dunia selalu persuasif dan hormat pada kebebasan, dan martabat manusia. Wahyu Allah memperlihatkan adanya suatu persekutuan dialogis dimana sang Misteri tampil di tengah dunia dalam manusia Yesus dari Nazaret, tanpa mengesampingkan kebebasan dan sikap hormat pada martabat manusia. Dari teladan relasi Bapa, Putera, Roh Kudus itu, maka tak bisa dielakkan lagi bahwa dialog adalah cara bahkan norma yang mutlak diperlukan dalam setiap bentuk misi Kristen. Karena setiap paham misi yang tidak diresapi oleh semangat dialog niscaya bertentangan dengan ajaran-ajaran Injil.20
Konstitusi Dogmatis tentang Gereja; LG 16 mengungkapkan bahwa “Rencana keselamatan juga merangkum mereka yang mengakui Sang Pencipta; diantara merea terdapat terutama kaum Muslimin yang menyatakan bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat. Pun dari umat lain, yang mencari Allah yang tidak mereka kenal, dalam bayangan dan gambaran, tidak jauhlah Allah karena Ia memberi semua kehidupan dan nafas dan segalanya, dan sebagai Penyelamat menghendaki keselamatan semua orang”. Juga ditegaskan bahwa “mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta GerejaNya, tetapi dengan tulus hati mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendakNya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan” (LG 16). Karena “Gereja Katolik tidak menolak apapun yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci” (NA 2).
Teladan Trinitas dan paham keselamatan KV II inilah yang perlu diinternalisasikan dalam konteks Indonesia. Perspektif eksklusif lama “extra ecclesia nulla salus” harus ditinggalkan dan diganti dengan perspektif inklusif bahwa Allah menghendaki keselamatan atas semua orang. “Allah menjadi segalanya dalam semua” (1 Kor 15:28). Perubahan perspektif (paradigma) ini niscaya akan sangat membuka sikap mental dan semangat dialog diantara Gereja (klerus, biarawan, biarawati dan umat).21

4.1.2. Dialog Kehidupan
Umat dan klerus hidup berdampingan dengan umat beragama lain. Umumnya dalam masyarakat desa atau kampung, juga daerah kota pinggiran mereka saling kenal satu sama lain. Kenyataan ini adalah medan dialog kehidupan. Dialog kehidupan adalah sharing pengalaman hidup sehari hari; pengalaman perjuangan memenuhi kebutuhan hidup, mendidik anak, pengalaman sakit, pengalaman kehilangan, dan lain-lain. Dengan dialog itu, orang saling belajar saling meneguhkan dalam kesulitan hidup dan sedapat mungkin saling membantu tanpa pamrih.
Dari perspektif inklusif, kiranya dialog kehidupan dalam misi profetis ini, sharing hidupnya melampaui hubungan antar agama, RAS, warna kulit, dll. Hubungan mereka lebih pada hubungan antara pribadi manusia yang memiliki kehendak baik, dan sikap saling hormat. Ini sangat mungkin diwujudkan oleh semua umat beriman.

4.1.3. Dialog Karya
Dialog karya adalah usaha bersama atau aksi bersama untuk menegakkan keadilan, perdamaian, dan utuhnya ciptaan. Dalam konteks keragaman agama di Indonesia, kiranya perjuangan bersama dengan umat beragama lain dalam membangun habitus baru yakni masyarakat yang adil, dan bebas korupsi sebagaimana diserukan oleh Gereja Indonesia dalam Tema APP dan Nota Pastoral merupakan bentuk dialog karya yang konkret. Demikian juga usaha bersama untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, pelayanan pendidikan, juga bantuan sembako bagi para korban bencana alam, dll., adalah perwujudan konkret dari dialog karya.
Juga berhadapan dengan realitas kemiskinan, pengangguran, dan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup, kiranya inilah medan dialog karya. Dimana Gereja bersama dengan umat beragama lain bisa merencanakan kerjasama untuk mengentas kemiskinan dengan misalnya Credit Union (CU) yang di Kalimantan Barat demikian berkembang dan terbukti memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.
Pelaksana dari misi ini tak lain adalah seluruh Gereja Indonesia. Di dalam konteks hidupnya masing-masing, dalam sikap dialog profetis artinya dialog yang dilakukan dengan kejujuran, keberanian, keyakinan, dan iman. Diwujudkan dalam penghayatan hidup sehari-hari dalam bentuk kesaksian hidup yang nyata dan konkret sehingga buahnya dapat dinikmati oleh banyak orang.

5. Penutup
“Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga” (GS 1). Menghadapi konteks Indonesia yang ada diantara mayoritas Islam dan umat beragama lain, yang ada diantara masyarakat miskin Asia dan Indonesia, dan yang sadar bahwa Gereja Indonesia adalah warisan kolonial, penulis mengutip usulan Romo Mangun untuk perutusan Gereja Indonesia yang menurut penulis juga mewujudkan semangat dialog profetis:22
1. Pentingnya pergeseran titik berat dari penyebaran “Syahadat 12 Rasul” ke penanaman doa “Bapa Kami” menjadi milik umum praksis kebudayaan bangsa Indonesia.

2. Perjuangan Gereja, bersama-sama dengan kaum agamawan di luar Gereja, kalau perlu bahkan bersama kaum ateis dan sebagainya untuk merombak struktur-struktur penindasan dan pembodohan kaum lemah miskin dan kecil dan menciptakan atau mempercepat pemrosesan alternatif lain yang lebih memungkinkan pemekaran keadilan sosial dan nilai-nilai moral serta budaya sejati dan kemedekaan sejati.  (Oleh Yulianus Gunawan, CM)

DAFTAR PUSTAKA

Bevans B., Stephan dan Roger P. Schroeder, Terus Berubah -Tetap Setia, Maumere:
Penerbit Ledalero, 2006
Covey R., Stephen, The 7 Habits of Highly effective People (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat
Efektif), Jakarta: Bina Aksara, 1997
Hardowiryono, R., SJ., (Alih Bahasa), “Sidang 29 November 1970: Amanat dan Keputusan-
keputusan No 5” dalam Dokumen Sidang-Sidang Federasi Konferensi-Konferensi Para Uskup asia 1970-1991, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1995
——-, Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI dan Obor, 1993.
Heuken, A. SJ. dkk., Sedjarah Geredja Katolik Di Indonesia, Jakarta: C.L.C, 1971
Kirchberger, Georg, SVD dan John Mansford Prior, SVD (Ed), Mendengarkan dan Mewartakan,
Ende: Nusa Indah dan Sekretarian bersama Provinsi SVD se-Indonesia, 2003
Mangunwijaya,Y.B., Gereja Diaspora, Yogyakarta: Kanisius, 1999
——-, Memuliakan Allah Mengangkat Manusia, Yogyakarta: Kanisius, hal. 39
——-, “Pengantar” dalam Eduard R. Dopo, (Ed.), Keprihatinan Sosial Gereja, Yogyakarta:
Kanisius, 1992
Muskens, M.P.M., Dr., Pr., Sejarah Gereja Katolik Indonesia, Ende: Percetakan Arnoldus, 1973
Sularto, St., Van Lith dan Muntilan “Bethlehem van Java”, Kompas 27 Desember 2003
Http://wwwkammimalang.tripod.com/tantang.html
http://www.preventconflict.org/portal/main/bahasa_selected_poverty.php.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: