Tantangan Kesetiaan Hidup Berkomunitas

Dalam Suratnya pada tanggal 27 September 1984 kepada para Anggota Kongregasi Misi, Richard McCullen mengungkapkan bahwa “Tingkat kesetiaan kita terhadap peraturan dan semangat Konstitusi ini pasti akan sangat menentukan besarnya sumbangan kita kepada kehidupan Gereja setempat (lokal) tempat Kongregasi kita melibatkan diri”. Surat ini merupakan sambutan atas pengesahan Konstitusi Kongregasi oleh Kongregasi Suci untuk Religius dan Lembaga Sekular 29 Juni 1984.
Sambutan Richard McCullen itu merupakan undangan dan penegasan yang masih aktual hingga saat ini. Undangan dan penegasan bagi para anggota Kongregasi Misi untuk setia terhadap panggilan, tujuan, dan cara hidup sebagaimana digariskan oleh Konstitusi. Dengan demikian dapat memberikan sumbangan yang berdaya guna bagi Gereja setempat.
Panggilan Kongregasi Misi (CM) adalah mengikuti Yesus Sang Pewarta Kabar Gembira kepada kaum miskin. Tujuannya adalah mewartakan kabar gembira keselamatan kepada kaum miskin. Dalam rangka menjawabi panggilan itu, Kongregasi Misi memilih bentuk hidup komunitas sebagai cara hidup bagi anggota kongregasi.
Dalam Vita Consecrata; Anjuran Apostolis tentang Hidup Bakti bagi para religius yang dikeluarkan pada Hari Raya Santa Perawan Maria menerima Warta Gembira 25 Maret 1996, Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa “Hidup bersaudara dalam arti hidup bersama dalam cinta kasih merupakan lambang yang jelas bagi persekutuan gerejawi”. Hidup bersaudara juga merupakan “ruang yang disinari oleh Allah, untuk mengalami kehadiran tersembunyi Tuhan yang Bangkit mulia” (bdk Mat 18:20) (VC art 42). Karena itu, Bapa Suci menegaskan pula bahwa “hidup bersaudara memainkan peranan yang mendasar dalam perjalanan rohani para anggota hidup bakti, baik demi pembauran mereka terus menerus maupun untuk sepenuhnya menjalankan misi mereka dalam masyarakat” (VC art 45).
Dewasa ini secara umum, kesetiaan terhadap cara hidup komunitas sebagaimana digariskan dalam Konstitusi Kongregasi Misi, menghadapi banyak tantangan yang berat. Tantangan kesetiaan terhadap hidup komunitas itu adalah:
1. Individualisme. Paham ini menempatkan pribadi atau perseorangan sebagai yang utama dan urusan tertinggi. Kepentingan pribadi menjadi dasar dan norma hidup yang paling tinggi. Secara praktis, penerapan paham yang berpusat pada pribadi perseorangan, dapat dengan mudah jatuh kearah sikap “semau gue”. Padahal dari kodratnya, manusia adalah makhluk sosial. Untuk hidup dan mencapai kepenuhannya, manusia memerlukan orang lain.
Secara positif paham individualis, bisa dikatakan membawa pribadi pada kesadaran-kesadaran akan kebebasan dan hak pribadinya, akan kekuatan dan kelemahannya, dan secara spiritual akan anugerah Allah yang diterimanya.
Secara negatif, pengagungan individualitas mengakibatkan pribadi menjadi egois; mengukur segala sesuatu hanya bertumpu pada dirinya saja. Akibat lebih lanjut dari perspektif demikian itu adalah sulit ada dialog, kerjasama, dan sikap saling memahami satu sama lain.
Akibat negatif dari individualisme ini tentu sangat besar dalam hidup komunitas. Komunikasi yang semestinya menumbuhkan pribadi-pribadi dalam komunitas dengan demikian sulit terjalin. Komunikasi jadinya hanya bersifat fungsional dan dilakukan sejauh tidak mengganggu kepentingan pribadiku. Arah kepentingan bersama atau proyek bersama menjadi kurang dipentingkan. Padahal pelayanan sebagai Imam atau Bruder CM (kaum religius) berarti pemberian diri bagi orang lain. Dengan kata lain mementingkan pelayanan bagi orang Miskin.
Di sisi lain, fenomena aktivisme para anggota hidup religius bisa jadi hanya sebuah obsesi pribadi dan pemenuhan kebutuhan pribadi. Jadi bukan dihayati sebagai pelayanan bagi Allah dalam sesama dan GerejaNya.
2. Mobilitas yang tinggi. Seiring dengan mobilitas masyarakat yang demikian cepat, yang juga berarti mobilitas umat yang cepat, dan dengan semakin mudahnya sarana transportasi dan komunikasi, maka “wilayah kerja” dari para anggota Kongregasi Misi (komunitas) juga meluas. Bukan lagi wilayah parokinya saja, melainkan meluas seturut jaringan relasi dan kebutuhan pastoral yang ada. Fenomenanya misalnya: imam sering meninggalkan tempat tugas utamanya untuk memberikan seminar, retret, rekoleksi di luar kota, dll. Akibatnya komunitas seringkali ditinggalkan.

Dari dua tantangan di atas, pertanyaan yang muncul adalah: bagaimanakah membangun kesetiaan terhadap hidup komunitas pada zaman individualistis, mobilitas umat yang tinggi dan jaringan relasi yang luas ini? Kemudian, bagaimanakah hidup komunitas yang tepat di zaman ini? Apakah uniformitas masih bermakna? Kalau demikian bagaimana menghadapi perbedaan karakter pribadi, perbedaan minat kerasulan, perbedaan RAS, dll.? Bagaimanakah pada zaman ini membangun kesetiaan hidup komunitas sebagaimana digariskan oleh Konstitusi Kongregasi Misi? Ada dua hal mendasar yang perlu diperjuangkan anggota komunitas yaitu:

Kembali Kepada Panggilan Awal; Roh Komunitas
“Penghargaan lebih besar terhadap pedoman hidup pasti akan memberi kepada para anggota hidup bakti tolok ukur yang andal dalam usaha mereka menemukan bentuk-bentuk kesaksian yang cocok, mampu menanggapi kebutuhan-kebutuhan zaman tanpa meninggalkan ispirasi perdana Tarekat” (VC art 37) dan “Bila para anggota hidup bakti secara konsisten dan sepenuhnya menghayati komitmen-komitmen yang mereka sanggupi dengan sukarela, mereka mampu memberikan jawaban terhadap kerinduan hati sesama …” (VC art 103). Tingkat kesetiaan terhadap hidup berkomunitas sebagaimana dalam peraturan dan semangat Konstitusi sangat membantu mengembangkan kehidupan Gereja setempat.
Dasar dari spiritualitas adalah Allah yang memanggil atau mengundang dan manusia yang menjawab. Jawaban manusia sesuai dengan kepribadian, zaman dan kebutuhannya suatu jawaban yang terungkap dalam aneka sikap dan perbuatan. Maka bagaimana manusia membangun kesetiaan hidup komunitas? Menurut penulis adalah dengan ”kembali ke panggilan awal”.
”Kembali kepada panggilan awal” memaksudkan kembali kepada semangat awal yang membuat pribadi-pribadi berkumpul dan bersatu, juga dikumpulkan dan disatukan oleh Tuhan untuk misi yang sama dan dalam ”wadah” yang sama. Semangat awal yang menggerakkan ”aku” pribadi untuk bersatu dengan pribadi lain dalam misi dan ”wadah” yang sama dan panggilan Tuhan untuk bersatu dengan yang lain untuk melaksanakan misi yang sama dalam wadah yang salam. Dengan kata lain kembali kepada kehendak Tuhan yang memanggil ”aku” pribadi dan kembali pada komitmen awal untuk menjawab panggilan Tuhan.

Berakar Pada Pengalaman akan Allah
Komunitas secara sosiologis adalah kumpulan pribadi-pribadi. Mengapa pribadi-pribadi dalam komunitas kurang setia terhadap hidup komunitas? Akar komunitas adalah panggilan Allah secara pribadi dan tanggapan secara pribadi. Maka kesetiaan terhadap hidup komunitas pertama-tama berakar pada pribadi-pribadi dalam komunitas. Sejauh mana kekuatan dan kelemahan iman pribadi-pribadi dalam komunitas itu. Tanpa pengalaman akan Allah dalam diri anggota komunitas, maka kehadiran komunitas itu tidak mempunyai makna apa-apa lagi. Segala kerasulan komunitas baik dibidang pewartaan, sosial, ekonomi dan lain-lain, tanpa iman akan Allah adalah sia-sia. Semua itu perlu didasarkan dan diinspirasikan oleh iman.
Dalam pengalaman akan Allah yang mengasihi kita tanpa batas, tanpa alasan dan dalam iman akan Dia, maka komunitas dapat menyerahkan seluruh hidupnya demi mengikuti Kristus sang pewarta Kabar Gembira kepada orang miskin. Hanya dalam kasih yang berkobar-kobar kepada Allahlah, maka individualisme dan mobilitas dapat diatasi, demikian juga godaan kekuasaan, uang, konsumerisme, dan hedonisme dapat ditanggulangi. Demikian pula tanpa pengalaman akan Allah dan tanpa motivasi yang bersumber pada iman, maka semua perubahan dalam komunitas sulit diwujudkan.
Apakah pengalaman akan Allah itu? Pengalaman akan Allah adalah pengalaman akan kehadiran Allah yang dekat, personal, dan memenuhi diri manusia dengan cinta yang melimpah sehingga manusia mengalami sukacita yang mendalam dan memiliki energi yang mendalam untuk mencintai Allah. Maka pengalaman akan Allah juga merupakan pengalaman dicintai oleh Allah. Pengalaman demikan inilah yang akan memberikan dasar atau pondasi bagi hidup pribadi manusia untuk hidup seperti Allah yang pengasih.
Pengalaman akan Allah hidup dan bertumbuh hanya berkat hidup rohani yang mendalam yang disuburkan dan didukung oleh doa dan perayaan sakramental. Namun perlu dipahami bahwa hidup rohani bukanlah kumpulan kegiatan ibadat, bukan juga perasaan-perasaan sentimentil yang bersumber pada agama, melainkan hidup berdasarkan iman, harapan dan kasih. Tanpa pengalaman akan Allah doa menjadi menjemukan dan perutusan menjadi aktivisme dan komunitas menjadi tempat perlindungan yang tidak nyaman.
Biarawan dan biarawati millenium ketiga harus menjadi orang yang menbenamkan indentitasnya dalam pengalaman akan Yesus Kristus. Suatu pengalaman yang menggairahkan, yang mengundang pada pertobatan dan mengundang untuk berjalan bersama Dia … hidup bakti kita harus dijamin oleh hidup rohani yang menjadi unsur pemersatu, hidup rohani yang dijiwai sepenuhnya oleh Roh, yang dijamin dan dipelihara oleh Sabda, Ekaristi dan doa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: