Kecenderungan Yang Dijiwai Nafsu

Ilustrasi-carapedia.com_Kecenderungan yang dijiwai nafsu dapat ditemukan di mana-mana, dan bukan hanya dalam usaha mencari sanjungan dunia, kekayaan, kenikmatan, tetapi juga dalam devosi, dalam tindakan-tindakan paling suci, dalam buku-buku, dalam gambar-gambar; singkatnya kecenderungan itu menyusup kemana-mana.

Ya Tuhanku,berilah kami rahmat untuk melepaskan diri dari kecenderungan-kecenderungan yang dijiwai nafsu agar kami mampu mengasihi Engkau secara lebih sempurna, Engkaulah sumber segala keutamaan dan kesempurnaan serta musuh kecenderungan yang dijiwai nafsu; berilah kami semangat bermatiraga dan rahmat mengalahkan cinta diri yang merupakan akar semua kecenderungan kami yang dijiwai nafsu. Amin
(Dalam Bimbingan Vinsensius V hal 95, Terjemahan: S. Ponticelli, CM)

Ketaatan kita tak boleh terbatas …

“Ketaatan kita tak boleh terbatas hanya terhadap mereka yang mempunyai hak untuk memerintah kita, tetapi dutyharus melangkah lebih jauh. Kita akan tetap taat sebagaimana diwajibkan bagi kita, itu kita hayati sebagaimana disarankan oleh Santo Petrus: “Kita tunduk kepada semua orang demi kasih kepada Allah.” Maka marilah melaksanakan pesan ini dan memandang semua orang lain sebagai pemimpin kita dan untuk itu marilah memandang kita lebih rendah daripada mereka, malah lebih rendah daripada yang paling kecil, dan marilah memberi hormat lebih dahulu kepada mereka dengan menghargai mereka, dengan memberi perhatian dan dengan segala macam pelayanan. Oh! Betapa indah bila Allah berkenan meneguhkan kita dalam sikap ini!” (Sumber: Dalam Bimbingan Santo Vinsensius V, S. Ponticelli, CM, Penerjemah,  hal 91).

Alasan paling mendalam dari ketaatan kita pada tujuan SSV adalah Allah sendiri. Continue reading

“Kadang-kadang satu kata yang lembut sudah cukup untuk mempertobatkan orang”

Bila terjadi perdebatan melawan seseorang, sanggahan-sanggahan yang terarah padanya menunjukkan dengan jelas kepada dia bahwa yang dikehendaki oleh lawannya itu ialah kemenangan; karena itu dia mempersiapkan diri untuk bertahan, daripada mengakui kebenaran; sehingga melalui perdebatan seperti ini tidak diusahakan agar hati terbuka, malah pada umumnya pintu hati ditutup; sedangkan kelembutan dan keramahan membuka pintu hati. Dalam hal ini kita mempunyai satu contoh yang bagus dalam pribadi Fransiskus dari Sales yang bahagia itu; dia sangat pandai dalam perdebatan, namun demikian lebih banyak orang bidat yang dipertobatkan berkat kelembutannya daripada berkat ilmunya. Mengenai ini Bapak Kardinal du Perron berkata bahwa dirinya sesungguhnya mengakui mempunyai kemampuan untuk meyakinkan orang-orang bidat, tetapi hanyalah Bapak Uskup Geneve yang mampu mempertobatkan mereka. Ingatlah dengan baik para Romo, kata-kata S. Paulus kepada S. Timoteus, misionaris besar: Servum Domini non oportet Litigare (Hamba Tuhan tidak boleh bertengkar. 2 Tim.2:24), bahwa sama sekali tidak perlu, bagi seorang hamba Yesus Kristus menggunakan pertentangan dan perdebatan; dan saya dapat berkata bahwa tidak pernah mendengar atau melihat seorang bidat telah bertobat berkat kekuatan perdebatan, tidak juga berkat ketajaman argumentasi, melainkan berkat kelembutan. Ini membuktikan bahwa keutamaan ini benar-benar mempunyai kekuatan untuk merebut orang-orang bagi Allah. (Dalam Bimbingan Santo Vinsensius V, hal. 86)

* “Kadang-kadang satu kata yang lembut sudah cukup untuk mempertobatkan orang yang sudah mengeras kaku dalam kesalahannya dan sebaliknya satu kata kasar saja mampu merusak satu jiwa dan mengakibatkan rasa sakit hati yang bisa sangat merugikan.

* Tidak ada orang yang lebih tekun dan kuat dalam kebaikan daripada mereka yang lembut dan ramah, karena mereka bertindak tidak terdorong oleh perasaan sesaat atau oleh kemarahan.

* Bila seorang merasa digerakkan oleh kemarahan, hendaknya berhenti bertindak dan juga berhenti berbicara, dan terutama jangan mengambil keputusan apapun, sampai nafsu itu menjadi tenang, karena perbuatan yang dilakukan dibawah pengaruh pergolakan hati itu, tidak diatur sepenuhnya oleh akal.