Cinta Kasih: Poros Relasi Laki-laki dan Perempuan

Refleksi atas Pengalaman Asali Manusia

I. Pengantar
Para feminist memperjuangkan persamaan hak dan peran perempuan dengan laki-laki. Dengan menyimak perjuangan mereka, kita tergugah untuk mengerti peran dan hakekat manusia sebagai perempuan dan laki-laki. Dalam rentang waktu yang panjang, sejarah memang memihak laki-laki. Di banyak budaya, tendensi androsentris menempatkan laki-laki di depan sedangkan perempuan di belakang, laki-laki berada di ruang publik, sedangkan perempuan di ruang privat yang tertutup.1 Kecenderungan ini telah membudaya sehingga membentuk sebuah ideologi yang mendominasi perempuan.
Dari awal mula, Allah menciptakan manusia menurut citraNya. Ia menciptakan laki-laki dan perempuan dengan martabat yang sama dan sederajat. Adanya perbedaan tidaklah dimaksudkan untuk menempatkan yang satu lebih tinggi dari yang lain. Kita tidak menemukan adanya tendensi awali bahwa laki-laki lebih tinggi martabatnya dari pada perempuan. Namun dalam pengalaman nyata, penomorduaan, perlakuan tak adil dan perampasan hak perempuan oleh laki-laki menjadi realitas keseharian yang seolah-olah lazim di tengah masyarakat. Balutan budaya lokal kiranya menjadi salah satu penyebab adanya keadaan itu.
Manakala kita dalam kaca mata kita sekarang menilik sejumlah kisah relasi antara laki-laki dan perempuan dalam Kitab Suci, yang tentu dibalut oleh konteks budaya setempat, kita seolah-olah menemukan pembenaran atas pembedaan martabat antara laki-laki dan perempuan. Kalau demikian, apakah memang ada tendensi bahwa apa yang terjadi saat ini adalah penerusan dari apa yang terjadi sejak awal mula. Bagaimana kita memahami itu semua? Apakah yang menjadi poros harmonisasi relasi perempuan dan laki-laki?
Untuk itu, penulis ingin meneliti hal-hal itu dengan melihat pengalaman asali manusia dan akibat-akibatnya. Sumbernya adalah audiensi Paus Yohanes Paulus II sejak tahun 1979-1984. Dalam audiensi itu, Paus Yohanes Paulus II banyak mengulas relasi antara laki-laki dan perempuan. Hasil audiensi ini kemudian dikumpulkan dalam sebuah dokumen berjudul: The Theology of The Body. Untuk sistematikanya kami mereferensi “ringkasan” audiensi Paus yang tulis oleh Antony Percy. Dalam beberapa poin penting dari ringkasan itu, Percy mengungkapkan empat pengalaman asali dan empat kualitas kehadiran manusia. Continue reading

Advertisements