Audiensi Umum Paus Fransiskus Pada Hari Lingkungan Hidup

tumbuh
Tuhan Allah menciptakan semesta alam untuk kehidupan seluruh umat manusia. Kekayaan alam dan lingkungan bukan untuk dikuasai dan memperkaya kelompok tertentu. Tuhan Allah menghendaki manusia  menguasai dan mengatur semesta alam untuk kehidupan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, tua anak-anak… dan bukan untuk uang atau keuntungan sebanyak-banyaknya kelompok tertentu.
Dear brothers and sisters, good morning!
Today I want to focus on the issue of the environment, which I have already spoken of on several occasions. Today we also mark World Environment Day, sponsored by the United Nations, which sends a strong reminder of the need to eliminate the waste and disposal of food.
When we talk about the environment, about creation, my thoughts turn to the first pages of the Bible, the Book of Genesis, which states that God placed man and woman on earth to cultivate and care for it (cf. 2:15). And the question comes to my mind: What does cultivating and caring for the earth mean? Are we truly cultivating and caring for creation? Or are we exploiting and neglecting it? The verb “to cultivate” reminds me of the care that the farmer has for his land so that it bear fruit, and it is shared: how much attention, passion and dedication! Cultivating and caring for creation is God’s indication given to each one of us not only at the beginning of history; it is part of His project; it means nurturing the world with responsibility and transforming it into a garden, a habitable place for everyone. Benedict XVI recalled several times that this task entrusted to us by God the Creator requires us to grasp the rhythm and logic of creation. But we are often driven by pride of domination, of possessions, manipulation, of exploitation; we do not “care” for it, we do not respect it, we do not consider it as a free gift that we must care for. We are losing the attitude of wonder, contemplation, listening to creation; thus we are no longer able to read what Benedict XVI calls “the rhythm of the love story of God and man.” Why does this happen? Why do we think and live in a horizontal manner, we have moved away from God, we no longer read His signs. Continue reading

Let’s go to the Poor

”We must do what is most agreeable to God. Therefore, we must do what our Lord Jesus Christ did when preaching the Gospel. Let us go to the poor.” (Baunard, Correspondence, p.65)

Seharusnyalah kita melakukan apa yang paling disukai oleh Tuhan. Karenanya, kita harus melakukan apa yang dinyatakan oleh Tuhan kita, Yesus Kristus, dalam mewartakan Injil. Marilah kita datang kepada mereka yang miskin.

Pertanyaan yang timbul dalam hati setelah membaca pernyataan Frederic Ozanam ini adalah:

Siapakah orang miskin bagiku? Beranikah aku melihat adanya kemiskinan di sekitarku? Beranikah aku berbuat sesuatu terhadap kemiskinan tersebut?

Papua Oh Papua

DSC_0116Papua oh Papua
Gelap kulitmu, kaya dan subur bumimu, kaya dan indah lautmu,
Ungkap keagungan Sang Pencipta

Papua oh Papua
Berat, mahal, dan jauhnya jalan menuju Gereja-gerejamu,
Undang tuk miliki cinta seperti keagungan cinta Sang Pemilik Hidup

Papua oh Papua
Cucuran keringat, kekar dan berotot badanmu,
Singkap mutiara-mutiara hidup di tengah sunyinya belantara dan kerasnya perjuangan hidup,
di tengah miskinnya fasilitas dan terbatasnya hubungan

Papua oh Papua
Bening matamu dan gelak tawamu
Ungkap ketulusan dan sukacita dalam pengharapan

Ku Yakin Rencana BaikMu

kartun-yesusTuhan Engkau kekuatanku dan pusat hidupku s’lamanya

Kau mengenal kebutuhanku dan kerinduanku saat ini

Kupersembahkan, kupercayakan

S’luruh hidupku hanya padaMu

Karna kuyakin rencana baikMu

Makna:

Seperti Matahari yang memberikan sinar bagi semua orang,

demikianlah Allah juga memiliki rencana yang indah bagi kita manusia.

Jadilah kehendakMu dalamku Tuhan, itulah kerinduanku.

By gunscm

TUHAN JADIKANLAH AKU PELAYAN KASIH

Dimana ada kemiskinan,

jadikanlah aku pelayan kekayaan cinta kasih.

Dimana ada penyakit,

jadikanlah aku pelayan penyembuhan ilahi.

Dimana ada pencacatan,

jadikanlah aku pelayan pembaharuan.

Dimana ada keterhambatan,

jadikanlah aku pelayan harapan.

Dimana ada keterlantaran,

jadikanlah aku pelayan persaudaraan.

Dimana ada nafsu dan dosa,

jadikanlah aku pelayan kemurnian.

Dimana ada kesusahan,

jadikanlah aku pembawa hiburan.

Dimana ada kesedihan,

jadikanlah aku pembawa kegembiraan.

Dimana ada kekerasan,

jadikanlah aku pembawa kelembutan.

Dimana ada pemerasan,

jadikanlah aku pembawa kemurahan hati.

Dimana ada pemerkosaan hak,

jadikanlah aku pembawa keadilan. Continue reading

“HARAPAN ITU SELALU ADA JENDRAL!”

Demikianlah ucapan yang kerapkali muncul saat kami bermain kartu dalam rekreasi komunitas. Ucapan itu terungkap manakala sejumlah kartu yang kami pegang sangat tidak bersahabat sehingga kemungkinan kami tidak akan mendapat tambahan poin. Dalam kondisi tanpa harapan itu, kami masih berharap bahwa saat kami mengambil kartu lagi dari tumpukan kartu yang tersisa, kami akan mendapatkan Joker atau kartu yang bagus. Tidak jarang apa yang kami harapkan itu betul-betul terwujud. Semuanya terjadi di luar kekuasaan kami. Tergantung pas untung atau tidak (Bejo-bejan) karena kami tidak tahu kartu apa yang akan kami dapat.

Beberapa waktu yang lalu kami mengunjungi seorang pasien HIV di Rumah Sakit Dr. Soetomo – Surabaya. Dalam kunjungan itu, dia menceritakan bahwa awalnya dia sangat terkejut saat hasil permeriksaan medis menyatakan bahwa dirinya menderita penyakit HIV. Selama beberapa hari ia sangat malu bertemu dengan keluarga yang datang mengunjunginya. Ia sangat terpukul. Namun setelah beberapa hari bergulat dengan perasaan-perasaan dan juga kekhawatiran-kekhawatirannya akan isteri dan anaknya, ia diteguhkan oleh kesetiaan isterinya dan cinta anak-anaknya. Ia masih ingin hidup menemani anak isterinya. Namun ia juga tahu bahwa penyakit yang ia alami belum ada obatnya. Dan dari pasien yang ada di sekitar ruangannya, ia tahu bahwa mereka akhirnya mati karena penyakit ini. Maka ia pasrah pada Tuhan. Ia berdoa dan berserah diri pada Tuhan. Memang secara manusiawi, ia tak bisa sembuh, namun kalau Tuhan mau, ia percaya bahwa ia pasti bisa sembuh. Continue reading

Keutamaan Yesus Kristus menurut Vinsensius

1. SIMPLISITAS – KESEDERHANAAN

  • Kesederhanaan pertama-tama adalah soal relasi kita dengan Tuhan. Karena kita ini hidup, bergerak dan ada hanya dalam Dia (Kis 17:28), maka sederhana sekali seharusnya hidup kita juga hanya tertuju kepadaNya. “Berbahagialah orang yang murni hatinya karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8).

  • Tidak mendua hati, hanya tunggal yakni bagi Tuhan dan kehendakNya.

  • Dalam hidup sehari-hari keutamaan ini adalah tentang memilih cara yang benar untuk melakukan sesuatu. Kita harus membuatnya sebagai prinsip yang suci, tanpa kecuali, karena kita berkarya bagi Allah, maka kita akan selalu memilih cara Allah untuk melaksanakan karya kita, melihat dan menilai segala hal dari sudut pandang Kristus bukan dari kebijaksanaan duniawi; dan bukan dari pemikiran kita sendiri (SV-CR II,4-5) Continue reading