Penilaian Moral Katolik Terhadap Problem Hubungan Seks di Luar Nikah Para Remaja

1. Pengantar
Beberapa tahun terakhir ini kita dikejutkan oleh terkuaknya gaya hidup sebagian kaum muda ataupun remaja di negeri kita. Moamar Emka dalam buku Jakarta Sexs Undercover membuka gaya hidup kaum muda atau remaja berduit di kota besar Jakarta yang dengan bebas melakukan hubungan seks dengan gaya gila-gilaan, yang mungkin hal itu juga terjadi dikota-kota lain di Indonesia namun belum terkuak. Selain itu juga buku Seks In the Kost yang juga menguak gaya hidup kaum muda yang bebas, hura-hura matre mengumbar hawa nafsu dll. yang ada di luar bayangan kita semua.
Berita yang tak kalah mengejutkan lagi adalah hasil survey PKBI di 5 kota di Indonesia yakni Kupang, Palembang, Singkawang, Tasikmalaya, dam Cirebon terhadap para remaja. Data survey menunjukkan bahwa 16,35% remaja di lima kota itu telah melakukan hubungan seksual diluar pernikahan.2 Hasil survey BKKBN Jawa Barat terhadap 288 remaja usia 15-24 tahun di 6 kabupaten di Jawa Barat pada bulan Mei 2002 menunjukkan bahwa 39,65% remaja pernah melakukan hubungan seksual layaknya suami isteri.3
Hasil survey itu benar-benar menimbulkan keprihatinan dari banyak kalangan. Mulai dari kalangan orang tua, sosiolog, antropolog, maupun para pemerhati kaum remaja dan para pejabat pemerintahan. Dan dari data itu kita dapat mengetahui bahwa dewasa ini seks di luar nikah seolah biasa bagi sebagian remaja. Bagaimana penilaian moral katolik terhadap masalah itu? Dan bagaimana langkah pastoral untuk menangani masalah ini? Dalam paper ini, penulis berusaha mendalami persoalan penyelewengan seks itu dan mengungkapkan penilaian moral katolik terhadap masalah ini.

2. Pengertian Hubungan Seks Di Luar Nikah (Seks Bebas)
Hubungan seks di luar nikah adalah persetubuhan antara pria dan wanita di luar pernikahan. Dengan persetubuhan dimaksudkan bahwa secara fisik terjadi pemasukan penis pada vagina. Secara psikis atau kejiwaan, persetubuhan memaksudkan dua pihak saling menyerahkan dirinya (emosi dan badannya). Secara spiritual (agama-agama) persetubuhan itu menuntut penyerahan diri secara utuh dari dua belah pihak namun juga mengandung konsekuensi tanggung jawab.
Persetubuhan yang penulis maksudkan dalam paper ini terjadi bukan dalam relasi pribadi-pribadi yang telah bersatu dalam ikatan perkawinan. Namun itu terjadi bukan karena salah satu pihak memaksa pihak yang lain untuk bersetubuh. Melainkan persetubuhan itu terjadi karena pria dan wanita yang melakukannya atas dasar suka-sama suka, tanpa keterlibatan emosional, dan dilakukan dengan beberapa partner untuk saling mencari kenikmatan.

3. Faktor – faktor yang Turut Menjadi Penyebab Permasalahan
Masalah persetubuhan di luar nikah (seks bebas) penyebabnya sangat kompleks. Dalam kekomplekskan itu, penulis berusaha merumuskan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya seks bebas di kalangan remaja itu.

3.1. Faktor Fisik Remaja
Secara fisik, remaja memiliki organ-organ seksual yang sudah mulai aktif. Artinya sudah berfungsi sebagaimana adanya. Pada wanita mereka sudah mulai menstruasi, dan sudah memproduksi sel telur yang bila dibuahi akan menimbulkan kehamilan. Pada laki-laki organ seksnya bisa memproduksi dan mengeluarkan sperma sehingga siap untuk membuahi sel telur.
Pada masa remaja, libido4 menguat dan berfungsi dengan baik sehingga ketika libido sedang naik dorongan seksual atau nafsu seksual remaja memuncak sehingga mudah terangsang. Dalam situasi ini godaan untuk melampiaskan nafsu seksual besar.

3.2. Faktor Psikologis
Secara psikis mereka sudah mulai tertarik pada lain jenisnya. Remaja mulai mengagumi lawan jenisnya. Remaja perempuan mulai tertarik dan berusaha mengambil simpati dari remaja atau pemuda pujaannya. Remaja putra juga mulai tertarik para remaja atau pemudi dan berusaha mengambil simpati bahkan melakukan pendekatan kepada remaja perempuan. Ketertarikan itu kerapkali juga membawa remaja kepada khayalan-khayalan akan kebersamaan dengan orang yang diidamkannya.
Namun di sisi lain mereka juga sedang mencari identitas diri. Artinya mereka sedang mencari siapa dirinya karena itu mereka akan berusaha mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh atau orang yang mereka kagumi. Untuk menemukan identitas dirinya itu, ia juga banyak bergaul dengan teman-teman sejenisnya. Yang ia perlukan dalam pergaulan itu yakni penerimaan dari teman-temannya. Kebutuhan untuk diterima diantara teman-temannya memungkinkan remaja jatuh kebiasaan untuk ikut-ikutan melakukan tindakan yang buruk atau mencoba-coba hal yang berbahaya bagi orang lain dan fatal bagi dirinya; suatu tindakan yang tidak peduli lagi pada nilai-nilai moral.

3.3. Faktor sosial
Manusia adalah makhluk sosial. Ia hidup bersama orang lain karena itu manusia tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungan sekitarnya. Dewasa ini masyarakat kita dilanda oleh kemajuan ilmu dan teknologi yang amat pesat. Khususnya teknologi komunikasi terjadi kemajuan yang luar biasa. Orang dapat memperoleh informasi dengan mudah lewat internet, TV, radio dst. Orang juga dengan mudah dapat menjalin komunikasi dengan orang yang berada di tempat yang jauh dengan HP, telpon, internet dll. Namun kemudahan itu rupanya juga memiliki pengaruh yang amat besar terhadap hidup manusia sendiri. Banyak terjadi pergeseran nilai dan gaya hidup pada manusia. Kalangan remaja salah satu kelompok masyarakat yang juga terkena imbas kemajuan ilmu dan teknologi.

3.1.1. Ideologi Hedonisme dan Individualisme
Hedonisme yakni pandangan bahwa manusia seakan-akan memiliki hak atas segala nikmat yang ditawarkan dan bahwa kehidupan tidak berhasil bila tanpa segala kemungkinan nikmat dipergunakan. Terasukinya remaja oleh ideologi ini membuat remaja hanya mengejar kenikmatan tanpa peduli akan hakekat dirinya yang bermartabat tinggi.
Idividualisme adalah paham bahwa ukuran tindakan adalah urusan pribadi dan orang lain tidak boleh ikut campur. Dengan demikian mengagungkan hak dan kebebasan pribadi. Namun kebebasan pribadi ini dipahami secara salah. Kebebasan itu diartikan sebagai bebas secara total. Artinya apa saja yang tidak merugikan atau tidak mengganggu hidup orang lain boleh dilakukan. Salah pengertian ini akibatnya fatal bagi orang. Salah satu korbannya yakni remaja. Remaja melakukan tindakan-tindakan tanpa peduli pada norma moral. Tindakan itu diantaranya adalah melakukan hubungan seksual di luar pernikahan.
Selain itu kaum remaja yang masih belum matang dan sedang mencari identitas terasuki oleh ideologi-ideologi itu akibatnya remaja jatuh pada pergaulan bebas salah satu akibat selanjutnya adalah terjadinya hubungan seks di luar pernikahan.

3.1.2. Maraknya Pornografi
Dewasa ini pornografi amat marak. Pornografi amat mudah diperoleh dalam masyarakat dewasa ini. Sehingga orang dengan mudah dibangkitkan nafsu seksualnya, dan membangkitkan nafsu seksualnya. Diantaranya adalah remaja yang memiliki rasa penasaran yang tinggi ingin menikmati sajian pornografi dari internet ataupun buku bacaan atau gambar porno bahkan VCD porno. Karena rasa penasarannya remaja ingin tahu banyak tentang pornografi dan ujung-ujungnya bisa jadi remaja bukan hanya ingin menonton melainkan menikmatinya entah dengan teman sebaya ataupun dengan pelacur atau yang lainnya.

3.1.3. Masyarakat yang Permisif
Dewasa ini warga masyarakat seolah merasa biasa mendengar atau membaca berita, atau mengetahui bahwa seorang laki-laki yang sudah beranak istri datang ke pelacuran, nonton VCD porno, selingkuh dengan tetangga dst ataupun seorang perempuan beristri selingkuh dengan tetangga. Masyarakat seolah santai-santai saja terhadap persoalan moral itu. Keadaan ini mempengaruhi remaja dan memberikan peluang permisif juga terhadap remaja yang melakukan hubungan seksual di luar nikah. Mungkin mereka berfikir: “Orang-orang di sekitar cuek saja kok jadi lakukan saja yang penting saya senang dan suka-sama suka”.

3.4. Kesimpulan
Hubungan seks remaja terjadi karena banyak hal yang mempengaruhi. Faktor pribadi remaja: perkembangan fisik dan psikis dan faktor sosial memiliki peluang menjadi dasar terjadinya seks di luar nikah.
Dari uraian di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa persetubuhan remaja di luar nikah lebih banyak terjadi tanpa keterlibatan emosional yang mendalam dan terjadi dalam kualitas relasi antara masing-masing pribadi yang dangkal dan tanpa ada ikatan yang menuntut masing-masing pribadi bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bisa dikatakan bahwa relasi mereka adalah relasi subyek dengan obyek dan bukan subyek dengan subyek. Pasangan adalah obyek untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Itu berarti bahwa martabat pribadi masing-masing tidak dihormati melainkan diinjak-injak.

4. Penilaian Moral Katolik terhadap Hubungan Seks di Luar Nikah Remaja
4.1. Martabat Laki-laki dan Perempuan
Kejadian 1:27 mengatakan bahwa “Allah menciptakan manusia menurut gambarNya …. Sebagai pria dan wanita Ia menciptakan mereka”. Manusia diciptakan secitra Allah. Kesecitraan ini menunjukan bahwa manusia memiliki martabat yang luhur dan tinggi dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Baik pria maupun wanita manusia memiliki martabat yag sama. Pria dan wanita adalah sejajar. Mereka bukanlah budak dari yang lain. Mereka memiliki martabat yang sama. Karena itu mereka harus saling menghormati martabat tinggi dan luhur yang dianugerahkan Allah itu.

4.2. Hakekat Hubungan Seks atau Persetubuhan
Manusia (pria dan wanita) adalah jiwa yang membadan dan badan yang menjiwa. Keduanya tidak bisa dipisahkan dan tidak boleh dipandang secara terpisah. Manusia adalah jiwa-badan yang utuh. Karena itu tindakan terhadap badan berarti juga tindakan terhadap jiwa. Dan tekanan terhadap jiwa juga tekanan terhadap badan. Keutuhan atau keseluruhan diri manusia adalah kesatuan itu. Dalam ajaran katolik persetubuhan menyangkut keutuhan badan dan jiwa. Persetubuhan bagi pria dan wanita merupakan upaya untuk saling menyerahkan diri bukan hanya badan tetapi menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia (Bdk. FC 11).
Konsili Vatikan II secara implisit mengungkapkan bahwa persetubuhan itu luhur dan terhormat. Dan bila dilakukan dengan sungguh manusiawi akan menandakan dan memupuk penyerahan diri timbal balik (GS 49). Keluhuran persetubuhan itu mensyaratkan adanya cinta kasih dari pria dan wanita dan cinta kasih itu harus terjalin dalam ikatan perkawinan. Karena itulah maka penggunaan fungsi seksual mendapat makna sejati dan dibenarkan secara moral hanya dalam perkawinan sejati (Persona Humana 5) atau tindakan genital harus dalam kerangka perkawinan (Persona Humana 7). Artinya setiap persetubuhan harus terjadi setelah pria dan wanita menikah secara sah. Dengan demikian pemberian diri timbal balik, ketulusan hati, kesetiaan pria dan wanita, prokreasi dan pendidikan anak pria dan wanita itu, terjamin. Jadi pada hakekatnya persetubuhan itu hanya boleh terjadi dalam kerangka perkawinan.

4.3. Penilaian Moral Katolik
Dari dasar martabat manusia dan hakekat persetubuhan di atas, kiranya jelas bahwa moral katolik menilai bahwa hubungan seksual di luar nikah (seks bebas) pada kalangan remaja itu jelas tidak tepat dan karena itu dilarang. Karena persetubuhan di luar nikah itu sungguh tidak didasari oleh kualitas relasi yang mendalam. Relasi mereka sangat dangkal mereka hanya ingin mencari kenikmatan saja. Dengan demikian relasi mereka hanya relasi subyek dengan obyek pemuas nafsu. Itu berarti bahwa persetubuhan itu benar-benar merendahkan martabat kemanusiaan mereka sendiri. Dengan sendirinya tindakan itu harus dilarang. Karena persetubuhan adalah tindakan integral pria dan wanita. Persetubuhan adalah ungkapan penyerahan total seorang pria kepada wanita dan seorang wanita kepada pria. Maka bukan hanya badan yang menyatu dalam persetubuhan melainkan seluruh diri orang. Keterlibatan integral pribadi manusia dalam persetubuhan ini menunjukan bahwa persetubuhan itu sungguh luhur. Keluhuran persetubuhan mensyaratkan bahwa persetubuhan itu harus dihormati, persetubuhan itu menuntut cinta, kesetiaan, bersifat eksklusif dan untuk selamanya. Karena itulah maka persetubuhan hanya mendapat tempat yang tinggi dalam perkawinan yang sah (Bdk. Persona Humana 7). Perkawinan katolik yang tak dapat diceraikan memungkinkan pribadi manusia yang memiliki martabat yang luhur itu dihormati. Dan persetubuhan dalam perkawinan memungkinkan pribadi masing-masing dicintai dan di terima secara total.

5. Refleksi
Sebagai calon imam, fenomena persetubuhan di luar nikah di kalangan remaja ini jelas merupakan persoalan pastoral yang menuntut penanganan pastoral khusus. Apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi masalah ini? Bagaimana mendampingi remaja yang telah melakukan hubungan seks di luar nikah?
Langkah awal yang penulis usulkan untuk menanggulangi terjadinya hubungan seks di luar nikah adalah:
1. Memberikan suatu pemahaman yang benar tentang makna dan kedudukan hubungan seksual bagi manusia. Remaja harus memahami martabat hubungan seksual antara pria dan wanita. Hubungan seksual pada hakekatnya hanya boleh dilakukan dalam perkawinan. Penghargaan hubungan seksual itu hanya mungkin dalam suatu perkawinan yang sah. Hubungan seksual merupakan salah satu ungkapan relasi intim keseluruhan diri pria dan wanita suatu penerimaan dan penyerahan diri secara total dari masing-masing pribadi. Selain itu remaja juga harus mengetahui akibat dari hubungan seksual di luar nikah bagi dirinya dan pasangannya. Akibat biologis maupun psikologis serta sosiologis. Pemahaman itu sangat penting agar remaja memahami betul makan hubungan seksual dan tidak menyalahgunakannya untuk mencari kenikmatan sesaat saja.
Selain itu juga memberikan pemahaman tentang bahaya hubungan seksual di luar nikah itu bagi mereka.
Hal itu bisa dilakukan dengan mengadakan seminar – seminar, diskusi ataupun sarasehan tentang makna persetubuhan kepada remaja katolik. Dalam lingkup paroki barangkali sangat bagus pengefektifan kelompok-kelompok mudika atau remaja dalam mendalami persoalan ini.
2. Untuk antisipasi masalah hubungan seksual di luar nikah orang tua juga harus dilibatkan untuk memberikan pendidikan seksual yang tepat bagi anak-anak. Keluarga sebagai tempat pertama untuk pendidikan harus berusaha untuk memberikan pendidikan seksual sederhana sejak kecil supaya pada usia remajanya nanti pribadinya matang sehingga tidak mudah jatuh tergoda untuk melakukan hubungan seksual di luar nikah.
Sementara langkah untuk menangani para remaja yang telah melakukan persetubuhan di luar nikah adalah:
1. Melakukan pengakuan dosa dan berjuang dengan sungguh untuk menghindari persetubuhan di luar nikah lagi.
2. Membimbing mereka pada pemahaman yang benar tentang makna, hakekat. dan bahaya persetubuhan bagi fisik dan psikis pribadi. (Oleh yulianus gunawan,cm)

DAFTAR PUSTAKA
Embuiru, Herman, P., (Penterjemah), Katekismus Gereja Katolik, Ende: Arnoldus, 1995.
Persona Humana (terjemahan bahasa Indonesia), Malang: STFT Widya Sasana, 2003.
Hardawiryana, R., SJ., (Penterjemah), Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta; Obor, 1993.
Go, Piet, Dr., Sexualitas dan Perkawinan, Malang: Sekolah Tinggi Filsafat teologi, 1980.
Magnis Suseno, Franz, Berimana Dalam Masyarakat: Butir-butir Teologi Kontekstual, Yogyakarta: Kanisius, 1993.
Shelton,.M., Charles, SJ., Moralitas Kaum Muda, Yogyakarta: Kanisius, 1988.
Marx, I., Dorothy, Itu ‘Kan Boleh?, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, tanpa tahun.
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0802/30/0306.htm.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: