Semuanya semata-mata demi kemuliaan Allah

yesus“Papua adalah tanah terberkati”, itulah slogan yang digulirkan Zending
dan hingga kini diamini masyarakat Papua. Itu pula ungkapan para pewarta Injil pertama di Papua. Injil masuk Papua (lebih tepatnya Gereja Protestan pertama masuk di Papua) pada 5 Februari 1855 bersamaan dengan kedatangan dua orang pendeta: Carl W. Ottow (1826-1862) dan J. G. Geissler (1830-1870) di pulau masinam dekat Manokwari. Dalam usaha mewartakan Injil di Papua,
problem yang mereka hadapi adalah:
– Masalah komunikasi; sulit untuk mengungkapkan maksud kedatangannya. Sementara masyarakat tak ada yang berani mendekat. Cara untuk menarik hati mereka adalah dengan barter. Menukarkan barang-barang yang mereka bawa (piring, gelas, cangkir, dll.) yang menurut penduduk Papua saat itu adalah barang asing. Cara ini cukup efektif untuk memulai kontak dan menjalin komunikasi dengan masyarakat.
– Masalah kuatnya adat istiadat yang bagi dua pendeta itu bertentangan dengan nilai-nilai Injil.
– Masalah berbagai penyakit yang timbul yakni cacar dan malaria yang mengancam hidup penduduk dan mereka berdua. Mereka memberikan obat pada masyarakat.

Continue reading

Advertisements

Dialog Antar Agama Sebagai Dialog Profetis

1. Pengantar

Dewasa ini semakin disadari pentingnya menafsirkan teks Kitab Suci sesuai dengan konteks. Hidup dan karya Yesus sebagaimana dikisahkan keempat Injil perlu ditafsirkan dan diwartakan dalam konteks saat ini. Misi pewartaan Injil itu melekat pada hakekat Gereja (Bdk AG 2). Misi berarti “nama, ajaran, hidup, dan janji-janji, Kerajaan Allah dan misteri Yesus dari Nazaret” (EN 22) diwartakan. Namun pewartaan itu perlu diwujudkan dalam sikap hormat kepada kebudayaan dan konteks setempat. Maka sangat diperlukan suatu model pewartaan tertentu bagi konteks tertentu. Bagaimanakah model misi yang tepat untuk konteks Indonesia? Continue reading