Tuhan Penopang Kesetiaan Iman Kita

Kisah Para Rasul 3:13-15.17-19yesus-gendong-bayi1
Lukas 24:35-48

Siapakah yang usia baptisannya sudah 60 tahun, 50 tahun, 1 bulan, 3 minggu. Apa yang menjadi penopang kesetiaan iman kita hingga saat ini? Kerajinan kita ke Gereja? Bukankah kita kadang seperti tidak menemukan apa-apa ketika ke Gereja? Bukankah kita kadang tidak ikut misa?, Kerajinan kita doa pribadi? Bukankah kita kelelahan dan tidak berdoa, bukankah kita kadang melamun saat doa?, Kerajinan doa lingkungan? Bukankah kita kadang tak ikut kegiatan lingkungan?
Penopang kesetiaan iman kita adalah Tuhan sendiri. Tuhanlah yang selalu setia. Dia setia mengingatkan kita untuk ke Gereja, menguatkan niat kita untuk ke Gereja, ke lingkungan, doa pribadi dst. Dia selalu menuntun kita lewat pengalaman dan peristiwa yang ada di sekitar kita. Kadang Dia mengajar kita untuk setia berdoa lewat pengalaman anak yang mau ujian, pengalaman kesusahan, teguran dari teman dst.
Roh memang kuat namun badan ini lemah. Roh Tuhanlah yang berkarya mengingatkan dan mengajar kita untuk kembali kepadaNya. Tuhanlah yang selalu setia membuka hati kita akan Dia. Namun kelemahan kita kerap membuat kita tertutup untuk menerima aliran kekuatan dari Tuhan yang menuntun kita. Continue reading

Advertisements

Percaya itu bukan merasa percaya

Matius 9:27-31
“Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata, “Terjadilah padamu menurut imanmu.”

Dalam Injil Matius 9:27-31, diceritakan bahwa ada dua orang buta yang berseru-seru kepada Yesus, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Percayakah kalian bahwa Aku dapat melakukannya?” mereka menjawab “Ya Tuhan kami percaya.” Karena iman mereka pada Yesus, Yesus menyembuhkan mereka.

Kita kadang merasa bahwa kita sudah percaya pada Yesus. Kita lupa bahwa kepercayaan itu bukan di kepala melainkan di hati. Dan kita lupa kalau sudah mempercayakan semuanya itu kepada Tuhan berarti kita menyerahkan semuanya pada kehendak Tuhan apakah apa yang kita minta dikabulkan atau tidak. Kalau dikabulkan kita terima, kalau belum dikabulkan oleh Tuhan tetap kita terima. Yang sering terjadi adalah kalau permohonan belum dikabulkan, kita lalu mulai menggerutu. Padahal kalau sudah menggerutu, itu berarti kepercayaan kita pada Tuhan melemah. Karena dengan demikian bukan lagi terserah Tuhan, permohonan kita dikabulkan atau tidak, melainkan apa yang saya kehendaki harus dikabulkan oleh Tuhan. Kalau demikian kita bukan lagi percaya kepada Tuhan melainkan memaksa Tuhan.

Percaya kepada Tuhan berarti kita percayakan, kita serahkankan apa yang menjadi kerinduan dan kehendak kita kepada Tuhan terserah Tuhan diberikan atau tidak. Toh Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita saat ini. Karena Dia menyelidiki dan mengenal kita (Mzm 139). Kalau yang menjadi kerinduan dan kehendak kita dikabulkan atau tidak kita tetap menerimanya. Itulah tanda orang yang sungguh percaya kepada Tuhan. Itulah tanda orang yang beriman.