“Kadang-kadang satu kata yang lembut sudah cukup untuk mempertobatkan orang”

Bila terjadi perdebatan melawan seseorang, sanggahan-sanggahan yang terarah padanya menunjukkan dengan jelas kepada dia bahwa yang dikehendaki oleh lawannya itu ialah kemenangan; karena itu dia mempersiapkan diri untuk bertahan, daripada mengakui kebenaran; sehingga melalui perdebatan seperti ini tidak diusahakan agar hati terbuka, malah pada umumnya pintu hati ditutup; sedangkan kelembutan dan keramahan membuka pintu hati. Dalam hal ini kita mempunyai satu contoh yang bagus dalam pribadi Fransiskus dari Sales yang bahagia itu; dia sangat pandai dalam perdebatan, namun demikian lebih banyak orang bidat yang dipertobatkan berkat kelembutannya daripada berkat ilmunya. Mengenai ini Bapak Kardinal du Perron berkata bahwa dirinya sesungguhnya mengakui mempunyai kemampuan untuk meyakinkan orang-orang bidat, tetapi hanyalah Bapak Uskup Geneve yang mampu mempertobatkan mereka. Ingatlah dengan baik para Romo, kata-kata S. Paulus kepada S. Timoteus, misionaris besar: Servum Domini non oportet Litigare (Hamba Tuhan tidak boleh bertengkar. 2 Tim.2:24), bahwa sama sekali tidak perlu, bagi seorang hamba Yesus Kristus menggunakan pertentangan dan perdebatan; dan saya dapat berkata bahwa tidak pernah mendengar atau melihat seorang bidat telah bertobat berkat kekuatan perdebatan, tidak juga berkat ketajaman argumentasi, melainkan berkat kelembutan. Ini membuktikan bahwa keutamaan ini benar-benar mempunyai kekuatan untuk merebut orang-orang bagi Allah. (Dalam Bimbingan Santo Vinsensius V, hal. 86)

* “Kadang-kadang satu kata yang lembut sudah cukup untuk mempertobatkan orang yang sudah mengeras kaku dalam kesalahannya dan sebaliknya satu kata kasar saja mampu merusak satu jiwa dan mengakibatkan rasa sakit hati yang bisa sangat merugikan.

* Tidak ada orang yang lebih tekun dan kuat dalam kebaikan daripada mereka yang lembut dan ramah, karena mereka bertindak tidak terdorong oleh perasaan sesaat atau oleh kemarahan.

* Bila seorang merasa digerakkan oleh kemarahan, hendaknya berhenti bertindak dan juga berhenti berbicara, dan terutama jangan mengambil keputusan apapun, sampai nafsu itu menjadi tenang, karena perbuatan yang dilakukan dibawah pengaruh pergolakan hati itu, tidak diatur sepenuhnya oleh akal.

Advertisements

LENTERA JIWA

pelitaPernahkah anda merasa bahwa aktivitas atau pekerjaan rutin yang anda lakukan selama ini adalah sesuatu yang tidak sejalan dengan kata hati, walaupun secara materi anda terpenuhi?
Bagi penyanyi Nugie, pilihan hidup itu haruslah sesuai dengan kata hatinya. Karena itu ia rela meninggalkan bangku kuliahnya di Universitas Indonesia dan memilih untuk menjadi musisi—sebuah kehidupan yang pada awalnya kurang direstui orang tua. ”Ibu saya selalu berharap saya menyelesaikan kuliah dan menjadi sarjana,” kata Nugie.
Nugie menyadari, bukan hanya dirinya yang menghadapi kegalauan saat menentukan jalan hidup. Banyak orang, terutama anak muda yang seringkali bingung dalam menentukan hidupnya dari mulai memilih pendidikan, sampai profesi. Kegundahan inilah yang kemudiann ia refleksikan dalam sebuah karya lagunya ”Lentera Jiwa”. Sebuah lagu tentang seseorang yang merasa terperangkap dalam situasi yang salah. Uniknya, model dari video klip lagu ini adalah mereka yang benar-benar pernah mengalaminya.
Misalnya saja, salah satu model video tersebut adalah Wahyu Aditya. Pria yang biasa dipanggil Adit ini adalah anak dari seorang Profesor yang menginginkan putranya, jadi seorang dokter atau paling minim menyandang gelar sarjana. Tapi Adit menolaknya dan memilih untuk mengikuti kata hatinya, yakni menjadi seniman animasi. ”Dulu orang tua bingung dengan pilihan saya, tapi kini saya buktikan bahwa tanpa gelar sarjana dan hanya jadi seniman saya bisa bahagia,” kata animoator yang sering mendapat penghargaan ini.
Di sisi lain, banyak juga orang yang merasa sudah lama tersesat dalam kehidupan yang tidak diinginkannya dan kemudian segera banting stir untuk mengubahnya. Sebut, Helmi Yahya. Pria asal Palembang ini adalah seorang lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), tapi ia mengaku tak pernah punya cita-cita jadi akunting. ”Waktu itu ayah saya sudah tak mampu membiayai, jadi saya banting stir cari sekolah yang tak harus keluar biaya, jadi saya pindah dari IPB ke STAN” katanya. Continue reading

Kelembutan Hati

* “Kadang-kadang satu kata yang lembut sudah cukup untuk mempertobatkan orang yang sudah mengeras kaku dalam kesalahannya dan sebaliknya satu kata kasar saja mampu merusak satu jiwa dan mengakibatkan rasa sakit hati yang bisa sangat merugikan.
* Tidak ada orang yang lebih tekun dan kuat dalam kebaikan daripada mereka yang lembut dan ramah, karena mereka bertindak tidak terdorong oleh perasaan sesaat atau oleh kemarahan.
* Bila seorang merasa digerakkan oleh kemarahan, hendaknya berhenti bertindak dan juga berhenti berbicara, dan terutama jangan mengambil keputusan apapun, sampai nafsu itu menjadi tenang, karena perbuatan yang dilakukan dibawah pengaruh pergolakan hati itu, tidak diatur sepenuhnya oleh akal.

Sumber, Dalam Bimbingan Vinsensius (Surat-surat Vinsensius V) Penterjemah: S. Ponticelli,CM.