Papua Oh Papua

DSC_0116Papua oh Papua
Gelap kulitmu, kaya dan subur bumimu, kaya dan indah lautmu,
Ungkap keagungan Sang Pencipta

Papua oh Papua
Berat, mahal, dan jauhnya jalan menuju Gereja-gerejamu,
Undang tuk miliki cinta seperti keagungan cinta Sang Pemilik Hidup

Papua oh Papua
Cucuran keringat, kekar dan berotot badanmu,
Singkap mutiara-mutiara hidup di tengah sunyinya belantara dan kerasnya perjuangan hidup,
di tengah miskinnya fasilitas dan terbatasnya hubungan

Papua oh Papua
Bening matamu dan gelak tawamu
Ungkap ketulusan dan sukacita dalam pengharapan

Semuanya semata-mata demi kemuliaan Allah

yesus“Papua adalah tanah terberkati”, itulah slogan yang digulirkan Zending
dan hingga kini diamini masyarakat Papua. Itu pula ungkapan para pewarta Injil pertama di Papua. Injil masuk Papua (lebih tepatnya Gereja Protestan pertama masuk di Papua) pada 5 Februari 1855 bersamaan dengan kedatangan dua orang pendeta: Carl W. Ottow (1826-1862) dan J. G. Geissler (1830-1870) di pulau masinam dekat Manokwari. Dalam usaha mewartakan Injil di Papua,
problem yang mereka hadapi adalah:
– Masalah komunikasi; sulit untuk mengungkapkan maksud kedatangannya. Sementara masyarakat tak ada yang berani mendekat. Cara untuk menarik hati mereka adalah dengan barter. Menukarkan barang-barang yang mereka bawa (piring, gelas, cangkir, dll.) yang menurut penduduk Papua saat itu adalah barang asing. Cara ini cukup efektif untuk memulai kontak dan menjalin komunikasi dengan masyarakat.
– Masalah kuatnya adat istiadat yang bagi dua pendeta itu bertentangan dengan nilai-nilai Injil.
– Masalah berbagai penyakit yang timbul yakni cacar dan malaria yang mengancam hidup penduduk dan mereka berdua. Mereka memberikan obat pada masyarakat.

Continue reading