Cinta Kasih: Poros Relasi Laki-laki dan Perempuan

Refleksi atas Pengalaman Asali Manusia

I. Pengantar
Para feminist memperjuangkan persamaan hak dan peran perempuan dengan laki-laki. Dengan menyimak perjuangan mereka, kita tergugah untuk mengerti peran dan hakekat manusia sebagai perempuan dan laki-laki. Dalam rentang waktu yang panjang, sejarah memang memihak laki-laki. Di banyak budaya, tendensi androsentris menempatkan laki-laki di depan sedangkan perempuan di belakang, laki-laki berada di ruang publik, sedangkan perempuan di ruang privat yang tertutup.1 Kecenderungan ini telah membudaya sehingga membentuk sebuah ideologi yang mendominasi perempuan.
Dari awal mula, Allah menciptakan manusia menurut citraNya. Ia menciptakan laki-laki dan perempuan dengan martabat yang sama dan sederajat. Adanya perbedaan tidaklah dimaksudkan untuk menempatkan yang satu lebih tinggi dari yang lain. Kita tidak menemukan adanya tendensi awali bahwa laki-laki lebih tinggi martabatnya dari pada perempuan. Namun dalam pengalaman nyata, penomorduaan, perlakuan tak adil dan perampasan hak perempuan oleh laki-laki menjadi realitas keseharian yang seolah-olah lazim di tengah masyarakat. Balutan budaya lokal kiranya menjadi salah satu penyebab adanya keadaan itu.
Manakala kita dalam kaca mata kita sekarang menilik sejumlah kisah relasi antara laki-laki dan perempuan dalam Kitab Suci, yang tentu dibalut oleh konteks budaya setempat, kita seolah-olah menemukan pembenaran atas pembedaan martabat antara laki-laki dan perempuan. Kalau demikian, apakah memang ada tendensi bahwa apa yang terjadi saat ini adalah penerusan dari apa yang terjadi sejak awal mula. Bagaimana kita memahami itu semua? Apakah yang menjadi poros harmonisasi relasi perempuan dan laki-laki?
Untuk itu, penulis ingin meneliti hal-hal itu dengan melihat pengalaman asali manusia dan akibat-akibatnya. Sumbernya adalah audiensi Paus Yohanes Paulus II sejak tahun 1979-1984. Dalam audiensi itu, Paus Yohanes Paulus II banyak mengulas relasi antara laki-laki dan perempuan. Hasil audiensi ini kemudian dikumpulkan dalam sebuah dokumen berjudul: The Theology of The Body. Untuk sistematikanya kami mereferensi “ringkasan” audiensi Paus yang tulis oleh Antony Percy. Dalam beberapa poin penting dari ringkasan itu, Percy mengungkapkan empat pengalaman asali dan empat kualitas kehadiran manusia. II. Pengalaman Asali Manusia
II.1. Makna Kesendirian Asali (Original Solitude)
Problem solitude ditunjukkan hanya dalam konteks kisah kedua penciptaan. Sedangkan dalam kisah pertama penciptaan manusia, problem itu diabaikan. Di sana manusia diciptakan dengan satu tindakan sebagai laki-laki dan perempuan. “Allah menciptakan manusia menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka” (Kej. 1:27). Sebagaimana telah disebutkan, kisah kedua berbicara pertama-tama tentang kisah penciptaan manusia dan sesudah itu kisah tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki.
Apa makna kesendirian asali itu? Untuk memahami makna kesendirian asali itu, Yohanes Paulus II mengarahkan penelitian pada Kej. 2:4-25. Kisah penciptaan yang kedua ini, bercorak antropromorfistis. Dalam Kej. 2:7, dikatakan bahwa “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya…”. Selanjutnya Tuhan Allah menempatkan manusia yang diciptakanNya itu di taman Eden. Di sana, manusia sendirian, tetapi bersama Allah. Ia menikmati sebuah relasi yang unik denganNya. Manusia berdiri di hadapan Allah dan berada dalam kehadiran Allah. Relasi manusia dengan Allah dilakukan secara langsung, ini tidak sama dengan binatang-binatang. Manusia dapat berdialog dengan Allah karena ia memiliki roh yang membuatnya dapat memahami dan mencintai Allah, dunia dan dirinya sendiri. Itulah makna pertama dari kesendirian asali. Dari makna itu manusia memahami posisinya di tengah ciptaan.
Makna kedua, kesendirian asali manusia bersumber pada Kej. 2:20: “Manusia… tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.” Binatang-binatang yang juga diciptakan oleh Allah dikenal dan diberinya nama, namun mereka ternyata tidak sepadan, tidak seperti dengan dirinya. Maka manusia berada dalam kesendirian. Manusia melihat bahwa tak satupun ciptaan di sekitarnya yang seperti dirinya. Ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya yang belum terpenuhi.
Kesendirian itu menunjuk pada kesendirian manusia, “man” sebagaimana adanya, dan bukan hanya menunjuk pada kesendirian dari laki-laki karena tidak ada perempuan. Kesendirian itu, menunjuk pada kesendirian dari manusia (baik laki-laki dan perempuan). “Man is alone”.2 Hal itu menampakkan suatu masalah antropologi yang fundamental, sebelum adanya sebuah pengertian tentang fakta bahwa manusia itu laki-laki dan perempuan. Problem ini pertama-tama bukan soal pengertian kronologis di mana laki-laki diciptakan terlebih dahulu, problem ini pertama-tama adalah solitude itu sendiri (by its very nature).3
Allah menegaskan bahwa “tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (Kej. 2:18). Penegasan ini bukanlah satu-satunya alasan konteks keputusan untuk menciptakan perempuan, melainkan juga dalam konteks yang lebih luas yaitu soal sebab-sebab dan keadaan-keadaan tertentu. Menurut teks Yahwist, penegasan itu berhubungan dengan konteks kebutuhan akan manusia yang bertanggungjawab untuk “mengusahakan tanah” (Kej. 2:5). Hal itu senada dengan kisah pertama penciptaan tentang panggilan manusia untuk menaklukkan dan menguasai bumi dan segala isinya (Kej. 1:28).
Dari pembicaraan tentang keberadaan manusia di taman Eden kita dihantar pada pemahaman akan situasi kebahagiaan asali manusia. Dan dalam kisah manusia di taman Eden, tampaklah subjektivitas manusia. Tuhan Allah “membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. DibawaNyalah semuanya kepada manusia … Apapun nama yang diberikan manusia kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu” (Kej. 2:19). Selain itu dari teks itu, tampak jugalah superioritas manusia sendiri di antara spesies lain yang hidup di bumi.

II.2. Persatuan Asali Laki-laki dan Perempuan (Original Unity)
Tuhan Allah melihat bahwa “tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja”. Maka Tuhan Allah menjadikan “penolong baginya yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18). Kemudian Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak. Ia mengambil salah satu rusuk manusia itu lalu dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawaNya kepada manusia itu. Saat bangun manusia itu mendapati makhluk ciptaan lain yang tubuhnya seperti dirinya, namun sekaligus berbeda dengan dirinya. Maka manusia itu berkata: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki” (Kej 2:23). Sangat pentinglah dipahami bahwa kisah penciptaan manusia pertama (Adam) yang diciptakan dari debu tanah didefinisikan sebagai seorang laki-laki, “male” hanya setelah penciptaan perempuan pertama.
Manusia itu (laki-laki) kemudian memutuskan untuk menjadi satu daging dengan perempuan. Itulah persatuan asali manusia. Dalam persatuan itulah, seorang manusia memperoleh kesempurnaan diri dan kepenuhan hidup. Manusia itu kini menemukan bahwa dirinya bersama/bersatu dengan Allah, kemudian ia juga bersama dengan pribadi lain yang unik. Ia bersama seorang pasangan dan bersama pasangannya bersama Allah.
Allah menciptakan kita dalam relasi denganNya dan dengan manusia lain. Kita diciptakan Allah untuk menjadi manusia relasional. Karena, Allah sendiri adalah pribadi yang relasional. Ini tampak dalam relasi “wungkul” Bapa, Putera, Roh Kudus. Relasi cinta Allah itu tak terpisahkan satu sama lain. Maka menyebut yang satu berarti juga menyebut yang lain. Memanggil Bapa berarti juga memanggil Putera dan Roh Kudus.
Menurut Yohanes Paulus II, hakekat persatuan asali laki-laki dan perempuan adalah soal penerimaan dan pemberian, “accepting and giving” 4. Adam menerima Hawa, Adam gembira bersama dengan Hawa. Namun pada waktu yang sama, Adam memberikan dirinya kepada Hawa dan keduanya menjadi satu daging. Adam tidak memaksa Hawa untuk bersatu dengannya. Adam menggunakan kebebasan dan memilih Hawa sebagai teman hidupnya. Mereka mulai membangun hidup baru, di mana Adam memberikan dirinya kepada Hawa dan menerimanya sebagai bagian dari hidupnya. Demikian juga sebaliknya Hawa menerima Adam dan memberikan dirinya.
Accepting and giving adalah dasar dari persaudaraan sejati. Yohanes Paulus II mengungkapkan bahwa pengalaman persatuan itu penting, karena dengan demikian Adam dan Hawa memperoleh pengertian yang baru tentang martabat mereka berdua. Mereka mengalami dan merasakan hidup mereka secara baru. Pengalaman radikal giving- accepting menuntun mereka pada suatu cara hidup yang baru.

2.3. Ketelanjangan Asali (Original Nakedness)
Di dalam Kitab Kejadian, ada dua kisah yang menyebutkan peristiwa ketelanjangan. Dua kisah ini memiliki kualitas peristiwa dan makna yang berbeda. Pertama, Kitab Suci menceritakan bahwa “mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu” (Kej. 2:25). Peristiwa ini mendahului kisah kejatuhan manusia. Sebelum dosa, mereka berdua telanjang dan tidak malu. Mereka sungguh-sungguh bebas. Mereka tak mempunyai hambatan tentang tubuh mereka sendiri atau tubuh orang lain. Seperti anak-anak yang telanjang dan tidak malu5, mereka sungguh-sungguh bebas. Manusia merasa nyaman dengan siapa mereka berada. Mereka mempunyai kepercayaan yang tak terbatas dengan sekitar mereka.
Pria dan perempuan yang telanjang dan tidak malu menggambarkan pengalaman bersama bahwa yang satu menjadi bagian dari yang lain, pria mempunyai dimensi femininitas dan sebaliknya pengalaman maskulinitas juga menjadi bagian dari pengalaman perempuan6. Dengan mengatakan “mereka telanjang”, mereka tidak menyembunyikan diri satu terhadap yang lain. Inilah gambaran pengalaman tentang ketidakberdosaan awali (original innocence). Mereka menjadi pribadi yang secitra dengan Allah, mampu mencintai satu sama lain secara utuh. Mereka memandang satu sama lain sebagai subjek yang harus dihormati dan dicintai. Pandangan mereka tidak disempitkan pada karakter artifisial, melihat pihak lain sebagai objek yang membangkitkaan nafsu untuk pemenuhan kebutuhan seksual.
Kedua, Kitab Suci mengisahkan: “kemudian terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat” (Kej. 3:7).. Kata “kemudian” melukiskan suatu momen dan situasi baru yang mengikuti putusnya perjanjian pertama. Situasi ini mengikuti jatuhnya manusia dari pencobaan terhadap pohon yang memberi pengetahuan baik dan buruk. Pada saat yang sama, pencobaan pertama itu menghilangkan ketaatan mereka, yaitu mendengarkan Firman dalam seluruh kebenaran dan menerima kasih. Lalu ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah yang berjalan di taman, mereka bersembunyi di antara pohon-pohonan. Dan Tuhan memanggil mereka, “Di manakah engkau”. Mereka mendengar panggilan Tuhan, tetapi tak menjawab karena mereka malu dan takut. Dikatakan “aku takut karena aku telanjang”. Momen dan kondisi yang baru memberi kualitas yang berbeda dari sebelumnya.
Ketelanjangan pada kondisi kedua ini membuat mereka takut dan malu. Kita tahu bahwa hal yang membuat takut dan malu ini bukan hanya perkara ketelanjangan secara fisik. Manusia berusaha untuk menutupi ketelanjangannya. Kemudian Allah bertanya, “siapa yang memberitahumu bahwa engkau telanjang? Apakah engkau telah memakan buah dari pohon yang telah saya larang untuk dimakan? (Kej. 3:11) Ketelanjangan ini tidak hanya mengacu pada tubuh. Sesungguhnya, ketelanjangan ini membuat manusia tercerabut dari partisipasinya dalam rahmat. Manusia dialienasikan dari kasih yang menjadi sumber rahmat, sumber kepenuhan dari kebaikan yang dimaksudkan untuk penciptaan.7 Ia kehilangan haknya untuk berpartisipasi dalam visi ilahi terhadap dunia dan kemanusiaannya sendiri, yaitu “Allah melihat bahwa ini sangat baik” (Kej. 1:31).
Ungkapan “aku takut, karena aku telanjang, dan aku bersembunyi” (ke. 3:10) menjadi tanda perubahan hubungan secara radikal. Mereka mengungkapkan kesadaran akan ketidakberdayaannya, ketidakamanannya. Manusia kehilangan kecitraanNya pada Allah yang diekspresikan dalam tubuhnya. Manusia terbuang dari rahmat supernatural yang menjadi bagian dari anugerahnya sebelum dosa. Akhirnya, ia menderita kehilangan apa yang dimilikinya dari semula, yaitu kepenuhan kemanusiaan sebagai citra Allah.
Perbedaan rumusan yang membedakan Kej. 2:25 dan Kej. 3:7 itu menunjukkan hal yang penting. Momen pertama, “mereka telanjang, tetapi tidak malu”. Momen kedua, mereka mengetahui bahwa mereka telanjang. Ada perubahan kualitas: dari “tidak mengetahui” ke “mengetahui”. Ini merupakan perubahan radikal tentang makna ketelanjangan asali dari perempuan di hadapan laki-laki dan laki-laki di hadapan perempuan.
Tubuh adalah tanda kehadiran manusia di dunia yang tampak ini. Tubuh yang dapat dilihat ini menjadi tanda transendensi pribadi manusia. Dalam kisah kejadian awali, kita telanjang di hadapan satu sama lain dan tidak merasa malu. Ketelanjangan mereka menjadi lambang hubungan mereka dengan Allah. Sampai saat itu, hubungan dengan Allah masih utuh, maka ketelanjangan itu tidak menyebabkan rasa malu. Hanya ketika hubungan itu retak, maka ketelanjangan mereka menjadi sesuatu yang memalukan8.
Dengan terjadinya dosa asal, maka terjadi pula rasa malu akan seks. Ketika pria dan perempuan berhadapan secara telanjang, mereka tak lagi mempunyai kemurnian untuk memandang satu sama lain sebagai subjek/pribadi utuh yang mempunyai kompleksitas akan sensitivitas, afektivitas, dan spiritualitasnya9. Mereka tercebur dalam pandangan sempit memandang yang lain sebagai objek pemuas hasrat seksual. Maka, malu secara seks itu kemudian menjadi positif dan baik karena akan melindungi kemurnian kita.

2.4. Dosa Asal (Original Sin)
Kisah kejatuhan manusia dikisahkan dalam Kej. 3:1-19. Kisah ini sama sekali tidak mengatakan alasan ular untuk menggoda laki-laki dan perempuan. Tentu dalam Kej. 3 sumber kejahatan sendiri dibiarkan menjadi misteri. Yang mau disampaikan oleh cerita itu adalah bahwa kehadiran kejahatan di dunia disebabkan oleh keputusan manusia untuk melawan Allah. Dalam cerita itu, ular diperkenalkan lebih dahulu, lalu perempuan, kemudian laki-laki. Ketika Allah datang ke taman, laki-laki disapa lebih dahulu, lalu perempuan, kemudian ular.
Manusia digoda tentang kebenaran yang sifatnya setengah, 1) kamu tidak akan mati, 2) matamu akan terbuka, 3) kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. Dan ternyata memang benar bahwa mereka tidak mati. Namun mereka dikuasai oleh kematian, dan akhirnya akan mati. Memang mata mereka menjadi terbuka, akan tetapi tidak seperti yang mereka harapkan. Mereka sadar dan tahu bahwa mereka telanjang, dan ini menghadirkan pengalaman rasa bersalah dan rasa malu. Mereka tahu tentang yang baik dan jahat, namun tidak seperti yang mereka sangka. Allah memberi batas bagi manusia. Manusia dapat mengetahui banyak hal, tetapi siapakah yang memutuskan apa yang terbaik bagi manusia: Allah yang menciptakan manusia atau ciptaan yang diciptakannya? Sekarang manusia menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Ini berarti pemberontakan melawan Sang Pencipta. Ia mengambil keputusan-keputusan itu selaku ciptaan, tanpa kebijaksanaan dan pandangan sang pencipta.
Konsekuensi paling langsung dari dosa laki-laki dan perempuan adalah kesadaran bahwa mereka telanjang, yang ingin mereka atasi dengan membuat cawat dari daun pohon (ay. 7). Usaha mereka sia-sia. Ketika Allah bertanya, “dimanakah engkau?”, mereka malah menjelaskan mengapa ia bersembunyi, “karena aku telanjang”. Alasan itu tepat, tetapi tidak benar. Ia tidak telanjang, ia sudah berpakaian dengan daun pohon ara. Dalam hubungannya dengan Allah, ia telanjang. Hubungannya dengan Allah telah terganggu dan akan terus demikian. Manusia tidak dapat memulihkan kesalahan dan rasa malunya sendiri, dan tidak bisa memperbaiki hubungannya dengan Allah. Pada Kej. 21 disebutkan “Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka”. Ini berarti hanya Allah sendiri yang dapat menghapus rasa malu dan rasa bersalah manusia10.
Sebenarnya, Allah menghendaki kita untuk senantiasa bahagia dan bebas. Kita pada dasarnya adalah baik, tapi kita menyerahkan diri dalam pencobaan dan dosa. Dosa asal, konkupisensia, mengakibatkan pengalaman asali lain. Adanya konkupisenia membuat kita berat/sulit untuk menentukan pilihan-pilihan yang benar, ada kejahatan yang terasa begitu menarik. Kita berjuang untuk menghindari yang buruk, namun kita sering menemukan kesulitan untuk mengejar hal-hal baik. Dosa mengakibatkan retaknya relasi manusia dengan Allah dan sesamanya.

III. Empat Kualitas Kehadiran Manusia
3.1. Kehadiran Manusia Sebagai Sebuah Simbol
Dimensi positif dari original solitude adalah manusia memahami bahwa dirinya berbeda dari ciptaan yang lain. Manusia mengerti bahwa ia lebih superior. Sedangkan dimensi negatif dari original solitude adalah manusia tidak menemukan tubuh lain yang seperti dirinya (Kej. 2:20).
Sebagaimana binatang-binatang ciptaan Allah, manusia juga memiliki tubuh. Namun tubuh manusia itu berbeda. Selain dalam hal bentuk, warna, dan bagian-bagian lain yang tampak, keberbedaan manusia juga mengungkapkan sesuatu yang melebihi ke”tubuh”an manusia. Manusia memiliki dimensi invisible di mana kita dapat berfikir, berkomunikasi secara intim dengan Allah, mengetahui, dan mencintai. Semua aktivitas itu tidak bisa dilakukan oleh binatang. Kita memiliki dimensi visible dan invisible, itulah yang dimaksud dengan human body is simbolic.
Sebuah simbol menghadirkan sesuatu yang invisible. Namun, sebuah simbol adalah sesuatu yang terlihat sehingga dengan segera menarik perhatian kita, dan itu nyata. Sebuah simbol menghubungkan dunia yang tampak dengan yang tak tampak, visible and invisible. Tubuh manusia itu simbolik artinya tubuh manusia itu memilik kapasitas untuk menunjukkan sesuatu yang melebihi ketubuhannya sendiri. Maka ketika kita berpikir tentang seorang teman, kita tidak hanya berpikir tentang apa yang tampak yakni tubuh teman kita, melainkan juga personalitas, karakter, ketrampilan, dll. Tubuh manusia menghadirkan keseluruhan pribadi, visible and invisible.

3.2. Kehadiran Manusia Yang Relasional
Segera setelah Adam melihat Hawa, ia mengetahui bahwa ada sesuatu yang berbeda. Di situ ada tubuh yang lain yang mana ia dapat berhubungan secara intim. Itu memaksudkan bahwa mereka dapat menjadi satu. Tubuh laki-laki dan perempuan nampak berbeda. Tubuh laki-laki lebih kuat, lebih berotot, dan lebih keras, sedangkan tubuh perempuan lebih gemulai dan lebih lembut. Secara seksual laki-laki dan perempuan juga berbeda. Ini tampak jelas dari genital laki-laki dan perempuan. Persatuan genital laki-laki dan perempuan melukiskan persatuan menjadi satu daging.
Yohanes Paulus II mengungkapkan bahwa human body dimaksudkan untuk cinta. Tubuh manusia itu dicipta untuk tujuan relationship. Seorang laki-laki dan perempuan menemukan bahwa mereka saling tertarik satu sama lain. Mereka tidak hanya tertarik secara fisik, namun juga secara spiritual. Mereka menikah dan bersatu secara seksual. Tindakan mereka itu baik secara fisik maupun spiritual mengungkapkan bahwa tubuh adalah simbolis. Ketika mereka bersatu, mereka mengungkapkan diri sebagai makhluk simbolis. Mereka saling menyentuh, mengucapkan kata cinta. Lewat tindakan dan kata-kata, mereka saling mengkomunikasikan cinta. Laki-laki dan perempuan tidak lagi dapat saling mengabaikan satu sama lain, karena kehadiran mereka merupakan realitas yang interindependent.11
Karena manusia itu simbolis maka persetubuhan adalah ungkapan komunikasi visible dan invisible manusia. Yohanes Paulus II mengatakan bahwa seks itu bentuk unik dari bahasa, Sex is body language.12 Tubuh manusia dicipta bukan hanya untuk kenikmatan sensual, karena tubuh manusia lebih dari pada sesuatu yang sensual saja. Tubuh manusia dicipta untuk cinta. “Saya mengungkapkan cintaku, kenyataan spiritual profanku dalam dan lewat tubuhku”.13
Seks adalah aktivitas tubuh yang memiliki bahasa. Seks mengatakan bahasa kenikmatan sensual, namun seks juga mengungkapkan bahasa spiritual yaitu bahasa cinta. Dengan saling menyentuh, saling mendengarkan, saling memandang, dan saling memasukkan dan menerima, laki-laki dan perempuan berkomukasi begitu intim.

3.3. Kehadiran Manusia Yang Bebas dan Jatuh
Sebelum dosa asal, tubuh dan juga pribadi manusia itu bebas. Ketelanjangan adalah simbol kebebasan dalam komunikasi. Kej. 2:25 menyebutkan bahwa manusia dan istrinya itu telanjang dan tidak malu. Ini menunjukkan ketidakberdosaan asali. Kita juga melihat bahwa untuk mengasihi, pribadi manusia harus bebas. Kebebasan adalah prasyarat bagi cinta. Tanpa kebebasan, manusia (pria dan perempuan) tak dapat saling memberikan dan menerima cinta.
Manusia diberi kebebasan. Namun ia tidak tahu bagaimana harus menggunakan kebebasan itu. Ia mau berjalan menurut kehendaknya sendiri dan tidak melibatkan kebijaksanaan Allah. Ia ingin mengetahui apa yang baik dan buruk, tetapi sesungguhnya ia tidak mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya. Ia bagaikan seorang anak kecil yang belum dewasa untuk menentukan apa yang terbaik bagi hidupnya. Karena tak melibatkan kebijaksanaan Allah, manusia jatuh pada dosa. Dosa ini menyebabkan keretakan relasi antara manusia dengan Allah, dan manusia dengan sesamanya.
Tubuh manusia bukanlah penyebab dosa. Dosa menjadi milik kodrat rohani. Namun karena kita adalah satu: tubuh dan jiwa, maka dosa mempengaruhi tubuh. Kita semua akan mengalami kodrat manusia yang jatuh dalam cara yang radikal yaitu ketika kita mati. Kematian merupakan konsekuensi dari dosa asal. Selain kematian, salah satu konsekuensi dari dosa asal ialah hasrat seksual yang tak beraturan14. Misalnya, seorang laki-laki dapat bernafsu kepada perempuan. Ia dapat melihatnya hanya sebatas objek seksual, sesuatu yang dapat dipakai untuk memberi kesenangan sesaat dan kemudian dibuang. Kita memandang perempuan hanya sebatas atribut fisiknya saja dan melupakan dimensinya yang tak kelihatan. Dengan kata lain, dosa dapat membuatnya sulit untuk melihat betapa tubuh manusia adalah simbol. Kita dapat melihat tantangan sekarang ini, banyak televisi, majalah, dan website yang menonjolkan perempuan hanya pada segi tubuhnya.

3.4. Kehadiran Manusia Yang Tertebus
Manusia telah berdosa, dan ia telah kehilangan rahmat yang memampukannya berpartisipasi dalam kodrat ilahi. Dengan usahanya sendiri, ia tak dapat memulihkan keretakan hubungannya dengan Allah. Oleh sebab itu, diperlukan kuasa lain yang mampu mengembalikan keharmonisan relasi itu. Allah berinisiatif untuk memperbaiki keterpisahan hubungan ini.
Kristus melalui kematian dan kebangkitannya, merestorasi keberadaan dan tubuh manusia. TubuhNya disalibkan. Ia mempersembahkan tubuhNya di salib sebagai tindakan kasih bagi kita. Kematian tubuhNya ialah alasan pembaharuan tubuh kita. Kristus menyelamatkan dan menebus kita dari kesulitan untuk mengejar hal-hal baik. Manusia dipanggil melalui misteri penebusan Kristus. Dalam penebusan, kita harus berlalu dari kesalahan kepada kebenaran, dari dosa kepada kemurnian. Kemurnian berarti hidup menurut hatinya15. Keutamaan kemurnian adalah ekspresi dan buah dari hidup menurut Roh.
Sebagai orang yang sudah ditebus, Rasul Paulus sangat menekankan pentingnya hidup menurut Roh. “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging” (Gal 5:15). Keinginan daging cenderung menjauhkan diri dari kehendak Allah, “karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan” (I Tes 4:3). Allah tidak memanggil kita untuk melakukan apa yang cemar, tetapi apa yang kudus. Kecemaran menjadi antitesis bagi kesucian dan kemurnian.
Yesus menegaskan pentingnya sebuah kemurnian dari dalam, “inner purity”. “Kamu telah mendengar: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat. 5:27-28). Yesus menggambarkan dimensi yang lebih dari yang tampak, yaitu dimensi psikologis dan keberadaan manusia sebagai subjek. Perempuan sering dipandang hanya sebagai objek pemuas nafsu seksual laki-laki. Walaupun tindakan ini masih tersembunyi dalam hati, ia telah berzinah di dalam hatinya. Intensi sering menggerakkan kehendak untuk berbuat. Intensi ini menjadi dasar dari kehendak dan kemungkinan untuk memilih dan memutuskan. Hasrat dari dalam menjadi sebuah intensionalitas yang mentransformasi sebuah keberadaan konkret.
Sejak permulaan, sebenarnya laki-laki dan perempuan dipanggil untuk hidup dalam persatuan. Persatuan yang sejajar hanya terjadi jika keduanya hadir sebagai subjek. Persatuan ini membutuhkan kondisi yang memungkinkan satu sama lain bebas untuk mengungkapkan dirinya. Dan kebebasan ini diletakkan di atas dasar cinta kasih. St. Paulus mengingatkan, “kamu telah dipanggil untuk merdeka. Maka janganlah mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Gal. 5:13-14). Ia meletakkan kebebasan kita di bawah kasih. Kasih menjadi dasar bagi kebebasan kita. Paulus mengingatkan kita pada kemungkinan untuk menggunakan kebebasan kita secara salah. Kristus merealisasikan kebebasan dan menemukan kepenuhannya dalam kasih.
IV. Cinta Kasih Poros Relasi Perempuan dan Laki-laki
IV.1. Manusia adalah Pribadi yang Visible dan Invisible
Tubuh manusia adalah simbol. Sebuah simbol menghubungkan dunia yang tampak dengan yang tak tampak. Tubuh manusia itu simbol artinya tubuh manusia itu memiliki kapasitas untuk menunjukkan sesuatu yang melebihi ketubuhannya sendiri. Apakah kapasitas yang melebihi ketubuhan itu? Dalam PL kapasitas manusia itu terbagi atas empat unsur:16
1. Basar yaitu badan wadak manusia.
2. Ruah yaitu nafas kehidupan yang diberikan Allah. Ruah inilah sumber disposisi yang mengarahkan manusia pada Allah sehingga manusia dapat mengikutiNya.
3. Nefes memaksudkan kehidupan. Nefes juga melukiskan manusia sebagai ciptaan yang hidup, bertanggung jawab, dan terarah pada hal yang baik.
4. Leb artinya hati atau arti luasnya kehidupan afektif. Ini menunjuk pada manusia sebagai ciptaan rasional dan bebas.
Tubuh manusia yang tampak itu adalah sebuah simbol. Itu adalah sebuah simbol dari basar, ruah, nefes, dan leb. Namun itu bukanlah suatu bagian-bagian yang terpisah, melainkan suatu keutuhan. Keutuhan tubuh itu menghadirkan keseluruhan pribadi manusia, baik visible maupun invisible.17
Apakah relasi ke-simbol-an manusia itu dengan cinta kasih laki-laki dan perempuan? Sebagaimana kami ungkap, manusia adalah pribadi yang visible, tampak, nyata, namun juga invisible, tak tampak. Paradigma demikian itu memiliki implikasi yang sangat tajam dalam hubungannya dengan cinta kasih laki-laki dan perempuan. Cinta kasih yang didasari oleh paradigma itu, akan menghadirkan suatu kualitas cinta kasih yang bukan hanya ragawi, atau afektif saja namun juga cinta kasih yang transenden juga. Sebaliknya manakala cinta laki-laki dan perempuan hanya di dasarkan pada tubuh melulu, maka tatkala tubuh itu tidak menarik lagi maka cinta itu pudar. Lebih dari itu, tatkala orang memandang relasi cinta laki-laki dan perempuan hanya didasarkan pada soal tubuh melulu, maka sebenarnya ia merendahkan keutuhan pribadi manusia.
Implikasi lebih lanjut dari paradigma yang keliru atas tubuh manusia itu adalah manusia menjadi obyek tak ubahnya dengan barang. Itulah yang menjadi akar dari penindasan, pembedaan martabat, konsep konco wingking, dan lain-lain. Sebaliknya manakala cinta kasih didasari oleh paradigma yang benar atas tubuh manusia, maka cinta kasih itu menjadi poros yang akan mengatasi masalah pengobyekan, penindasan, pembedaan martabat manusia, dan lain-lain.
IV.1. Tubuh Manusia Untuk Cinta
Tubuh manusia dimaksudkan Allah untuk cinta, untuk saling menerima dan memberi, “accepting and giving” 18. Adam menerima Hawa sekaligus memberikan dirinya kepada Hawa dan keduanya menjadi satu daging. Sebaliknya Hawa menerima Adam dan memberikan dirinya kepada Adam dan keduanya menjadi satu daging. Ini juga melukiskan adanya suatu komunitas, komunikasi timbal-balik sejak awal mula penciptaan. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa komunitas itu dikehendaki oleh Allah sendiri sejak awal mula.
Tubuh manusia bukan dimaksudkan untuk menguasai atau mengobyekkan yang lain. Tubuh adalah “bahasa”, sebagaimana Sex is body language.19 Dengan tubuh, manusia mengkomunikasikan dirinya. Seks adalah bahasa tubuh, maka seks sendiri bukan hanya melulu soal kenikmatan seksual melainkan komunikasi bahasa spiritual yaitu bahasa cinta laki-laki dan perempuan. Dengan saling menyentuh, saling mendengarkan, saling memandang, dan saling memasukkan dan menerima, laki-laki dan perempuan berkomukasi begitu intim.
Apakah relasi paham tubuh manusia untuk cinta dengan relasi laki-laki dan perempuan? Kiranya menjadi jelas bahwa paham tubuh manusia untuk cinta itu semakin menegaskan bahwa relasi laki-laki dan perempuan pada dasarnya terarah untuk cinta, giving receiving. Komunikasi laki-laki dan perempuan dan juga keberadaan mereka dari asal mulanya adalah untuk saling mencinta.

IV.2. Kehendak Bebas dan Ke-tanpa-malu-an
Kejadian 2:25 mengatakan bahwa manusia dan istrinya itu telanjang dan tidak malu. Ini menunjukkan bahwa manusia berada dalam ketidakberdosaan asali. Ketelanjangan manusia dan isterinya itu adalah simbol kebebasan. Mereka bebas berkomunikasi tanpa dipengaruhi oleh soal tubuh dan segala aksesorisnya. Mereka belum memiliki kecenderungan ke arah dosa. Kehendak bebas mereka semua terarah kepada kebaikan semata. Karena kesecitraan mereka dengan Allah belum ternodai oleh dosa. Lebih dari itu, manusia berada dalam keadaan rahmat. Ia berada dalam relasi yang intim dengan Allah.
Namun manakala manusia sudah jatuh dalam dosa, kehendak bebas manusia harus berperang dengan kecenderungannya ke arah dosa. Akibat lebih parah dari kejatuhan dalam dosa itu adalah retaknya relasi menusia dengan Allah, manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam semesta, dan dirinya sendiri. Kecenderungannya ke arah dosa membuat manusia ingin “semau gue”. Ia mau berjalan menurut kehendaknya sendiri dan tidak melibatkan kebijaksanaan Allah.
Kehendak bebas manusia itu sangat mempengaruhi pilihan tindakannya. Untuk mencintai sesamanya, ia harus mengarahkan kehendak bebasnya. Tanpa mengarahkan kehendak bebasnya untuk mencintai, ia tidak dapat mencintai sesamanya. Karena itu, kebebasan adalah prasyarat bagi cinta. Tanpa kebebasan, manusia (pria dan perempuan) tak dapat saling memberikan dan menerima cinta.
Apakah hubungan dari kehendak bebas manusia dengan relasi laki-laki dan perempuan? Keserupaan manusia dengan Allah itu mengejawantah salah satunya dalam kehendak bebas manusia. Kehendak bebas manusia itu merupakan prasyarat relasi cinta laki-laki dan perempuan. Relasi cinta mereka itu dengan demikian juga pengejawantahan dari kesecitraan manusia dengan Allah.

IV.3. Kejatuhan atau Kedosaan Manusia
Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia kehilangan rahmat yang memampukannya berpartisipasi dalam kodrat ilahi. Akibatnya, manusia memiliki kecenderungan ke arah dosa (konkupisensia). Relasi cinta yang intim manusia dengan Allah, sesama, alam dan diri sendiri, sebagaimana dalam taman Eden, retak. Oleh karena itu, manusia menjadi bernafsu untuk menguasai dan menindas yang lain. Laki-laki dan perempuan saling menyalahkan, tidak ada di antara mereka yang mau mengalah. Jadi itulah akar dari adanya diskriminasi, penindasan, penganiayaan, dan lain-lain. Relasi cinta yang intim dengan Allah, sesama, alam dan diri sendiri itu, perlu dipulihkan kembali. Bagaimana caranya?
Manusia tidak dapat memulihkan relasi yang telah rusak itu dengan usaha dan kekuatannya sendiri. Manusia memerlukan kuasa dari pribadi lain untuk mengembalikan keharmonisan relasi itu. Allah yang dapat memperbaiki keretakan relasi itu. Penyaliban, wafat, dan kebangkitan Kristus adalah wujud inisiatif Allah untuk memperbaiki relasi yang retak itu. Salib adalah wujud cinta Allah yang sehabis-habisnya bagi manusia dan sekaligus juga undangan bagi manusia yang telah jatuh dalam dosa untuk memperbaharui relasinya yang retak oleh dosa. Oleh karena itu, cinta kasih merupakan poros relasi laki-laki dan perempuan.

V. Kesimpulan
Dewasa ini ada banyak gerakan gender yang memperjuangkan hak-hak perempuan yang tercabut. Kesemuanya menyerukan penyamaan martabat dan hak. Mengapa gerakan-gerakan itu bermunculan? Penyebabnya adalah karena banyaknya penindasan perempuan. Penindasan itu misalnya penganiayaan para PRT, pemerkosaan, perdagangan perempuan, pemerasan, dan lain-lain. Dalam disposisi demikian itu, perempuan menjadi korban yang paling dirugikan. Akibatnya ada keterpisahan antara perempuan dan laki-laki.
Pengobyekan perempuan oleh laki-laki atau golongan lain, dengan dalih apapun, pada dasarnya adalah penyangkalan atas jati diri manusia. Karena jati diri manusia yang visible dan invisible, dan juga terarah pada cinta kasih demi kesempurnaan kemanusiaannya, diobrak-abrik. Penyebab dari semua itu akhirnya adalah tidak adanya cinta kasih. Manakala ada cinta, maka tak mungkin terjadi penindasan dan pengobjekan perempuan.
Cinta kasih adalah poros relasi antara laki-laki dan perempuan. Dikatakan menjadi poros karena cinta kasih inilah yang bisa menjadi titik tolak dan dasar untuk mengatasi masalah pengobyekan perempuan atau satu golongan tertentu oleh laki-laki ataupun golongan yang lain. Lebih dari itu, cinta kasih itu menjadi poros bukan secara fungsional saja, melainkan juga secara fundamental. Dikatakan secara fundamental karena cinta kasih (berada dalam relasi yang intim dengan Allah, sesama, alam dan diri sendiri), itulah keberadaan asali manusia. Kejatuhan manusia ke dalam dosalah yang menyebabkan manusia itu, menindas yang lain.
Implikasinya, pandangan bahwa perempuan hanyalah “konco wingking” atau pelengkap, dan obyek dari laki-laki harus ditolak. Sebaliknya cinta kasih harus dipromosikan terus menurus. Promosi itu hendaknya, bukan hanya menekankan segi fungsional cinta kasih yaitu untuk meng-counter bentuk-bentuk penindasan dan pengobyekan, melainkan juga dengan menekankan segi fundamentalnya yaitu memahaminya sebagai keberadaan asali manusia dan merupakan kehendak Allah sendiri. ( Yulianus Gunawan, CM)

DAFTAR PUSTAKA

Sumber

Handoko, Petrus Maria, Dicipta Untuk Dicinta: Antropologi Teologis Fundamental, Malang: STFT Widya Sasana, 1996.
Paul II, John, The Theology of The Body: Human Love In The Divine Plan, Boston: Pauline Books and Media, 1997.
Percy, Anthony, The Theology of The Body Made Simple: Discover John Paul II’s radical teaching on sex, love, and the meaning of life, Paulines: Philipines, 2006.

Pendukung

Benediktus XVI, Deus Caritas Est (terj. Piet Go), Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2006.
Bergant, Dianne dan Robert J. Karris (eds.), Tafsir Alkitab Perjanjian lama, Yogyakarta: kanisius, 2002.
Hill, Edmund, Being Human: A Blibical Perspektif, London: Geoffrey Cahpman, 1984.
Iman Katolik, Jakarta: Konferensi Wali Gereja Indonesia, 1996.
Jo Torjasen, Karen, “Reconstruction of Woman’s Early Christian History”, dalam Elisabeth Schussler Florenza (ed.), Searching The Scriptures, Volume I: A Feminist Introduction, London: SCM Press Ltd, 1994.
Paulus II, Yohanes, Mulieris Dignitatem, (alih bahasa: Konrad Ujan), Jakarta: Departemen Dokumentasi Penerangan KWI, 1994.
Richter Reimer, Ivoni, Women in The Acts of The Apostles: A Feminist Liberation Perpectives, USA: Fortress Press, 1995.
Watson, Francis, Agape, Eros, Gender: Towards a Pauline Sexual Ethic, Cambridge: The Press Syndicate of The University, 2000.

One Response

  1. Lengkap banget blog ini. Semoga semakin rajin menginspirasi sesama. Salam kenal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: