Jejak Teologi Reformasi di Indonesia

1. Pengantar
Terdapat berbagai kesulitan untuk menelusuri jejak teologi reformasi di Indonesia. Sejarah perkembangannya menunjukan garis yang bercabang-cabang walaupun tetap tak lepas dari kerangka besar warisan teologi Luther dan Calvin. Usaha-usaha mengkontekstualkan teologi reformasi itulah yang memicu munculnya banyak Gereja Reformasi di Indonesia. Maka tak heran bahwa di Indonesia ini ada sekian banyak nama Gereja Reformasi. Dari sekian banyak nama Gereja itu, ada 86 Gereja yang menjadi anggota PGI dan terbagi atas 27 PGI Wilayah atau Sinode Am.1 Namun masih banyak lagi Gereja-gereja yang tidak masuk dalam PGI yang tersebar di seluruh Indonesia. Mengapa? Karena menjadi anggota PGI bukanlah suatu keharusan bagi Gereja-gereja reformasi yang ada di Indonesia. Mereka bebas untuk masuk angota PGI.
Dalam paper ini, penulis ingin menelusuri jejak teologi reformasi itu dengan menelusuri sejarah gereja-gereja Reformasi di Indonesia. Gereja-gereja Reformasi di Indonesia telah berusaha untuk mengkontekstualkan iman Kristen dalam masyarakat Indonesia. Usaha-usaha pembangunan teologi kontekstual itulah yang kami telusuri itulah yang akan kami ungkapkan dalam paper ini. Siapa yang melakukan kontekstualisasi Injil itu, tentu bukan perorangan atau satu sinode Gerja saja. Yang mau kami ungkapkan adalah usaha kontekstualisasi Injil yang dilakukan oleh persekutuan gereja-gereja reformasi yang ada di Indonesia. Persekutuan Gereja-gereja reformasi itu membentuk wadah yaitu  DGI (Dewan Gereja-gereja Indonesia) yang pada tahun 1980 diubah menjadi PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia).
Untuk itu dalam  paper ini, kami akan mengungkapkan terlebih dahulu 1). sejarah singkat kehadiran Gereja reformasi di Nusantara, lalu 2). pembentukan wadah Gereja-gereja reformasi yaitu DGI yang kemudian diubah menjadi PGI, dan 3). usaha-usaha kontekstualisasi Injil di Indonesia oleh PGI. 4). Penutup.

2. Kehadiran Gereja Reformasi di Indonesia
Kehadiran Gereja reformasi di Indonesia terjadi kurang lebih pada tahun 1602 pada saat perdagangan Belanda di Indonesia sudah mulai mapan. Para pedagang Belanda yang bekerja di Indonesia mendapat pelayanan dari para misionaris. Untuk melanggengkan perdagangan mereka, mereka mendirikan VOC (Verenigde Oostindische Commpagnie) dan memperoleh hak untuk memonopoli perdagangan terutama rempah-rempah di seluruh Asia. Maka daerah Indonesia Timur (Banda dan Maluku) sebagai penghasil utama rempah-rempah ketika itu, dilarang untuk  berdagang dengan bangsa dan perusahaan lain kecuali dengan VOC. VOC juga diberi hak untuk bertindak sebagai pemerintah yang berdaulat di Indonesia. Namun VOC, menurut pemahaman Calvinis, wajib mewujudkan “Pasal 36 Pengakuan Iman Belanda yaitu melindungi gereja dan memajukan agama yang benar yaitu agama Gereformeerd.” 2 Lebih dari itu, Gereja gereformeerd di Indonesia pada tahun itu menerima dukungan finansial dari Belanda. Oleh karena itu mereka dapat mewartakan Injil di Indonesia dan mulai meluaskan misi pengkabaran Injil ke banyak daerah.
Namun dalam perkembangannya, para pengkabar Injil Belanda tidak mampu lagi menjangkau seluruh daerah yang ada di Indonesia. Mengapa? Karena wilayahnya terlalu besar. Maka di daerah-daerah tertentu pengkabaran Injil diserahkan pada lembaga-lembaga pengkabaran Injil dari luar negeri. Misalnya: lembaga pengkabaran Injil Jerman. Mereka mulai bekerja di Kalimantan Tenggara sejak 1835. Selain itu juga ada lembaga pengkabaran Injil dari Amerika yaitu The Christian and Missionary Alliance yang bekerja di Kalimantan Timur, Bali dan Irian.
Di antara para misionaris ada kesepakatan bahwa di mana sudah ada lembaga pengkabaran Injil di suatu daerah, maka tidak boleh ada lembaga pengkabaran Injil yang masuk ke daerah itu. Karena, kerangkapan lembaga pengkabaran Injil di suatu daerah, maka akan menimbulkan perpecahan di antara orang-orang yang mulai tertarik pada kekristenan atau yang sudah mengimani Kristus. Alasan berikutnya adalah adanya persaingan di antara lembaga pengkabaran Injil sendiri akan mengacaukan jalannya pengkabaran Injil. 3
Era baru pengkabaran Injil di Indonesia semakin terbuka sejak kira-kira tahun 1920-an. Pada tahun-tahun itu berbagai macam Gereja dan kelompok pengkabar Injil dari negara-negara di Eropa dan Amerika terbuka untuk bekerja di Indonesia. Maka pada saat itu banyak berdatangan para misionaris dari Amerika dan Eropa. Mereka mewartakan Injil bahkan di daerah-daerah yang sudah ada umat kristennya. Hal ini membuat suasana pengkabaran Injil rumit. Gereja-gereja suku yang selama ini sudah terbentuk memperoleh tantangan dari Gereja-gereja yang baru datang dari berbagai benua. Maka timbul kerinduan dari para tokoh Gereja untuk bersatu padu memberi kesaksian secara bersama di bumi Indonesia ini. Kerinduan itu ditindaklanjuti dengan pembicaraan dan perencanaan pembentukan suatu wadah persatuan Gereja-gereja reformasi di Indonesia. Di kemudian hari wadah yang dibentuk itu bernama DGI yang kemudian diganti nama PGI. Berikut ini kami jelaskan lebih lanjut sejarah DGI / PGI.

3. Kelahiran Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI)
Latar belakang kelahiran DGI adalah adanya gerakan kebangsaan di Indonesia dan gerakan oikumene modern di dunia. Gerakan kebangsaan itu berusaha mempersatukan jemaat-jemaat lokal menjadi satu ikatan namun ada juga gerakan yang terarah ke dalam yaitu gerakan yang berusaha  memperdalam pemahaman Alkitab dan bertujuan membina rasa cinta kepada Allah dan membimbing jemaat dalam mengimani Kristus. Contohnya adalah gerakan persatuan kaum muda kristen yang bernama Rentjono Boediyo dan Mardi Pratjojo. Gerakan yang terakhir ini dianggap sebagai imbangan dari Sarekat Islam.4
Berawal dari beberapa gerakan itu, maka timbul kerinduan dari para tokoh Gereja-gereja reformasi untuk membentuk suatu ”wadah kebersamaan sebagai sarana untuk bersekutu, bersaksi dan melayani umat Allah.”5 Salah satu perwujudannya adalah dengan dibentuknya Hoogere Theologische School  pada tahun 1934 di Bogor (Sekarang dikenal sebagai Sekolah Tinggi Teologi di Jakarta). Sekolah itu adalah bentuk kerja sama dari beberapa Gereja dan lembaga-lembaga zending untuk membina para pemimpin jemaat.
Para pemimpin Gereja dari Indonesia yang menghadiri konferensi-konferensi oikumenis se-dunia seperti Konferensi Misi se-dunia di Yerusalem 1928 dan di Tambaram India 1938 juga memiliki peranan yang sangat penting dalam pembentukan persatuan Gereja-gereja reformasi di Indonesia. Dengan belajar dari Dewan Gereja dunia (WCC), para tokoh yang hadir dalam konferensi WCC itu mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan pertemuan para wakil dari lembaga pekabaran Injil dan wakil gereja-gereja Indonesia.
Pertemuan para wakil lembaga pengkabaran Injil dan wakil Gereja-gereja Indonesia itu merupakan tonggak sejarah berdirinya DGI. Karena dalam pertemuan yang diadakan di Jakarta pada tgl 12 Januari 1939, telah disepakati pembentukan Dewan Kristen Nasional di Indonesia. Kemajuan persatuan yang telah dicapai oleh Gereja-gereja itu terhenti saat penjajahan Jepang dan saat pecahnya perang dunia II serta perang pasifik.
Apakah semangat bersatu itu berhenti sama sekali? Tidak. Semangat itu tetap ada di hati para tokoh Gereja. Bahkan masa penjajahan Jepang itu, diimani sebagi berkat dalam penderitaan. Mengapa? Karena dengan diusirnya Belanda dari Indonesia, maka terpisah pulalah keterikatan Gereja reformasi di Indonesia dengan Belanda. Situasi ini membuat Gereja-gereja harus menghidupi diri sendiri. Mereka harus mandiri baik soal daya, dana maupun teologi.
Namun justru dalam tantangan itu, dorongan untuk membangun persekutuan semakin kuat. Kesadaran sebagai Gereja yang senasib sepenanggunan, dan kesadaran sebagai Gereja muda yang lepas dari induknya, menimbulkan kesadaran bahwa gereja-gereja itu ternyata saling membutuhkan satu sama lain. Gereja perlu saling membantu untuk mengatasi segala persoalan baik sumber daya manusia, teologi maupun dana. Selain itu, semakin disadari pula pentingnya bersaksi dan melayani secara bersama sebagai persekutuan dalam satu iman akan Kristus.6
Pasca penjajahan Jepang tahun 1942-1945. Para tokoh yang dulu merencanakan pembentukan Dewan Kristen Nasional di Indonesia kembali berkumpul. Para tokoh itu di antarnya: Pendeta B. Probowinoto yang mewakili DPGI (Dewan Permoesyawaratan Geredja-geredja di Indonesia) Yogyakarta, Pendeta W.J. Rumambi mewakili MOB GKIT (Madjelis Oesaha Bersama Geredja-geredja Kristen di Indonesia Timur) Makassar dan Pendeta T. Sihombing dari M.G. Sumatera Utara (Madjelis Geredja-geredja di Soematera Oetara). Mereka mengadakan pertemuan pada tanggal 23 Januari 1948 di Jakarta, dan dalam pertemuan itu ditandatanganilah surat ajakan kepada Gereja-gereja reformasi di Indonesia untuk membentuk panitia perancang yang menyiapkan pembentukan Dewan Nasional Gereja di Indonesia. Akhirnya pada tanggal 21-28 Mei 1950, dilaksanakanlah konferensi pembentukan DGI. Dan tepat pada pukul 12.00 tanggal 25 Mei 1950, pada Hari Raya Pentakosta, dinyatakanlah berdirinya DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia). Penekanan ”di” Indonesia, mau memaksudkan kesadaran akan keberadaan diri di konteks Indonesia.
DGI berbeda dengan Dewan-dewan nasional kristen di negara-negara lain. DGI memiliki persatuan yang lebih erat karena tergabung dalam suatu organisasi yang tertata rapi dan detil.  Maka, DGI merupakan satu-satunya Dewan Gereja Nasional yang mencantumkan tujuannya yaitu: Pembentukan Gereja Kristen yang Esa di Indonesia.

4. Sidang Raya DGI / PGI
Pada saat pembentukannya pada Sidang Raya DGI I di Jakarta, tujuan DGI adalah Pembentukan Gereja Kristen yang Esa di Indonesia. Tujuan itu didasari oleh keyakinan iman yang sama yaitu: 7
1. Panggilan Tuhan Yesus supaya semua menjadi menjadi satu. Yoh 17:21 : “Supaya mereka menjadi satu sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkau yang telah mengutus Aku.”
2. Kesaksian Kitab Suci bahwa orang-orang yang percaya itu merupakan sidang Tubuh Kristus (Ef 1:23); “Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.”
3. Pengakuan iman rasuli yang mneyatakan bahwa orang-orang yang percaya merupkan Gereja yang esa, kudus dan am.

Sidang Raya II 1953 ini masih melanjutkan pembahasan tema Sidang Raya I. Keesaan gereja yang bagaimana yang mau dibangun? Dalam sidang ini dianjurkan pembentukan ”Satu gereja Kristus di Indonesia, yang punya pengakuan iman dan memiliki peraturan gereja sebagai dasarnya.” Selain itu juga di bidang administrasi  perlu diusahakan agar tercapai pembentukan satu gereja. Demikian juga dalam Sidang Raya III 1956 masih dilanjutkan pembahasan tentang bentuk-bentuk penghayatan keesaan Gereja itu. Lalu saat itu mulai dibentuklah seksi-seksi di DGI, di antaranya adalah seksi untuk faith and Order (iman dan Tata Gereja), untuk Life and work (kehidupan dan pekerjaan), dan urusan non teologis serta menetapkan kelompok-kelompok kerja untuk kepentingan berbagai sektor di Gereja dan masyarakat misalnya: pendidikan teologi, pelayanan di kalangan tentara, di kalangan remaja, mahasiswa dll.
Sidang Raya IV,  Komitmen Gereja-gereja di Indonesia terhadap NKRI itu secara sangat intensif dibicarakan dalam Sidang Raya IV DGI tahun 1961. Dalam Sidang Raya itu, dengan memilih tema “Yesus Kristus Terang Dunia”, Gereja-gereja secara sangat mendalam membicarakan masalah sosial politik, khususnya masalah disintegrasi bangsa. Dalam SR ini, bisa dikatakan fokus DGI mulai terarah keluar. Ada kesadaran bahwa Gereja Reformasi di RI adalah bagian integral dari bangsa Indonesia. Maka Gereja juga memiliki tanggung jawab atas bangsa ini.
Hal itu semakin ditegaskan dalam Sidang Raya VII 1971 di Pemantang Siantar. Dalam SR itu, dinyatakan bahwa ”Injil adalah berita kesukaan mengenai pertobatan dan pembaharuan (Mrk 1:15) serta kebebasan, keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan yang dikehendaki  Tuhan untuk dunia (Luk 4:18-21;Bdk. Mat 11:4-5). 8 T.B. Simatupang dalam ceramah di Sidang Raya VIII tahun 1976 di Salatiga mengungkapkan gagasan Kristologisnya bahwa Yesus Kristus membebaskan dan mempersatukan. Dan Gereja dipanggil untuk mewartakan pembebasan dan persatuan dalam Gereja, masyarakat dan dunia. Dan dalam konteks Indonesia Pemikiran-pemikiran Simatupang ini kemudian mengkristal dengan menghubungkan keesaan Gereja-gereja di Indonesia itu dengan pengamalan sila ke-3 Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia.9
Sidang Raya IX 1980 di Tomohon kembali semakin menegaskan keterlibatan Gereja di negara ini. Teolog Kristen Protestan Indonesia yang paling berpengaruh T.B. Simatupang kembali menegaskan pandangannya sambil mengacu pada sila ke-3 Pancasila:
Dengan menerapkan sila Persatuan Indonesia dalam pembangunan kita, kita meningkatkan solidaritas nasional di antara semua warga negara, semua golongan dan semua daerah atas dasar hak dan kewajiban yang sama bagi tiap warga negara tanpa memandang asal usul, keturunan dan kedudukan sosial. Seluruh nusantara kita lihat sebagai satu wilayah yang tidak dikotak-kotakkan. Sebagai gereja-gereja kita bertanggungjawab mengenai peningkatan persatuan bangsa. Perwujudan keesaan gereja yang dalam Tuhan telah kita miliki itu, kita tempatkan juga dalam rangka peningkatan persatuan dan kesatuan bangsa.10

Sidang Raya X 1984 di Ambon. Dalam SR ini,  DGI mengevaluasi penghayatan keesaannya setelah 34 tahun berdirinya DGI. Dari evaluasi itu kemudian dibicarakan juga pembaharuan keesaan Gereja. Tujuan DGI 1950, “membentuk Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia”, diubah menjadi “mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia”. Dan dalam SR ini disepakatilah Lima Dokumen Keesaan Gereja (LDKG) menjadi sarana dan alat untuk menghayati keesaan Gereja itu. Selain itu ada pembaharuan nama dari DGI menjadi PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia).
Namun harus diakui bahwa ada dua kecenderungan yang muncul saat proses pengembangan pemahaman tentang Pembentukan Gereja Kristen Esa di Indonesia. Dua kecenderungan yang saling tarik ulur dalam pembentukan Gereja kristen esa adalah:
1. Kecenderungan untuk mengutamakan “keesaan rohani dalam Kristus”, dan karena itu enggan membahas hal-hal yang menjurus pada penyatuan secara struktural organisatoris
2. Kecenderungan untuk mengutamakan keesaan struktural organisasi dan karena itu kurang sabar terhadap segala perbedaan dan sikap mempertahankan identitas diri masing-masing.
Namun kecenderungan untuk menjauhi organisasi itu suaranya lebih sedikit dari pada yang menyetujui pembentukan organisasi.
Dari refleksi dan evaluasi pelaksanaan keesaan Gereja, maka dalam Sidang Raya X 1984 di Ambon itu, disetujui dan disahkan Lima Dokumen Keesaan Gereja (LDKG). LDKG itu dimaksudkan sebagai ”alat” atau ”sarana” untuk mewujudkan Gereja yang Esa. Adapun isi dari LDKG itu kami ringkas sebagai berikut: 11
– Pokok-pokok tugas panggilan bersama(PTPB)
Tugas panggilan bersama dari gereja adalah memberitakan Injil kepada segala makhluk, menampakkan keesaan mereka seperti keesaan tubuh Kristus dengan rupa-rupa kurnia tetapi satu Roh dan menjalankan pelayanan dalam kasih dan usaha menegakkan keadilan. Dari tiga hal itu, bisa dipahami bahwa keesaan itu adalah sesuatu yang dinamis dan dilihat dalam rangka membaharui, membangun dan mempersatukan.
– Pemahaman bersma iman kristen (PBIK)
Pokok dari kepercayaan itu adalah: Gereja dan Alkitab. Allah yang Esa, Yesus Kristus, Roh Kudus , Gereja, Firman Allah. Lalu dalam Sidang Raya XI di Surabaya pokok-pokok itu diperbaharui menjadi: Tuhan Allah, Penciptaan dan pemeliharaan, manusia, penyelamatan, Kerajaan Allah dan Hidup baru,
– Piagam saling mengakui dan saling menerima (PSMSM)
Ciri keesaan gereja adalah bahwa gereja dari berbagai bentuk dan tradisi rohani saling mengakui dan saling menerima sebagai ungkapan dari gereja yang esa, kudus dan am. Gereja mengakui dan menerima yang lain sebagai sama-sama gereja Tuhan. Piagam itu dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan secara serius hubungan kreatif antar gereja anggota.
– Tata dasar PGI
adalah tata dasar dari persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Dari perubahan istilah itu maka tujuan dari PGI bukan lagi pembentukan gereja kristen yang esa di Indondesia malainkan perwujudan Gereja Kristen yang Esa di Indonesia.  Rumusan itu untuk mengukuhkan bahwa Gereja itu Esa sejak keberadaannya. Dalam tata dasar ini pula tercantum mengenai kewajiban dan hak gereja anggota PGI.
– Menuju kemandirian teologi, daya dan dana.
Dokumen ke lima ini lebih bersifat gagasan dan pedoman untuk dikembangkan lebih lanjut. Oleh karena itu maka dokumen ini diawali dengan perkataan ”menuju.” kemandirian sendiri dimengerti sebagai proses menuju kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan sesuai dengan kepenuhan Kristus. Untuk itu maka gereja-gereja perlu saling bekerja sama dan saling menopang di bidang teologi, daya dan dana.
Sidang Raya XI di Surabaya 1989.  SR ini kembali terarah keluar lagi. SR ini memberikan tekanan pada usaha menanggapi masalah kemiskinan. Dengan ini Gereja berusaha memperbaharui tekadnya untuk menanggulangi kemiskinan. Mengapa? Karena disadari bahwa Gereja Kristus berada di Indonesia, maka tak mungkin persoalan kemiskinan yang diambang mata itu tidak ditanggapi. Namun demikian gereja menyadari bahwa persoalan itu tak bisa diselesaikan sendiri. Masalah itu harus dikerjakan bersama, baik dengan pemerintah maupun dengan para penganut agama lain. Salah satu butir keputusan SR XI yang merupakan ungkapan keprihatian bersama PGI  adalah:
Sadar bahwa kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan multi dimensi, maka Sidang Ranya menugaskan MPL/MPH-PGI menata kembali fungsi dan struktur PGI agar bersama dengan semua gereja anggota dapat mengoperasionalisasikan program bersama dengan semua golongan agama yang ada di Indonesia, dalam rangka menanggulangi kemiskinan tersebut (keputusan sidan Raya PGI XI No. 05/SR-XI/1989).12

Sidang Raya XIV 2004 di Wisma Kinasih Bogor, Jawa Barat. Tema SR itu yaitu “Berubahlah oleh Pembaharuan Budimu”13 SR ini menegaskan pula tempat gereja dalam dunia sebagai “Gereja Bagi Orang Lain” (Church for Others). Dan dijelaskan pula bahwa subtema  SR ini , berkata, “Bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa mewujudkan masyarakat sipil yang kuat dan demokratis untuk menegakkan kebenaran dan hukum yang berkeadilan, serta memelihara perdamaian.”
Disadari bahwa reformasi yang terjadi pada tahun 1998 telah membawa perubahan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Salah satu tuntutan Reformasi adalah penegakan hukum. Persoalan ini menjadi fokus dalam persiapan SR ini. perhatian PGI dalam tiga tahun ini. Maka PGI mendesak pemerintah pusat (dan juga pemerintah daerah) agar menjamin perlindungan bagi seluruh warga negara (sebagaimana diamanatkan pembukaan UUD 1945). Karena selama ini seolah negara ragu-ragu untuk berpegang pada Konstitusi bangsa. Maka PGI meminta negara tidak boleh “takut” atau “mundur” menghadapi massa yang beringas melakukan berbagai kekerasan dan melanggar hukum.
Mengamati kepolisian (aparat hukum) yang sering tidak tegas saat menghadapi kelompok-kelompok anarkis yang mengacau Gereja, PGI menyatakan bahwa “Pemerintah seperti tidak berdaya menghadapi kelompok anarkhis yang melakukan teror dan pelanggaran hak asasi manusia serta melarang orang-orang Kristen atau umat beragama lainnya beribadah, padahal dijamin oleh UUD 1945.” (Tempo 27 Januari 2008)14 Di sisi lain, dalam SR itu, PGI juga menyerukan dibangunnya relasi dengan saudara-saudara sebangsa yang berbeda agama.
Sidang Raya XV 2009 akan dilaksanakan di Mamasa Sulawesi Barat. Dalam SR ini Gereja-gereja sepakat untuk memusatkan perhatian pada realitas kemajemukan umat beragama di Indonesia. Kesadaran yang mau dibangkitkan adalah bahwa Allah yang kita imani dan sembah itu adalah Tuhan bagi semua orang dan bagi semua umat beragama, bukan hanya bagi orang Kristen. Ini menampakkan adanya keterbukaan teologis dari kalangan Gereja reformasi. Sola fide, sola gratia dan sola scriptura dihayati dengan cara baru. Memang dalam SR XV inipun belum ditentukan temanya, namun dari berbagai usulan sudah mengerucut menjadi 3 pilihan tema yaitu.15:

(1) “Tuhan itu baik kepada semua orang” (Mazmur 145 : 9)
(2) “Allah, Juruselamat kita, menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran, karena Allah itu esa” (I Tim 2 : 3b-5a)
(3) “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Titus 2:11)

Tema itu akan dilengkapi dengan subtema. Subtema yang diajukan oleh tim adalah “Bersama-sama seluruh komponen bangsa, berjuang bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang cerdas, berkeadaban, inklusif, adil, damai dan demokratis, agar mampu menjawab tantangan global”. SR XV ini juga akan pengesahan amandeman Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga PGI.

1. Penutup
Gereja-gereja reformasi di Indonesia umumnya adalah penganut Calvinis. Karena Gereja di Indonesia dibawa oleh Belanda yang mengikuti ajaran Calvin. Berikut ini kami ungkapkan beberapa prinsip umum Gereja reformasi yang juga dianut oleh Calvin: Sola Gratia: Semua yang ada hanya anugerah Allah saja. Maka tidak bisa dipahami dan perlu ditolak bila manusia dapat bekerja sama antara manusia dengan Allah untuk keselamatannya. Sola Fide Prinsip ini mengatakan bahwa hanya oleh iman (fide) saja manusia diterima oleh Tuhan dan dapat datang dan sampai pada Tuhan. Sola Scriptura Prinsip ini mengatakan bahwa hanya apa yang dikatakan Kitab Suci (Sabda Tuhan) saja yang patut dipercaya. Itulah yang disebut Trisola dalam prostestan.
Namun Gereja-gereja reformasi di Indonesia tidak bisa secara ”tegas” menghayati Teologi Calvin seperti di Belanda. Gereja Reformasi di Indonesia mengalami ”penyesuaian.” Trisola yang menjadi prinsip Gereja reformasi ternyata dalam konteks Indonesia yang multi kultur, agama dan etnis, harus dihayati dengan lebih luwes dan PGI telah mewujudkannya. Dari penelusuran kami, PGI mengalami pembaharuan terus menerus dan semakin hari semakin dapat menjawabi konteks.  Artinya Gereja dapat melaksanakan tugas penggilannya dan menjadi berkat bagi semua orang di Indonesia. Melaksanakan panggilan itu berarti melaksanakan kehendak Tuhan di tengah dunia yang terus berubah ini.
Namun kesadaran akan ”keefektifan” suatu persekutuan dalam memberi kesaksian iman membawa gereja-gereja untuk membentuk persekutuan yang lebih konkret maka terbentuklah apa saat ini kita kenal PGI. Untuk tujuan itu diperlukan alat atau sarana yang akan memberikan gambaran keesaan. Dan gambaran keesaan itu terwujud dengan dihayatinya LDKG sebagaimana telah kami sebutkan di atas.
Dalam perkembangan dari satu sidang raya ke sidang raya yang lain, selalu diusahakan mengkontekstualkan iman kristen di Indonesia dengan segala persoalannya. Namun kami tidak merekam itu semua. Namun dari poin-poin yang telah kami ungkap, kiranya tampak bahwa usaha kontekstualisasi iman kristen di Indonesia ini semakin sistematis dan menjadi suatu ”gerakan” bersama. (Paper Yulianus Gunawan, CM, 2008)

Daftar Pustaka
de Jonge, Christiaan, Apa itu Calvinisme?, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001
_______, “Keprihatinan dan harapan gereja terhadap masalah kemiskinan di Indonesia” dalam Gerakan Oikumene: Tegar Mekar di Bumi Pancasila, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993
Hoekema,  A.G., Berpikir Dalam Keseimbangan Yang Dinamis: Sejarah Lahirnya Teologi Protestan Nasional di Indonesia (Sekitar 1860-1960), Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997
Ukur, Fridolin, “Menapaki Masa Depan Bersama: Suatu Tinjauan Historis” dalam Gerakan Oikumene: Tegar Mekar di Bumi Pancasila, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993
Raprap,  L.Z., “Pemberitaan Injil Kerajaan Allah di Indonesia”, dalam Gerakan Oikumene: Tegar Mekar di Bumi Pancasila, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993
PGI, Dalam Kemantapan Kebersamaan Menapaki Dekade Penuh Harapan (Lima Dokumen Keesaan Gereja), Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993

Dari Internet:
Http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0412/03/Politikhukum/1415263.htm Diakses 1 Juni 2008
http://www.pgi.or.id/berita.php?news_id=79 Diakses 16 Mei 2008
http://www.pgi.or.id/a_pgiwilayah.php Diakses 2 Mei 2008
http://209.85.175.104/search?q=cache:dy3UJ4pP86sJ:www.geocities.com/jurnalintim/ed5hlm34.Htm+sidang+raya+DGI+IV&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id Diakses 16 Mei 2008
http://209.85.175.104/search?q=cache:J9Q4j1zVvVMJ:www.oaseonline.org/artikel/mojau-citra.pdf+sidang+raya+DGI+VIII&hl=id&ct=clnk&cd=8&gl=id Diakses 16 Mei 2008
http://www.oaseonline.org/artikel/mojaupolitikdiskr.htm Diakses 16 Mei 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: