Siapakah Gembalaku?

a22Yohanes 10:22-30
Orang Yahudi merayakan Hari Raya Pentahbisan Bait Suci. Yakni peringatan pentahbisan baru mezbah Bait Allah yang telah dinodai oleh Antiokhus Epifanes. Dalam 1 Raja-raja 8 Hari Raya itu mengingatkan Hari Raya pondok daun yang diadakan sebagai peringatan pentahbisan Bait Allah oleh Salomo.
Ketika Yesus berjalan-jalan di Bait Allah pada Hari Raya pentahbisan Bait Allah, Ia dikelilingi orang-orang Yahudi. Mereka meminta kejelasan dari Yesus tentang siapa Yesus. Yesus diminta mengatakan terus terang bahwa Dia Mesias kalau memang Dia Mesias. Lalu Yesus menjawab mereka: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama BapaKu, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya…”
Mereka tidak percaya karena konsep mereka tentang Mesias berbeda dengan yang diungkapkan oleh Yesus. Bagi mereka Mesias adalah tokoh politik yang memiliki kuasa rajawi di dunia. Seorang raja yang akan membebaskan Continue reading

Percaya itu bukan merasa percaya

Matius 9:27-31
“Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata, “Terjadilah padamu menurut imanmu.”

Dalam Injil Matius 9:27-31, diceritakan bahwa ada dua orang buta yang berseru-seru kepada Yesus, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Percayakah kalian bahwa Aku dapat melakukannya?” mereka menjawab “Ya Tuhan kami percaya.” Karena iman mereka pada Yesus, Yesus menyembuhkan mereka.

Kita kadang merasa bahwa kita sudah percaya pada Yesus. Kita lupa bahwa kepercayaan itu bukan di kepala melainkan di hati. Dan kita lupa kalau sudah mempercayakan semuanya itu kepada Tuhan berarti kita menyerahkan semuanya pada kehendak Tuhan apakah apa yang kita minta dikabulkan atau tidak. Kalau dikabulkan kita terima, kalau belum dikabulkan oleh Tuhan tetap kita terima. Yang sering terjadi adalah kalau permohonan belum dikabulkan, kita lalu mulai menggerutu. Padahal kalau sudah menggerutu, itu berarti kepercayaan kita pada Tuhan melemah. Karena dengan demikian bukan lagi terserah Tuhan, permohonan kita dikabulkan atau tidak, melainkan apa yang saya kehendaki harus dikabulkan oleh Tuhan. Kalau demikian kita bukan lagi percaya kepada Tuhan melainkan memaksa Tuhan.

Percaya kepada Tuhan berarti kita percayakan, kita serahkankan apa yang menjadi kerinduan dan kehendak kita kepada Tuhan terserah Tuhan diberikan atau tidak. Toh Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita saat ini. Karena Dia menyelidiki dan mengenal kita (Mzm 139). Kalau yang menjadi kerinduan dan kehendak kita dikabulkan atau tidak kita tetap menerimanya. Itulah tanda orang yang sungguh percaya kepada Tuhan. Itulah tanda orang yang beriman.