“HARAPAN ITU SELALU ADA JENDRAL!”

Demikianlah ucapan yang kerapkali muncul saat kami bermain kartu dalam rekreasi komunitas. Ucapan itu terungkap manakala sejumlah kartu yang kami pegang sangat tidak bersahabat sehingga kemungkinan kami tidak akan mendapat tambahan poin. Dalam kondisi tanpa harapan itu, kami masih berharap bahwa saat kami mengambil kartu lagi dari tumpukan kartu yang tersisa, kami akan mendapatkan Joker atau kartu yang bagus. Tidak jarang apa yang kami harapkan itu betul-betul terwujud. Semuanya terjadi di luar kekuasaan kami. Tergantung pas untung atau tidak (Bejo-bejan) karena kami tidak tahu kartu apa yang akan kami dapat.

Beberapa waktu yang lalu kami mengunjungi seorang pasien HIV di Rumah Sakit Dr. Soetomo – Surabaya. Dalam kunjungan itu, dia menceritakan bahwa awalnya dia sangat terkejut saat hasil permeriksaan medis menyatakan bahwa dirinya menderita penyakit HIV. Selama beberapa hari ia sangat malu bertemu dengan keluarga yang datang mengunjunginya. Ia sangat terpukul. Namun setelah beberapa hari bergulat dengan perasaan-perasaan dan juga kekhawatiran-kekhawatirannya akan isteri dan anaknya, ia diteguhkan oleh kesetiaan isterinya dan cinta anak-anaknya. Ia masih ingin hidup menemani anak isterinya. Namun ia juga tahu bahwa penyakit yang ia alami belum ada obatnya. Dan dari pasien yang ada di sekitar ruangannya, ia tahu bahwa mereka akhirnya mati karena penyakit ini. Maka ia pasrah pada Tuhan. Ia berdoa dan berserah diri pada Tuhan. Memang secara manusiawi, ia tak bisa sembuh, namun kalau Tuhan mau, ia percaya bahwa ia pasti bisa sembuh.

Dalam permainan kartu, harapan dalam situasi “tanpa harapan” itu tergantung pada untung atau tidak untung. Tak lebih dari itu. Kalau untung, poin yang diperoleh akan bertambah; kalau tidak untung, maka poin akan semakin terpuruk. Demikian pula situasi “tanpa harapan” yang dialami oleh pasien HIV itu berada di luar kontrol dirinya. Namun yang membedakan adalah pengontrol itu bukan “nasib” atau untung / tidak untung, melainkan kuasa Tuhan. Kuasa Dia yang dapat membalik keadaannya. Maka ia hanya bisa berharap dan berpasrah padaNya. Memang secara medis itu tak mungkin, namun kalau Tuhan mau, Ia akan dapat mengubah semuanya.

Situasi tanpa harapan pasien itu diletakkan di hadapan Dia yang mempunyai kuasa untuk menyembuhkan dan membalik keadaannya. Bukan di hadapan keberuntungan. Ini sangat berbeda. Lebih dari itu, Dia yang memiliki kuasa untuk membalik keadaan adalah Dia yang Mahatahu, Mahabaik, Mahakasih; Dia yang tak pernah meninggalkan orang yang berkesusahan.

Harapan itu selalu ada dan harus selalu ada dalam diri kita bahkan dalam situasi yang tanpa harapan. Namun harapan itu harus kita letakkan dengan benar di hadapan Dia yang memiliki kuasa mengubah keadaan; Dia yang Mahatahu, Mahabaik, dan Mahakasih. Dalam Dia segalanya mungkin. Amin. (Surabaya 24 April 2009, Fr. Gunawan, CM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: