Semuanya semata-mata demi kemuliaan Allah

yesus“Papua adalah tanah terberkati”, itulah slogan yang digulirkan Zending
dan hingga kini diamini masyarakat Papua. Itu pula ungkapan para pewarta Injil pertama di Papua. Injil masuk Papua (lebih tepatnya Gereja Protestan pertama masuk di Papua) pada 5 Februari 1855 bersamaan dengan kedatangan dua orang pendeta: Carl W. Ottow (1826-1862) dan J. G. Geissler (1830-1870) di pulau masinam dekat Manokwari. Dalam usaha mewartakan Injil di Papua,
problem yang mereka hadapi adalah:
– Masalah komunikasi; sulit untuk mengungkapkan maksud kedatangannya. Sementara masyarakat tak ada yang berani mendekat. Cara untuk menarik hati mereka adalah dengan barter. Menukarkan barang-barang yang mereka bawa (piring, gelas, cangkir, dll.) yang menurut penduduk Papua saat itu adalah barang asing. Cara ini cukup efektif untuk memulai kontak dan menjalin komunikasi dengan masyarakat.
– Masalah kuatnya adat istiadat yang bagi dua pendeta itu bertentangan dengan nilai-nilai Injil.
– Masalah berbagai penyakit yang timbul yakni cacar dan malaria yang mengancam hidup penduduk dan mereka berdua. Mereka memberikan obat pada masyarakat.

Awal Misi Gereja Katolik
Pendaratan Pater Cornelis Le Cocq d’Aramandville SJ di kampung Sekeru (penghasil pala) dekat Fak-fak pada tgl 22 Mei 1894, dianggap sebagai awal misi Gereja Katolik di Papua. Umat pertama di Papua berada di stasi Kapaur Fak Fak. Di tempat itulah untuk pertama kalinya umat katolik berkembang di Papua.
Problem yang dihadapi Pater Cornelis Le Cocq, SJ, ketika memulai misi Gereja Katolik di Papua adalah:
– Masalah komunikasi dengan masyarakat. Tidak bisa saling bicara dan mengenal karena bahasa yang berbeda. Solusinya adalah mengunjungi orang-orang setempat dari rumah ke rumah, kebun ke kebun. Dia berusaha mengenal orang-orang. Sapaan dengan bahasa yang terbatas, senyuman dan sentuhan penuh kasih menjadi sarana komunikasi. Sambil terus belajar bahasa setempat dengan dialog dengan masyarakat. Lalu masyarakat mulai mengenalnya sebagai orang yang baik. Maka merekapun mulai berani belajar agama katolik.
– Masalah medan yang jauh dan alat transportasi yang terbatas.
– Masalah ancaman dibunuh dari masyarakat yang tidak suka.
– Setelah iman katolik di terima di Fakfak, yang pertama dibangun dalam misi itu adalah sekolah. Pada bulan Januari 1925, seorang guru diutus ke fak fak (Benediktus Renyaan). Kemudian pada tahun 1928 P Caspers mulai mengajar agama. Dan pada tanggal 28 April 1929, pastor itu bersama seorang guru Paulus Letsoin, memulai mendirikan sekolah di Sakertemin.

Semangat dan Cinta akan Misi Mewartakan Kabar Gembira Keselamatan kepada Semua Orang yang dimiliki oleh para misionaris awal, menguatkan para misionaris awal dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Ad Maiorem Dei Gloriam. Semuanya semata-mata demi kemuliaan Allah. (guns)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: