Kekuatan Cinta

Tiga bulan menjelang diwisuda, musibah itu terjadi. Pesawat yang dikemudikan Dwi Krismawan dan Sigit Hani, sang instruktur, menabrak punggung Gunung Gede dan jatuh terbakar. Hampir satu setengah jam calon pilot dan instrukturnya itu harus berjuang melepaskan diri dari api yang membakar hampir sekujur tubuh mereka. “Saya sempat dua kali pingsan dan dua kali siuman. Ketika berhasil lolos dari jepitan seatbelt dan keluar dari kokpit, seluruh wajah dan sebagian tubuh saya sudah hangus terbakar,“ tutur Dwi Krismawan yang akrab dipanggil Kris ini. Delapan jam kemudian tim penyelamat berhasil mengevakuasi kedua korban. Keduanya selamat. Tetapi, semua itu membawa dampak besar dalam kehidupan mereka selanjutnya. “Wajah saya harus dioperasi 25 kali supaya berbentuk lagi,“ ungkapnya.

Continue reading

Keajaiban Cinta

Tatang Sugiharto dan keluarga shock luar biasa ketika tahu yang membunuh anaknya adalah Asep. Apalagi anak perempuannya dibunuh dengan sadis dalam keadaan hamil. Dia sulit menerima kenyataan bahwa Asep, anak angkat yang sudah dianggap anak sendiri itulah, yang menghamili sang putri tercinta dan membunuhnya. Kekuatan cinta kadang sulit diduga. Continue reading

Cinta Kasih: Poros Relasi Laki-laki dan Perempuan

Refleksi atas Pengalaman Asali Manusia

I. Pengantar
Para feminist memperjuangkan persamaan hak dan peran perempuan dengan laki-laki. Dengan menyimak perjuangan mereka, kita tergugah untuk mengerti peran dan hakekat manusia sebagai perempuan dan laki-laki. Dalam rentang waktu yang panjang, sejarah memang memihak laki-laki. Di banyak budaya, tendensi androsentris menempatkan laki-laki di depan sedangkan perempuan di belakang, laki-laki berada di ruang publik, sedangkan perempuan di ruang privat yang tertutup.1 Kecenderungan ini telah membudaya sehingga membentuk sebuah ideologi yang mendominasi perempuan.
Dari awal mula, Allah menciptakan manusia menurut citraNya. Ia menciptakan laki-laki dan perempuan dengan martabat yang sama dan sederajat. Adanya perbedaan tidaklah dimaksudkan untuk menempatkan yang satu lebih tinggi dari yang lain. Kita tidak menemukan adanya tendensi awali bahwa laki-laki lebih tinggi martabatnya dari pada perempuan. Namun dalam pengalaman nyata, penomorduaan, perlakuan tak adil dan perampasan hak perempuan oleh laki-laki menjadi realitas keseharian yang seolah-olah lazim di tengah masyarakat. Balutan budaya lokal kiranya menjadi salah satu penyebab adanya keadaan itu.
Manakala kita dalam kaca mata kita sekarang menilik sejumlah kisah relasi antara laki-laki dan perempuan dalam Kitab Suci, yang tentu dibalut oleh konteks budaya setempat, kita seolah-olah menemukan pembenaran atas pembedaan martabat antara laki-laki dan perempuan. Kalau demikian, apakah memang ada tendensi bahwa apa yang terjadi saat ini adalah penerusan dari apa yang terjadi sejak awal mula. Bagaimana kita memahami itu semua? Apakah yang menjadi poros harmonisasi relasi perempuan dan laki-laki?
Untuk itu, penulis ingin meneliti hal-hal itu dengan melihat pengalaman asali manusia dan akibat-akibatnya. Sumbernya adalah audiensi Paus Yohanes Paulus II sejak tahun 1979-1984. Dalam audiensi itu, Paus Yohanes Paulus II banyak mengulas relasi antara laki-laki dan perempuan. Hasil audiensi ini kemudian dikumpulkan dalam sebuah dokumen berjudul: The Theology of The Body. Untuk sistematikanya kami mereferensi “ringkasan” audiensi Paus yang tulis oleh Antony Percy. Dalam beberapa poin penting dari ringkasan itu, Percy mengungkapkan empat pengalaman asali dan empat kualitas kehadiran manusia. Continue reading

Kepiting dan Pertapa

Suatu ketika di sore hari yang sejuk, nampak seorang pertapa muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai. Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak beraturan.
Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera melihat ke arah tepi sungai, sumber suara tadi berasal. Ternyata, di sana nampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang deras. Continue reading

Kisah Pak Suyatno

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak suyatno memandikan, Continue reading